Hidup Bersahaja ala Nabi Muhammad SAW: Rahasia Ketenangan di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

Habib Muchsin bin Ali Al bin Hamid
Habib Muchsin bin Ali Al bin Hamid

Bagikan postingan :

KabarMalang.id, Malang – Di tengah gemerlap dunia modern yang sering kali mengukur kesuksesan dari kemewahan materi, nilai-nilai kesederhanaan menjadi sesuatu yang kian langka. Banyak dari kita terjebak dalam perlombaan tanpa akhir untuk mengumpulkan harta, hingga terkadang lupa pada hakikat ketenangan batin. Padahal, teladan terbaik umat manusia telah memberikan peta jalan tentang bagaimana memandang dunia dengan proporsi yang tepat tanpa mengabaikan kehidupan setelahnya.

Kajian rutin ba’da Maghrib yang diselenggarakan pada Rabu, 14 Januari 2026, di Masjid Agung Jami Malang, menghadirkan Habib Muchsin bin Ali Al bin Hamid. Dalam tausiahnya, beliau membedah kitab yang menjelaskan sifat-sifat Rasulullah SAW, khususnya mengenai bagaimana sang baginda menjalani kehidupan sehari-hari dengan sangat bersahaja namun tetap penuh martabat.

Habib Muchsin mengawali ceramahnya dengan menggambarkan secara detail tempat tidur Nabi Muhammad SAW yang jauh dari kata layak menurut standar manusia modern. Beliau menjelaskan bahwa kasur Nabi terbuat dari kulit yang disamak dan diisi dengan sabut pohon kurma yang kasar. Tidak ada kelembutan kapas atau busa, bahkan panjangnya yang hanya sekitar 1,2 meter memaksa Nabi tidur dalam posisi menekuk tubuhnya.

Menariknya, Habib menekankan bahwa pola hidup minimalis ini bukanlah sebuah keterpaksaan karena kemiskinan, melainkan sebuah pilihan sadar atau ikhtiari. Nabi Muhammad SAW memiliki akses penuh terhadap kekayaan dunia jika beliau menghendakinya. Allah SWT bahkan pernah menawarkan untuk mengubah seluruh gunung di Makkah menjadi emas murni bagi beliau, namun tawaran tersebut ditolak dengan halus oleh baginda Nabi.

Penolakan Nabi terhadap kekayaan gunung emas tersebut didasari oleh keinginan untuk tetap berada dalam kondisi yang membuatnya selalu terpaut kepada Allah. Beliau lebih memilih suatu hari merasa lapar agar bisa merintih dan bermunajat, serta di hari lain merasa kenyang agar bisa bersyukur. Hal ini menjadi pengingat keras bagi kita yang sering kali mengeluh meski kebutuhan dasar hidup sebenarnya telah tercukupi dengan sangat baik.

Habib Muchsin juga mengisahkan momen mengharukan saat Siti Fatimah membawakan sepotong roti gandum untuk ayahnya. Dengan senyum di wajahnya, Nabi menyampaikan bahwa roti tersebut adalah makanan pertama yang masuk ke mulut beliau setelah tiga hari lamanya tidak menyantap apa pun. Kisah ini menggambarkan betapa Nabi sangat menjaga harga dirinya dan tidak pernah meminta-minta meski dalam keadaan lapar yang luar biasa.

Melalui narasi ini, Habib mengajak jamaah untuk bercermin pada kehidupan masing-masing yang sudah dipenuhi fasilitas. Jika Nabi yang kekasih Allah saja memilih hidup sederhana, lantas mengapa manusia biasa terkadang begitu sombong dengan sedikit harta yang dimiliki? Rasa syukur seharusnya menjadi fondasi utama bagi seorang Muslim dalam menikmati setiap rizki yang Allah berikan setiap harinya.

Namun, Habib Muchsin juga memberikan klarifikasi penting mengenai konsep bekerja dalam Islam. Beliau menegaskan bahwa hidup sederhana bukan berarti malas atau tidak mau bekerja. Menghasilkan nafkah adalah perintah Allah, namun yang dilarang adalah ambisi buta dan keserakahan yang membuat seseorang melupakan kewajiban ibadah kepada Sang Pencipta.

Diterangkan pula bahwa para imam besar dan ulama terdahulu seperti Imam Abu Hanifah dan Syekh Ali Al-Khawas adalah pribadi yang mandiri secara ekonomi. Ada yang menjadi pedagang kain hingga tukang sol sepatu. Kemandirian ini penting agar seorang pendakwah atau ulama tidak menggantungkan hidupnya pada pemberian orang lain, sehingga dakwah tetap murni dan tidak bisa diintervensi oleh kepentingan materi.

Habib Muchsin memberikan kritik tajam terhadap oknum yang memasang tarif dalam berdakwah atau menjadikan kegiatan mengajar agama sebagai ladang bisnis semata. Menurutnya, tugas mengajak orang kepada Allah adalah tugas mulia yang tidak boleh dicampuradukkan dengan target-target duniawi. Seorang dai harus memegang prinsip tidak meminta, tidak menarget, namun juga tidak menolak jika diberi hadiah secara sukarela.

Sebuah kisah penutup tentang Imam Ibnu Hajar Al-Haitami di Makkah menjadi pelengkap kajian malam itu. Beliau membuktikan kepada istrinya bahwa beliau bisa saja mengubah air sumur Zamzam menjadi emas berkali-kali, namun beliau memilih untuk tidak mengambilnya. Pilihan itu diambil demi menjaga kemuliaan di akhirat, sebagaimana pesan Nabi kepada Sayyidina Umar bahwa dunia adalah bagian bagi mereka yang tidak beriman, sedangkan akhirat adalah milik umat Islam.

Kajian ini diakhiri dengan doa agar keluarga dan usaha para jamaah diberkahi oleh Allah SWT. Pesan moral yang dibawa sangat jelas: silakan mengejar dunia dan bekerja keras, namun jangan biarkan dunia menguasai hati. Dengan meneladani kesederhanaan Rasulullah, diharapkan umat dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, penuh syukur, dan tetap fokus pada tujuan akhir yang abadi.

Sumber: Kajian rutin ba’da Maghrib di Masjid Agung Jami Malang yang disampaikan oleh Habib Muchsin bin Ali Al bin Hamid

E-Buletin