Kabarmasjid.id, Surabaya – Menjaga keteguhan prinsip di tengah gempuran kepentingan duniawi merupakan tantangan spiritual yang tidak ringan. Agama seringkali dihadapkan pada persimpangan antara ketaatan kepada Tuhan atau tunduk pada relasi kemanusiaan yang bersifat emosional. Dalam sebuah kajian mendalam, persoalan ini dibahas secara tuntas dengan merujuk pada ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Kajian tafsir Al-Qur’an mengenai Surah At-Taubah ayat 23 ini disampaikan secara langsung oleh Drs. KH. Abdullah Bahreisy di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran), Surabaya, pada hari Jumat, 24 April 2026. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa ayat ini merupakan peringatan keras bagi orang-orang yang beriman agar tidak menjadikan orang tua atau saudara sebagai pelindung jika mereka lebih mencintai kekafiran di atas keimanan.
Pada awal penyampiannya KH. Abdullah menyoroti bahwa iman adalah identitas yang tidak bisa ditawar (bargaining). Allah SWT secara eksplisit memanggil “Ya ayyuhalladzina amanu” untuk memberikan batasan yang jelas mengenai loyalitas spiritual. Hubungan darah, meski sangat dimuliakan dalam Islam, tidak boleh mengalahkan kesetiaan seorang hamba kepada pencipta-Nya.
Sebagai ilustrasi nyata, KH. Abdullah mengangkat kisah Suhaib bin Sinan. Suhaib rela melepaskan seluruh harta kekayaannya, rumah, dan bisnisnya di Mekah hanya agar diizinkan berhijrah mengikuti Rasulullah SAW. Baginya, keuntungan akhirat jauh lebih besar daripada sekadar mempertahankan aset duniawi yang bersifat sementara.
Keteguhan serupa juga dicontohkan melalui kisah Sa’ad bin Abi Waqqas. Saat ibunya melakukan aksi mogok makan agar Sa’ad keluar dari Islam, Sa’ad menunjukkan sikap yang luar biasa. Meski ia sangat berbakti, ia dengan tegas menyatakan bahwa keimanannya tidak akan goyah walaupun ibunya memiliki nyawa sebanyak rambut yang hilang satu per satu.
Narasi ini memberikan pelajaran penting bahwa bakti kepada orang tua tetap wajib, namun ketaatan dalam hal akidah memiliki jalurnya sendiri. Iman adalah pondasi yang menghunjam ke dalam hati, sehingga ancaman fisik maupun emosional tidak akan mampu menggoyahkannya. Hal ini menjadi pengingat bagi generasi saat ini agar memiliki prinsip yang kokoh.
Dalam kajian tersebut, ditekankan pula bahwa nilai dua rakaat salat fajar jauh lebih berharga daripada dunia dan segala isinya. Logika ukhrawi ini seringkali sulit diterima oleh mereka yang hanya berorientasi pada materi. Namun, bagi seorang mukmin, investasi yang paling nyata adalah apa yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah mati.
Penceramah juga menyinggung konsekuensi hukum dalam Islam terkait perbedaan keyakinan, salah satunya adalah putusnya hubungan waris-mewaris. Hal ini menunjukkan bahwa iman memiliki implikasi yang nyata dalam tatanan sosial dan keluarga. Agama tidak hanya menjadi urusan privat, tetapi juga menjadi penentu dalam hak dan kewajiban antarmanusia.
Investasi terbesar dalam hidup, menurut kajian ini, bukanlah tumpukan harta, melainkan keluarga yang saleh. Seorang anak yang mendoakan orang tuanya dengan tulus dapat menjadi wasilah diangkatnya derajat orang tua tersebut di surga. Inilah keberuntungan besar bagi mereka yang berhasil menjaga iman dalam lingkup keluarganya.
Lebih lanjut, KH. Abdullah Bahreisy mengingatkan bahwa harta yang benar-benar milik kita hanyalah yang kita makan hingga habis, yang kita pakai hingga rusak, dan yang kita sedekahkan. Selebihnya, harta yang kita tumpuk hanya akan menjadi beban dan bahan perselisihan bagi ahli waris setelah kita tiada, sementara kita sendiri mempertanggungjawabkannya di liang lahat.

Pesan penutup dari kajian ini mengajak audiens untuk melakukan refleksi diri (muhasabah) mengenai sisa usia yang dimiliki. Dengan melihat banyaknya orang terdekat yang sudah mendahului, setiap insan seharusnya sadar bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan dan titipan yang harus dikembalikan dalam keadaan bersih dan suci.
Sebagai kesimpulan, keteguhan iman adalah kunci utama dalam menghadapi segala fitnah dunia. Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik, yaitu mereka yang lebih mencintai dunia, keluarga, dan perdagangan di atas cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita senantiasa diberikan keistiqamahan dalam menjaga cahaya iman hingga akhir hayat.
Sumber: Kajian tafsir Al-Qur’an pada Jumat, 24 April 2026 di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran), Surabaya oleh Drs. KH. Abdullah Bahreisy