KabarMasjid.id, Surabaya – Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan sejarah yang menakjubkan secara logika, melainkan sebuah transformasi spiritual yang mendalam bagi umat Islam. Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, nilai-nilai di balik perjalanan agung ini menawarkan kompas moral untuk memperkuat jati diri seorang Muslim. Melalui refleksi atas peristiwa ini, kita diajak untuk memahami bahwa setiap ujian hidup sejatinya adalah tangga menuju kedekatan yang lebih tinggi kepada Sang Pencipta.
Kajian inspiratif mengenai makna Isra Mi’raj ini dilaksanakan pada malam ke-27 bulan Rajab, bertepatan dengan Jumat, 16 Januari 2026, bertempat di Masjid Al Falah Surabaya. Menghadirkan Ustadz M. Yunus, S.I.P., M.Pd.I. sebagai narasumber, kajian ini secara khusus mengupas tema “Inspirasi Isra Mi’raj dalam Membangun Karakter Islam”. Beliau memaparkan bagaimana setiap fragmen perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Sidratul Muntaha harus dimaknai sebagai fondasi pembangunan kepribadian atau syahsiyatul islamiah.
Ustadz Yunus membuka kajian dengan mengingatkan bahwa Isra Mi’raj terjadi pada periode yang disebut Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Saat itu, Rasulullah SAW berada pada titik terendah dalam sisi kemanusiaan setelah wafatnya Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib. Penekanan ini memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa di balik kesusahan yang bertubi-tubi, Allah SWT seringkali menyiapkan “hadiah” besar berupa pengalaman spiritual yang tidak terlupakan.
Dalam tulisan ini, Ustadz Yunus juga menyoroti sosok Khadijah RA sebagai teladan karakter yang luar biasa. Khadijah bukan hanya mendukung secara finansial dengan kekayaannya yang melimpah, tetapi juga memberikan dukungan psikologis yang kokoh saat Rasulullah menerima wahyu pertama yang menggetarkan jiwa. Karakter pengorbanan total inilah yang menjadi salah satu inspirasi dalam membangun loyalitas terhadap kebenaran dan dakwah.
Penderitaan Rasulullah tidak berhenti pada kehilangan orang tercinta, namun berlanjut pada penolakan fisik saat berdakwah ke Thaif. Beliau tidak disambut dengan tangan terbuka, melainkan dilempari batu hingga terluka. Namun, karakter Islam yang ditunjukkan Nabi adalah tidak membalas dengan kebencian, melainkan dengan doa agar Allah memaafkan ketidaktahuan kaum tersebut. Ini adalah pelajaran tentang kerendahan hati dan introspeksi diri di tengah kezaliman.
Isra Mi’raj kemudian hadir sebagai bentuk rikhlah atau perjalanan hiburan dari Allah untuk menguatkan hati Sang Nabi. Perjalanan ini memberikan perspektif bahwa kekuasaan Allah jauh melampaui batas-batas dunia yang sempit. Bagi kita sekarang, peristiwa ini mengajarkan bahwa ketika dunia terasa menghimpit, solusi terbaik adalah memperluas cakrawala spiritual dan mendekatkan diri kepada zat yang menguasai alam semesta.
Kepasrahan dan keimanan tanpa ragu ditunjukkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq saat peristiwa ini terjadi. Ketika banyak orang menjadi murtad karena menganggap perjalanan tersebut tidak masuk akal secara empiris, Abu Bakar justru menjadi pembela utama. Karakter Siddiq atau membenarkan kebenaran tanpa syarat inilah yang perlu ditanamkan dalam diri setiap Muslim agar tidak mudah goyah oleh skeptisisme zaman.
Satu poin krusial yang dibahas adalah mengenai perintah shalat lima waktu sebagai oleh-oleh utama dari Sidratul Muntaha. Shalat bukan hanya sekadar kewajiban ritual, melainkan “mikraj”-nya orang beriman untuk berkomunikasi langsung dengan Allah. Dengan menjaga kualitas shalat, seorang Muslim sebenarnya sedang membangun jalur koneksi yang stabil untuk menjaga stabilitas mental dan spiritualnya setiap hari.
Mengutip kitab Dardir Mikraj, narasumber merangkum sebelas hal penting yang menjadi intisari karakter dari peristiwa ini. Di antaranya adalah pentingnya semangat jihad atau bersungguh-sungguh di jalan Allah serta urgensi menunaikan zakat. Nilai-nilai ini menjadi pilar utama dalam membangun masyarakat yang peduli dan berdaya secara sosial, bukan hanya saleh secara individu.
Selain itu, peristiwa Isra Mi’raj juga memberikan peringatan keras terhadap berbagai penyakit sosial dan moral. Rasulullah diperlihatkan gambaran buruk mengenai perzinaan, fitnah, dan sifat sombong. Dengan memahami konsekuensi dari perbuatan tersebut, seorang Muslim diharapkan mampu memproteksi dirinya dari aktivitas maksiat yang dapat merusak tatanan karakter dan kepribadiannya.
Hal lain yang menjadi sorotan dalam kajian ini adalah larangan keras terhadap praktik riba dan memakan harta anak yatim. Di era ekonomi modern, pesan ini sangat relevan untuk mengingatkan kita agar tetap menjaga integritas dalam mencari nafkah. Karakter Islam yang kuat harus tercermin dari kehalalan harta yang dikonsumsi dan cara kita memperlakukan orang-orang yang lemah di sekitar kita.
Sebagai penutup, Ustadz Yunus mengajak jemaah untuk menjadikan momentum peringatan Isra Mi’raj sebagai titik balik perbaikan diri. Membangun karakter Islam berarti menyatukan antara kekuatan iman, ketertiban ibadah, dan kemuliaan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Semoga refleksi ini membawa kita menjadi pribadi yang lebih tangguh dan senantiasa berada dalam naungan hidayah Allah SWT.
Sumber: Kajian Kamis Ba’da Maghrib di Masjid Al Falah Surabaya Bersama Ustadz M. Yunus, S.I.P., M.Pd.I. dengan tema “Inspirasi Isra Mi’raj dalam Membangun Karakter Islam”