Ingat! Kita Sedang Dikejar Dua Hal Ini: Mengapa Harus Takut Kekurangan Rezeki?

Ustadz Yunan Daris, M.Pd.I.
Ustadz Yunan Daris, M.Pd.I.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya –  Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang menuntut segalanya diukur dengan pencapaian materi, manusia sering kali terjebak dalam rasa cemas yang tak berkesudahan. Setiap hari, pikiran kita kerap dipenuhi oleh kekhawatiran tentang kecukupan masa depan, cicilan yang harus dibayar, hingga nominal saldo yang tertera di rekening bank. Padahal, jika kita mau menepi sejenak dan merenungkan esensi kehidupan, rezeki yang disediakan oleh Sang Pencipta sejatinya terbentang luas tanpa batas, jauh melampaui angka-angka matematis yang sering kita dewakan.

Kesadaran mendalam inilah yang mengemuka dalam kajian Mimbar Dzuhur yang berlangsung di Masjid Al Falah Surabaya pada Jum’at, 26 Juni 2026, bersama narasumber Ustadz Yunan Daris, M.Pd.I. Dalam tausiyah bertajuk “Rizki Itu Tak Terbatas, Akankah Kita Batasi?”, beliau mengajak para jemaah untuk membongkar kembali kotak pemikiran yang sempit mengenai hakikat rezeki. Menurutnya, kegelisahan manusia modern hari ini berakar dari kecenderungan mereka yang kerap menyempitkan makna rezeki sebatas materi, nominal uang, ataupun gaji bulanan.

Ustadz Yunan menekankan bahwa cetak biru kehidupan setiap manusia, termasuk batas usia dan jatah rezekinya, sebenarnya telah selesai ditulis dan digaransi oleh Allah SWT sejak manusia masih berusia empat bulan di dalam kandungan ibu. Merujuk pada Al-Qur’an Surat Hud ayat 6, ditegaskan bahwa tidak ada satu pun makhluk bergerak (dabbah) di atas muka bumi ini melainkan Allah-lah yang menanggung seluruh rezekinya. Dengan jaminan yang begitu otoritatif dari Sang Pencipta, mengkhawatirkan sesuatu yang sudah digaransi secara mutlak mencerminkan adanya kerapuhan dalam fondasi keimanan kita.

Lebih jauh, beliau menjelaskan bahwa Allah SWT sering kali mengirimkan rezeki langsung mendekati dan mengejar hamba-Nya, baik melalui jalan usaha yang masuk akal maupun lewat perantara yang sama sekali tidak pernah diduga. Sayangnya, keterbatasan sudut pandang manusia membuat kita sering kali baru mengucap kalimat alhamdulillah ketika menerima rezeki yang berwujud uang atau keuntungan fisik. Kita kerap menutup mata dari aliran karunia non-materi yang bertubi-tubi datang dan setia menemani setiap embusan napas kehidupan kita.

Coba kita bayangkan dan hitung secara nominal, berapa biaya yang harus dikeluarkan jika manusia diharuskan membayar biaya operasional detak jantung atau fungsi organ tubuh yang memfilter udara setiap detiknya? Hanya untuk dua fungsi organ itu saja, tidak akan ada satu pun manusia yang sanggup melunasinya jika dihargai dengan uang. Kesehatan, kelapangan dada, dan fungsi tubuh yang berjalan normal secara cuma-cuma adalah bentuk nyata dari rezeki tak terbatas yang paling sering kita ingkari keberadaannya.

Selain nikmat jasmani, kajian ini juga membuka mata jemaah bahwa kemampuan untuk melakukan amal saleh adalah bentuk rezeki spiritual yang nilainya tak bertepi. Ustadz Yunan mencontohkan bahwa kelapangan hati untuk membaca Al-Qur’an adalah sebuah anugerah besar, di mana setiap huruf yang dilafalkan bernilai sepuluh kebaikan di sisi Allah. Rezeki semacam ini tidak akan bisa dinilai dengan uang, karena ia menjadi investasi abadi yang kelak menyelamatkan manusia di kehidupan setelah dunia.

Begitu pula dengan kesempatan dan kekuatan fisik untuk melangkahkan kaki melaksanakan shalat berjamaah di masjid, yang dinilai 25 hingga 27 derajat lebih baik daripada shalat sendirian. Setiap langkah kaki menuju rumah Allah tidak hanya menggugurkan dosa-dosa masa lalu, tetapi juga mengangkat derajat seorang hamba di akhirat kelak. Derajat-derajat inilah yang pada hakikatnya merupakan rezeki tingkat tinggi karena akan menentukan posisi dan tempat tinggal manusia di dalam surga.

Keistimewaan luar biasa juga melekat pada amalan shalat sunnah fajar atau qobliyah subuh, yang oleh Rasulullah SAW digambarkan memiliki nilai yang jauh lebih baik daripada dunia beserta seluruh isinya. Jika kita mencoba menghitung seluruh kekayaan, emas, dan keindahan yang ada di dunia ini, akal manusia pasti akan angkat tangan karena tak sanggup mengalkulasinya. Namun, bagi orang-orang yang beriman, kekayaan tak ternilai tersebut bisa diraih hanya melalui dua rakaat ringan sebelum fajar menyingsing.

Di atas semua itu, Ustadz Yunan mengingatkan bahwa rezeki yang paling tinggi, paling mahal, dan paling menentukan adalah nikmat iman dan Islam. Iman adalah karunia eksklusif yang jika luput dari genggaman seorang manusia hingga ajal menjemput, maka ia tidak akan bisa menebus dirinya di akhirat kelak meskipun memiliki emas sepenuh bumi. Tanpa adanya iman di dalam dada, segala tumpukan materi dan kemewahan duniawi yang dikejar mati-matian akan menjadi sia-sia dan tak bernilai di hadapan Allah SWT.

Melalui kajian ini, sebuah analogi mendalam disampaikan bahwa selama hidup di dunia, setiap manusia sebenarnya sedang dikejar oleh dua perkara yang tidak akan pernah bisa dihindari, yaitu rezekinya dan ajalnya. Sangat ironis ketika manusia justru menghabiskan energinya untuk mengkhawatirkan rezeki yang sudah pasti mengejarnya, sementara mereka melupakan ajal yang juga sedang berlari kencang mendekat. Oleh sebab itu, fokus utama seorang mukmin seharusnya bukanlah pada kuantitas materi, melainkan pada kualitas ketakwaan menjelang akhir hayat.

Sebagai penutup dan solusi atas kegelisahan hati, jemaah diingatkan kembali pada wasiat Rasulullah SAW kepada sahabat Muadz bin Jabal agar tidak pernah melewatkan sebuah doa di penghujung shalat fardhu. Doa tersebut berbunyi, “Allahumma ainni ala zikrika wa syukrika wa husni ibadatika”, yang berarti permohonan agar Allah menolong kita untuk senantiasa berdzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik. Unsur syukur dalam doa ini memegang peranan kunci agar kita tidak menjadi hamba yang buta terhadap rezeki non-materi.

Maka, melalui pesan mendalam dari Mimbar Dzuhur Masjid Al Falah ini, kita diajak untuk memperluas kembali ruang di dalam hati kita dalam memaknai pemberian Allah. Rezeki terbaik bagi manusia bukanlah tumpukan harta yang ditinggalkan saat mati, melainkan keberkahan hidup, kelapangan hati, wafat dalam keadaan husnul khatimah, serta dipertemukan kembali bersama keluarga di tempat asal manusia diciptakan, yaitu surga-Nya. Ketika kita berhenti membatasi makna rezeki sebatas materi, di situlah kebahagiaan hidup yang sejati akan mulai terasa mengalir tanpa henti.

Sumber: Kajian Mimbar Dzuhur berjudul “Rizki Itu Tak Terbatas, Akankah Kita Batasi?” yang disampaikan oleh Ustadz Yunan Daris, M.Pd.I. di Masjid Al Falah Surabaya pada Jum’at, 26 Juni 2026

E-Buletin