KabarMasjid.id, Surabaya – Keberkahan hidup sering kali dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan di dalam rumah. Dalam upaya menjemput rida Allah dan kelancaran rezeki, harmoni antara ibadah dan ikhtiar menjadi kunci utama yang tidak boleh terpisahkan. Melalui peringatan Isra’ Mi’raj, kita diajak kembali merenungi hakikat shalat sebagai tiang agama sekaligus pembuka pintu-pintu kebaikan bagi keluarga.
Kajian spesial dalam rangka peringatan Isra’ Mi’raj 1447 H ini diselenggarakan di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pada Kamis, 15 Januari 2026. Menghadirkan K.H. Muhammad Imam Hambali, beliau membedah secara mendalam tentang hikmah di balik perintah shalat dan pengaruhnya yang luar biasa terhadap dinamika kehidupan rumah tangga dan aspek ekonomi umat.
Dalam ceramahnya, Kiai Imam Hambali menekankan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban individual, melainkan pilar kolektif dalam keluarga. Merujuk pada Al-Qur’an Surah Thaha ayat 132, beliau menjelaskan bahwa perintah Allah kepada kepala keluarga untuk mengajak istri dan anak-anaknya shalat memiliki korelasi langsung dengan jaminan rezeki yang datangnya dari Allah SWT.
Beliau memaparkan fenomena di mana kelancaran rezeki sering kali terhambat karena adanya anggota keluarga yang meninggalkan shalat. Menurutnya, ketika sebuah rumah tangga dipenuhi oleh orang-orang yang sujud kepada Allah, maka keberkahan akan mengalir lebih indah. Sebaliknya, rumah yang penghuninya lalai dari shalat cenderung akan merasakan hambatan-hambatan dalam mencari nafkah.
Salah satu pesan kuat yang disampaikan adalah pentingnya kesabaran dalam mendidik keluarga untuk beribadah. Mengajak istri atau anak untuk shalat tidak boleh dilakukan dengan kekerasan, bentakan, apalagi ancaman. Dakwah di dalam rumah harus dilakukan dengan cara yang santun dan penuh keteladanan agar ibadah tersebut dijalankan dengan rasa cinta, bukan keterpaksaan.
Kiai Imam juga menyoroti pentingnya sifat tumaninah dalam shalat, yakni tidak terburu-buru dalam melakukan setiap gerakan. Shalat yang berkualitas adalah shalat yang dilakukan dengan tenang, yang kemudian akan membawa ketenangan pula dalam menghadapi berbagai persoalan hidup di luar sajadah. Ketenangan inilah yang menjadi modal penting bagi seseorang dalam bekerja dan menjemput rezeki.
Di sela-sela kajian, beliau memberikan sebuah ijazah amalan khusus bagi orang tua agar anak-anak mereka sukses dan patuh dalam beribadah. Amalan ini dilakukan secara istiqamah setiap selesai melaksanakan shalat Asar. Amalan tersebut terdiri dari membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak 13 kali, diikuti dengan Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas masing-masing satu kali.
Amalan ringan ini, menurut beliau, jika dilakukan dengan tekun tidak akan memakan waktu lebih dari lima menit, namun memiliki dampak spiritual yang besar bagi masa depan anak. Beliau menekankan bahwa kesuksesan seorang anak adalah hasil dari perpaduan usaha lahiriah dan doa-doa “langit” yang dipanjatkan oleh orang tuanya secara konsisten.
Selain masalah shalat, beliau memberikan peringatan keras mengenai kebiasaan tidur setelah shalat Subuh. Mengutip sebuah hadis, beliau menjelaskan bahwa waktu pagi adalah waktu di mana rezeki sedang dibagikan. Tidur di waktu tersebut dianggap dapat menjauhkan seseorang dari keberkahan ekonomi, sehingga beliau menyarankan agar waktu pagi diisi dengan aktivitas positif atau zikir.
Untuk memotivasi jemaah, Kiai Imam menceritakan kisah inspiratif seorang tukang becak di Yogyakarta. Meski memiliki keterbatasan ekonomi, tukang becak tersebut sangat menjaga waktu shalat jemaahnya di masjid. Keteguhan imannya ini kemudian menarik simpati seorang jemaah lain yang akhirnya memberangkatkannya haji dan memberikan modal usaha berupa kendaraan untuk bekerja.
Cerita tersebut menjadi bukti nyata bahwa siapa pun yang memperhatikan hak-hak Allah, maka Allah akan memperhatikan urusan dunianya. Shalat tidak pernah mengurangi waktu produktif seseorang, justru sebaliknya, shalat memberikan keberkahan pada waktu yang sedikit sehingga menjadi lebih bernilai dan memberikan hasil yang lebih banyak.
Kiai Imam Hambali mengkhairi kajian dengan memberikan pesan agar setiap jemaah menjadikan shalat sebagai prioritas utama di atas kesibukan duniawi. Dengan menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta melalui shalat lima waktu secara tepat waktu dan berjemaah, diharapkan keluarga-keluarga muslim di Surabaya dan sekitarnya dapat hidup lebih sejahtera, berkah, dan harmonis dalam lindungan Allah SWT.
Sumber: Kajian Spesial Peringatan Isra’ Mi’raj 1447H di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pada tanggal 15 Januari 2026 oleh K.H. Muhammad Imam Hambali