Kabarmasjid.id, Surabaya – Seringkali kita mendapati fenomena di mana seseorang tampak sangat religius dalam ibadah ritualnya, namun justru menunjukkan sikap yang kontradiktif dalam aspek sosial, terutama masalah berbagi harta. Persoalan ini menjadi sorotan utama dalam kajian Ba’da Shubuh yang dilaksanakan di Masjid Al Falah Surabaya pada tanggal 2 Mei 2026, dengan menghadirkan narasumber Ustadz Jufri Ubaid, S.Ag. Dalam ceramah bertajuk “Katanya Iman, Lha Kok Medit”, beliau mengupas tuntas mengapa sifat kikir atau “medit” tidak semestinya bersarang di dalam hati seorang mukmin yang mengaku percaya kepada janji-janji Allah.
Ustadz Jufri membuka kajian dengan memberikan penegasan bahwa iman bukan sekadar status yang diucapkan di lisan, melainkan sebuah keyakinan yang harus meresap hingga ke dasar hati. Orang yang benar-benar beriman seharusnya tidak lagi memiliki keraguan terhadap apa yang telah dijanjikan oleh Allah SWT, termasuk dalam urusan rezeki. Ketidakmampuan seseorang untuk berbagi atau adanya sifat bakhil yang berlebihan menjadi indikator bahwa ada sesuatu yang belum tuntas dalam proses “landing” atau masuknya iman ke dalam sanubari manusia tersebut.
Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 261, beliau menjelaskan perumpamaan yang sangat indah tentang bagaimana Allah melipatgandakan harta orang yang berinfak. Beliau mengibaratkan satu benih yang tumbuh menjadi tujuh tangkai, di mana setiap tangkainya menghasilkan seratus biji, sehingga total keberkahannya mencapai tujuh ratus kali lipat. Bagi mereka yang memiliki iman yang kokoh, perhitungan matematis Ilahi ini jauh lebih nyata dan meyakinkan dibandingkan perhitungan logika manusia yang seringkali merasa hartanya berkurang saat disedekahkan.
Lebih lanjut, Ustadz Jufri memaparkan hadis Nabi yang menegaskan bahwa sifat kikir dan iman tidak akan pernah bisa bersatu dalam hati seorang hamba untuk selamanya. Sifat kikir atau asy-syuhu digambarkan sebagai racun yang merusak tatanan spiritual seseorang, sehingga jika sifat ini masih mendominasi, maka pengakuan keimanan seseorang patut dipertanyakan kembali. Beliau mengingatkan bahwa orang yang mendustakan agama, sebagaimana disebut dalam Surah Al-Ma’un, adalah mereka yang abai terhadap anak yatim dan tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin.
Dalam kajian tersebut, dijelaskan pula perbedaan mendasar antara karakter orang yang dermawan dan orang yang bakhil. Orang dermawan disebut sebagai sosok yang dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari api neraka. Sebaliknya, orang yang bakhil justru menempatkan dirinya pada posisi yang jauh dari rahmat Allah dan cinta manusia, namun sangat dekat dengan ancaman siksa neraka karena keterikatannya yang berlebihan pada duniawi.
Ustadz Jufri juga menekankan pentingnya pembuktian iman melalui tindakan nyata atau amalun bil arkan. Beliau menjelaskan bahwa iman mencakup ikrar dengan lisan, pembenaran dengan hati, dan pembuktian dengan seluruh anggota tubuh. Ketika seseorang mendengar panggilan azan, hati yang beriman akan bergetar dan tergerak untuk menyambutnya, bukan justru merasa terbebani atau mengeluh karena waktunya yang dianggap terlalu cepat.
Beliau juga menyinggung tentang fenomena sosial saat ini, di mana banyak orang hanya mengejar keuntungan materi tanpa memedulikan kemaslahatan orang lain. Sifat bakhil seringkali berujung pada kerakusan yang merugikan masyarakat luas. Sebaliknya, seorang mukmin sejati harus memiliki jiwa pemberi, sesuai dengan prinsip bahwa tangan di atas jauh lebih baik daripada tangan di bawah, yang mencerminkan martabat dan kemuliaan seorang hamba di hadapan Sang Khalik.
Dalam pandangan Ustadz Jufri, harta seharusnya diletakkan di tangan, bukan di dalam hati. Perumpamaan ini menggambarkan bahwa orang yang dermawan adalah mereka yang menguasai harta, sehingga mudah untuk melepaskannya demi kebaikan. Namun, orang yang bakhil adalah mereka yang dikuasai oleh harta; setiap rupiah yang keluar terasa menyakitkan karena harta tersebut telah menjadi “berhala” kecil yang mereka puja di dalam batin mereka sendiri.
Bahaya sifat kikir ini juga dijelaskan melalui ancaman di hari kiamat, di mana harta yang tidak dikeluarkan haknya akan dikalungkan di leher pemiliknya sebagai beban yang menyiksa. Merujuk pada Surah Ali Imran ayat 180, beliau mengingatkan agar para jamaah tidak salah menyangka bahwa menahan harta adalah sebuah keberuntungan. Justru, kebakhilan tersebut adalah keburukan yang akan berakibat fatal bagi keselamatan pelakunya di kehidupan mendatang.
Kajian ini juga menyentuh aspek psikologis dan keberkahan harian dengan mengingatkan tentang doa malaikat setiap pagi. Setiap hari, ada malaikat yang mendoakan agar orang yang berinfak segera diberikan ganti oleh Allah, sementara malaikat lainnya memohon agar harta orang yang kikir segera dihancurkan keberkahannya. Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas dan ekonomi dalam Islam sangat berkaitan erat melalui variabel kedermawanan.
Meskipun mendorong kedermawanan yang tinggi, Ustadz Jufri tetap memberikan nasihat agar umat Islam bersikap proporsional atau “sak madio”. Beliau melarang umat untuk terlalu kikir hingga tangan seolah terbelenggu di leher, namun juga mengingatkan untuk tidak memberikan segalanya tanpa perhitungan hingga mengabaikan kewajiban pokok keluarga. Kedermawanan harus dilakukan setelah kebutuhan wajib terpenuhi dengan baik agar tidak timbul penyesalan.

Sebagai penutup, beliau memberikan pesan yang menyentuh bagi para kepala rumah tangga agar tidak pelit terhadap keluarga sendiri, baik dalam hal materi maupun perhatian. Kedermawanan paling sederhana bisa dimulai dengan tidak pelit memberikan sanjungan dan ucapan terima kasih kepada istri di rumah. Dengan menjauhi sifat kikir dan memupuk jiwa berbagi, seorang mukmin diharapkan mampu mencapai derajat iman yang sempurna dan mendapatkan ketenangan hidup.
Sumber: Kajian Ba’da Shubuh di Masjid Al Falah Surabaya pada 2 Mei 2026 yang disampaikan oleh Ustadz Jufri Ubaid, S.Ag. dengan tema “KATANYA IMAN, LHA KOK MEDIT”.