Kabarmasjid.id, Surabaya – Momen Idul Fitri selalu menjadi titik balik spiritual bagi umat Islam untuk kembali merenungkan hakikat penghambaan setelah satu bulan penuh menunaikan ibadah puasa. Di tengah suasana penuh kemenangan ini, pesan-pesan kesejukan dan penguatan iman menjadi asupan penting bagi jamaah yang hadir untuk memulai lembaran baru yang lebih baik.
Pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah di Masjid Raudhatul Musyawarah atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Kemayoran Surabaya, Sabtu 21 Maret 2026, berlangsung dengan sangat khidmat. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib dalam kesempatan tersebut adalah K.H. Muhammad Abdul Bari, yang merupakan Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya sekaligus Ketua Umum Pengurus Masjid Kemayoran.
Dalam khutbahnya, Kiai Abdul Bari menyampaikan bahwa Idul Fitri adalah anugerah tahunan di mana Allah SWT memberikan kesempatan bagi hamba-Nya yang telah berpuasa, berzakat, dan sholat untuk dihapuskan dosa-dosanya. Beliau mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas limpahan rahmat dan nikmat yang tidak terhitung jumlahnya, yang telah memungkinkan mereka berkumpul di masjid bersejarah tersebut dalam keadaan sehat walafiat.
Salah satu poin utama yang ditekankan dalam khutbah tersebut adalah peran vital Al-Qur’an dalam kehidupan seorang mukmin. Selama bulan Ramadhan, ayat-ayat suci bergema di mana-mana, namun khatib mengingatkan agar interaksi dengan Al-Qur’an tidak berhenti seiring berlalunya bulan suci, melainkan harus menjadi pedoman harian yang konsisten.
Merujuk pada Surah Thaha ayat 124-127, Kiai Abdul Bari memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang berpaling dari peringatan Allah atau Al-Qur’an. Beliau menjelaskan bahwa mengabaikan tuntunan ilahi akan berakibat pada kehidupan yang sempit (maisyatan dhanka), sebuah kondisi di mana seseorang kehilangan ketenangan batin meskipun memiliki segalanya secara materi.
Beliau memaparkan fenomena di mana jabatan tinggi atau kekayaan melimpah tidak menjamin kebahagiaan sejati jika pelakunya jauh dari Allah. Ketenangan hidup tidak bisa dibeli dengan materi; banyak orang yang memiliki usaha bermiliar-miliar namun tetap merasa tidak kerasan dan selalu merasa tidak tenang dalam rumah tangganya karena kehilangan tujuan akhir yang jelas.
Penderitaan akibat berpaling dari agama tidak hanya terjadi di dunia, tetapi juga berlanjut hingga hari kiamat. Khatib menjelaskan bahwa pada hari akhir nanti, mereka yang melupakan ayat-ayat Allah akan dibangkitkan dalam kondisi buta sebagai bentuk balasan atas kebutaan hati mereka terhadap kebenaran selama hidup di dunia.
Kiai Abdul Bari juga menyoroti pentingnya bimbingan para ulama dalam memahami syariat agama. Beliau menegaskan bahwa seorang muslim tidak bisa berjalan sendiri tanpa arahan dari para alim ulama, karena ulama adalah pewaris para nabi yang memiliki otoritas dan keilmuan untuk menuntun umat agar tidak tersesat dalam memahami Al-Qur’an dan Hadis.
Dalam khutbah tersebut, beliau menjelaskan perbedaan mendasar antara ilmu dan iman. Menurutnya, ilmu pengetahuan seringkali hanya mempercepat seseorang sampai pada tujuan, namun imanlah yang menentukan arah ke mana seseorang harus melangkah. Tanpa iman yang kokoh, ilmu pengetahuan justru bisa mengeruhkan keyakinan dan pendapat seseorang.
Lebih lanjut, khatib mengajak jamaah untuk meneladani Nabi Adam AS dan Ibunda Hawa yang diciptakan di surga sebagai tempat asal manusia. Untuk bisa kembali ke “rumah asal” tersebut, umat Islam diwajibkan untuk menata iman, mempelajari syariat dengan benar, serta mewariskan nilai-nilai Islam tersebut kepada anak cucu dan seluruh anggota keluarga.
Khutbah ini juga disisipkan dengan doa yang menyentuh hati, memohon agar seluruh jamaah dan keluarga mereka dikuatkan imannya hingga saat menghadap Allah kelak. Doa tersebut juga dipanjatkan untuk kemaslahatan umat Islam secara global, termasuk permohonan keselamatan dan kemenangan bagi saudara-saudara muslim yang sedang berjuang di Palestina dan Gaza.
Sebelum khutbah berakhir, pengurus masjid juga sempat menyampaikan kabar gembira mengenai ketetapan hukum tanah wakaf Masjid Kemayoran seluas 8.900 m² yang kini sah dikelola penuh oleh nadzir masjid demi kemaslahatan umat. Hal ini menambah rasa syukur jamaah yang hadir karena aset bersejarah tersebut dapat terus digunakan untuk kemakmuran kegiatan keagamaan.

Sebagai penutup, Kiai Abdul Bari berpesan agar semangat Ramadhan tetap terjaga dalam perilaku sehari-hari. Dengan iman yang tertata dan bimbingan ulama yang diikuti, diharapkan masyarakat Surabaya, khususnya jamaah Masjid Kemayoran, dapat menjalani kehidupan yang penuh berkah dan jauh dari murka Allah SWT.
Sumber: Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1447 H di Masjid Raudhatul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya Bersama K.H. Muhammad Abdul Bari