Kabarmasjid.id, Surabaya – Umat Muslim kembali diingatkan tentang pentingnya memanfaatkan momentum waktu yang krusial untuk memperbanyak amalan spiritual dan menjaga keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat. Kehidupan yang berjalan begitu cepat menuntut setiap pribadi untuk terus berbenah dan mencari bekal terbaik demi menghadapi fase kehidupan yang selanjutnya. Melalui kajian kitab klasik, terungkap berbagai sudut pandang mendalam mengenai bagaimana seorang hamba seharusnya bersikap dalam beribadah, bekerja, hingga menghindari perbuatan dosa.
Nuansa spiritual yang sejuk ini tersaji dalam kajian rutin bakda Maghrib yang digelar di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pada Senin, 25 Mei 2026, dengan menghadirkan narasumber Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengupas secara mendalam pelajaran ke-22 dari Kitab Nashaihul Ibad karya ulama besar Syekh Nawawi al-Bantani. Di hadapan jemaah yang hadir, sang ustaz mengawali ceramahnya dengan mengingatkan pentingnya momentum Hari Arafah yang saat itu sudah mulai memasuki tanggal 9 Zulhijah.
Dalam pengantarnya, Ustaz Ahmad Muzakki menekankan bahwa Hari Arafah adalah hari terbaik di mana setiap untaian doa yang dipanjatkan merupakan doa yang paling mustajabah. Momentum ini menjadi semakin istimewa karena adanya kesamaan penetapan awal bulan Zulhijah antara Pemerintah Republik Indonesia dan Saudi Arabia. Hal tersebut membawa implikasi indah, di mana waktu umat Muslim di tanah air melaksanakan puasa Arafah berbarengan dengan waktu para jemaah haji yang sedang melaksanakan wukuf di Padang Arafah.
Beliau juga sangat menganjurkan jemaah untuk menghidupkan Hari Arafah dengan tiga amalan utama, yaitu memperbanyak istigfar, membaca Surat Al-Ikhlas, serta melantunkan kalimat tauhid masing-masing minimal sebanyak 100 kali. Amalan-amalan ringan ini memiliki fadhilah yang luar biasa besar untuk mengisi lembaran hari dengan keberkahan. Terlebih lagi, ibadah puasa Arafah yang dijalankan pada hari itu memiliki keutamaan mutlak yang dapat melebur dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Memasuki inti kajian Kitab Nashaihul Ibad, ustaz membacakan petuah bijak dari seorang ulama sufi bernama Syaqiq al-Balkhi. Ulama tersebut merumuskan lima perkara spiritual penting yang wajib dipegang teguh oleh setiap Muslim sebagai motivasi meraih surga sekaligus pengingat dari pedihnya siksa neraka. Nasihat pertama menegaskan agar manusia menyembah Allah SWT dengan ukuran yang sesuai dengan tingkat kebutuhan atau hajat mereka kepada Sang Pencipta. Mengingat manusia selamanya membutuhkan rahmat Allah, maka sudah sepatutnya ibadah dilakukan dengan penuh kesungguhan.
Nasihat kedua berfokus pada hubungan manusia dengan materi, di mana Syaqiq al-Balkhi mengingatkan agar mengambil urusan dunia secara terukur dan disesuaikan dengan sisa umur yang dimiliki. Ustadz Muzakki memberikan analogi sederhana tentang seorang pedagang yang memiliki target harian yang jelas; jika target tersebut sudah tercukupi, ia akan memilih pulang untuk beristirahat dan beribadah, alih-alih terus mengejar dunia tanpa rasa puas. Hal ini menjadi tamparan keras di tengah kehidupan modern yang sering kali membuat manusia terjebak dalam lingkaran ketakutan akan kekurangan materi.
Selanjutnya, nasihat ketiga memberikan peringatan yang sangat tajam mengenai perbuatan maksiat. Dituturkan bahwa jika seseorang ingin melakukan dosa, maka ia harus mengukurnya dengan tingkat kesanggupan dirinya dalam menahan azab Allah SWT. Ustaz mengingatkan bahwa tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang memiliki kekuatan untuk menanggung kerasnya siksa neraka. Oleh karena itu, membayangkan dan merenungkan akibat dari siksa akhirat dinilai sangat efektif untuk mengurungkan niat seseorang ketika hendak melanggar syariat.
Poin keempat dari kitab tersebut mengajak jemaah untuk merenungkan masa depan mereka di alam kubur. Syaqiq al-Balkhi berpesan agar manusia mencari bekal selama hidup di dunia dengan melihat seberapa lama mereka akan menetap di dalam kubur kelak. Alam kubur merupakan pintu gerbang pertama dari rangkaian urusan akhirat. Jika seorang hamba berhasil mendapatkan keringanan dan meraih predikat husnul khatimah, maka fase-fase kehidupan setelahnya di akhirat pun akan terasa jauh lebih ringan dan dimudahkan oleh Allah.
Sementara itu, nasihat kelima mengingatkan bahwa tingkatan atau makam kemuliaan di dalam surga sangat bergantung pada kualitas amal saleh yang dikerjakan selama di dunia. Ustaz berseloroh bahwa tidak mungkin seseorang mendambakan Surga Firdaus yang tinggi namun kesehariannya hanya dihabiskan dengan bermalas-malasan tanpa diiringi perjuangan ibadah yang nyata. Setiap manusia akan memetik hasil sesuai dengan apa yang mereka tanam selama menjalani kehidupan di dunia ini.
Selain lima pilar di atas, kajian ini juga mengungkap lima kunci spiritual lain dari Syaqiq al-Balkhi untuk mendapatkan keselamatan akhirat. Beliau menyebutkan bahwa jalan untuk meninggalkan dosa dapat ditemukan melalui konsistensi shalat Duha, sedangkan terangnya alam kubur diraih lewat shalat malam. Selanjutnya, kemudahan menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir dijumpai dalam kebiasaan membaca Al-Qur’an, keselamatan menyeberangi jembatan Shiroth didapatkan melalui puasa dan sedekah, serta naungan Arasy Allah bisa diraih dengan memperbanyak khalwah atau menyendiri untuk berzikir.
Menjelang akhir sesi, suasana kajian menjadi semakin dinamis ketika memasuki sesi tanya jawab yang membahas problematika fikih kurban. Menjawab pertanyaan jemaah mengenai hukum arisan kurban, Ustadz Muzakki menjelaskan bahwa arisan pada hakikatnya merupakan akad utang-piutang. Oleh karena itu, jika niatnya adalah ibadah kurban yang hakiki, umat Muslim disarankan untuk berkurban secara mandiri atau melalui patungan kolektif yang sah. Sistem arisan lebih cenderung dinilai sebagai sedekah daging biasa, meski tetap memiliki nilai positif sebagai media edukasi.

Ustadz Muzakki juga memberikan pandangan tegas mengenai etika panitia kurban yang kerap menerima uang saku, tips, atau uang transportasi dari pihak penjual hewan. Beliau menyatakan hal tersebut diperbolehkan dengan syarat uang lelah itu sama sekali tidak memotong atau diambil dari anggaran utama pembelian hewan kurban. Prinsip transparansi dan kejelasan akad sejak awal menjadi kunci utama agar ibadah sosial ini berjalan dengan bersih, penuh berkah, dan terhindar dari hal-hal yang dapat merusak pahala kurban.
Sumber: Kajian Ba’da Maghrib Masjid Al Akbar Surabaya pada Senin 25 Mei 2026 Bersama Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz yang mengulas Kitab Nashaihul Ibad.