Ingin Bahagia Dunia Akhirat? Amalkan 5 Kunci dari Kitab Nashaihul Ibad Ini

Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz
Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Masjid Nasional Al Akbar Surabaya kembali menggelar rutinitas spiritual yang menyejukkan hati melalui Kajian Kitab Nashaihul Ibad pada edisi 15 Desember 2025. Kajian yang berlangsung khidmat selepas salat Magrib ini menghadirkan Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz sebagai narasumber utama. Dalam ceramahnya, beliau membawa pesan-pesan mendalam tentang bagaimana seorang mukmin seharusnya menghiasi lisan dan hatinya dengan zikir untuk meraih kebahagiaan sejati.

Mengawali kajian, Ustadz Muzakki menekankan bahwa kebahagiaan di dunia ini sifatnya sangat terbatas dan tentatif, sementara kebahagiaan akhirat adalah tujuan yang abadi tanpa batas. Beliau mengutip maqalah ke-9 dari Abdullah bin Amr bin Ash yang merangkum lima kunci utama bagi siapa saja yang ingin selamat di kedua alam tersebut. Kunci-kunci ini bukan sekadar ucapan, melainkan bentuk komitmen spiritual seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Poin pertama yang ditekankan adalah pentingnya melazimkan kalimat tauhid, Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah, dari waktu ke waktu. Ustadz Muzakki menjelaskan bahwa tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah dan mampu menyelamatkan hamba dari keburukan selain zikrullah. Dengan memperbanyak zikir, seorang hamba akan selalu merasa dekat dengan Allah dalam setiap helai napasnya.

Selanjutnya, beliau menguraikan bagaimana seorang mukmin harus bersikap saat menghadapi ujian hidup. Alih-alih mengeluh, lisan yang terjaga akan mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun yang disempurnakan dengan kalimat Wala haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim. Kalimat ini merupakan pengakuan tulus bahwa segala kekuatan hanya bersumber dari Allah, sehingga hati tetap kokoh meski badai ujian menerpa.

Kunci kebahagiaan ketiga terletak pada rasa syukur yang diwujudkan dalam ucapan Alhamdulillah syukron linikmah setiap kali menerima nikmat. Ustadz Muzakki mengingatkan bahwa lisan yang sering memuji Allah akan menjauhkan seseorang dari sifat kufur nikmat. Beliau juga membagikan empat kalimat yang paling dicintai Allah, yaitu Subhanallah, Alhamdulillah, Lailahaillallah, dan Allahu Akbar, sebagai wirid yang ringan di lisan namun berat dalam timbangan amal.

Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, memulai segala sesuatu dengan Bismillahirrahmanirrahim adalah poin keempat yang tak boleh ditinggalkan. Setiap perkara baik yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah akan terputus dari keberkahan dan rahmat-Nya. Hal ini menjadi pengingat agar kita selalu melibatkan Allah dalam setiap rencana dan langkah yang kita ambil.

Poin kelima berkaitan dengan kejujuran hamba atas dosanya sendiri melalui kalimat Astagfirullahaladzim wa atubu ilaih. Ustadz Muzakki menyampaikan pesan mendalam bahwa penyakit utama manusia adalah dosa, dan obat penawar paling mujarab adalah istigfar. Beliau menyebutkan bahwa istigfar bukan hanya penghapus dosa, tetapi juga pembuka jalan keluar dari segala kerumitan hidup dan penarik rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Kajian semakin mendalam saat membahas tujuh kalimat kemuliaan dari Imam Faqih Abul Laits yang mampu memberikan “manisnya iman” bagi pelakunya. Kalimat-kalimat tersebut meliputi bismillah, alhamdulillah, astagfirullah, insyaallah, la haula wala quwwata illa billah, innalillah, serta lailahaillallah. Jika tujuh kalimat ini dijaga dengan konsisten, Allah menjanjikan pengampunan dosa seluas buih di lautan serta akhir hidup yang baik atau husnul khatimah.

Ustaz Muzakki juga memberikan nasihat tajam mengenai pentingnya menjaga lisan dari pembicaraan yang tidak bermanfaat. Beliau memperingatkan bahwa banyak bicara tanpa zikir dapat mengeraskan hati, dan hati yang keras adalah kondisi yang paling jauh dari rahmat Allah. Beliau mengajak jemaah untuk lebih baik diam dalam zikir daripada berbicara mengenai hal-hal yang bukan merupakan bidang atau keahliannya.

Dalam sesi tanya jawab, beliau menambahkan tentang urgensi membaca selawat sebagai pelengkap zikir. Selawat diibaratkan sebagai “pesan” yang kita kirimkan kepada Rasulullah agar kelak di akhirat kita dikenal dan diakui sebagai umatnya. Ustadz Muzakki menggambarkan selawat laksana air dalam gelas yang meluap, di mana keberkahannya tidak hanya dirasakan oleh si pembaca, tetapi juga meluber kepada anak cucu dan keluarga tercinta.

Sebagai penutup, beliau menyinggung pentingnya sikap moderat dalam menyikapi perbedaan pendapat yang sering terjadi di masyarakat. Melalui prinsip tabayyun (klarifikasi), tawazun (seimbang), dan tawasut (jalan tengah), perbedaan seharusnya menjadi rahmat, bukan alasan untuk bertengkar. Kajian ini diakhiri dengan doa bersama, memohon agar seluruh jemaah diberikan keistiqomahan dalam mengamalkan zikir-zikir tersebut hingga akhir hayat.

Sumber: KAJIAN KITAB NASHOIHUL IBAD di Masjid Al Akbar Surabaya Oleh Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz

E-Buletin