Hati Terasa Mati? Waspadai Empat Racun Jiwa yang Sering Tak Disadari

Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc.,
Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc.,

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah keriuhan dunia modern yang penuh persaingan, manusia sering kali disibukkan oleh rasa cemas akan masa depan materi. Namun, dalam ruang spiritual Islam, keberadaan rasa takut tidak selalu bermakna negatif atau melumpuhkan. Dalam sebuah kajian tazkiyatun nufus yang disiarkan secara langsung dari Masjid Al-Irsyad Surabaya pada Minggu, 26 Juli 2026, Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc., membedah secara mendalam pentingnya memunculkan rasa takut (khauf) terhadap kehidupan akhirat sebagai sarana pembersih jiwa dan penyempurna iman.

Mengawali ceramahnya, Ustadz Muhammad Sholeh mengingatkan jamaah akan pentingnya merawat hati (qalb) sebagai pusat kendali seluruh perilaku manusia. Merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW, beliau menjelaskan bahwa baik dan buruknya seluruh amalan serta anggota tubuh seseorang sangat bergantung pada kondisi gumpalan daging di dalam dadanya. Ketika hati dalam keadaan sehat (salim), maka seluruh gerak-gerik kehidupan akan cenderung pada kebaikan dan keridaan Allah SWT.

Sebaliknya, kondisi hati sebagian besar manusia sering kali berada dalam keadaan sakit (qalb maridh) akibat tumpukan dosa dan maksiat yang tidak segera dibersihkan melalui istigfar dan tobat. Setiap kali dosa dilakukan tanpa penyesalan, titik-titik hitam akan menodai hati hingga perlahan meredupkan cahayanya. Jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini bisa membahayakan keselamatan spiritual seorang hamba baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Ustadz Muhammad Sholeh menjelaskan pula empat racun utama (sumumul qulub) yang sering kali merusak kesehatan hati manusia. Racun pertama adalah berbicara berlebihan (fudulul kalam), yaitu kebiasaan mengumbar perkataan tanpa pertimbangan manfaat atau apakah ucapan tersebut diridai oleh Allah SWT. Hati yang bersih senantiasa dijaga oleh pemiliknya dengan hanya menyampaikan hal-hal yang jelas kebaikannya.

Racun kedua adalah mengumbar pandangan (fudulun nazar), yaitu ketidakmampuan menundukkan pandangan mata dari hal-hal yang diharamkan maupun syahwat duniawi. Penglihatan yang tidak dijaga akan mengalirkan racun langsung ke dalam hati, membuatnya menjadi keruh dan sulit merasakan kenikmatan ibadah. Oleh karena itu, menjaga pandangan merupakan benteng awal dalam memelihara kesucian jiwa.

Selanjutnya, racun ketiga adalah mengonsumsi makanan secara berlebihan (fudulut ta’am). Menurut penceramah, makan yang melebihi kapasitas tubuh akan menimbulkan rasa malas, lemas, dan memicu kecenderungan untuk banyak tidur. Akibatnya, peluang-peluang emas untuk beramal saleh serta bermunajat kepada Allah SWT menjadi hilang begitu saja.

Racun hati keempat yang tidak kalah berbahayanya adalah salah dalam memilih lingkaran pertemanan (fudulul mukhalaatah). Lingkungan sosial tempat seseorang bergaul memiliki dampak langsung terhadap kualitas agamanya. Sahabat yang baik akan menjadi pengingat dan obat bagi penyakit hati, sedangkan pergaulan yang buruk justru dapat menularkan penyakit spiritual serta mencelakakan kehidupan seseorang.

Sebagai jalan keluar dari bahaya racun-racun hati tersebut, Ustadz Muhammad Sholeh Drehem menekankan perlunya memberi asupan yang menyehatkan bagi jiwa. Amalan-amalan seperti memperbanyak zikrullah, melazimkan tilawah Al-Qur’an, memperbanyak istigfar, berdoa, berselawat, serta menghidupkan malam melalui salat tahajud menjadi pilar-pilar penting agar hati kembali bersinar dan hidup.

Selain amalan fisik dan lisan, penataan sikap batin seperti menerapkan pola hidup zuhud terhadap dunia, rutin melakukan evaluasi diri (muhasabah), serta memupuk sifat sabar dan syukur juga sangat diperlukan. Semua amalan batin ini membentuk pondasi mental hamba agar tidak diperbudak oleh gemerlap dunia yang fana, melainkan senantiasa mengarahkan orientasi hidupnya pada orientasi akhirat.

Inti utama dari kajian ini kemudian menyoroti perimbangan antara dua perasaan dalam batin seorang mukmin, yaitu raja’ (harapan) dan khauf (rasa takut). Ustadz Muhammad Sholeh menjelaskan bahwa beda halnya dengan rasa takut kepada manusia yang membuat seseorang berlari menjauh, rasa takut kepada Allah SWT justru akan mendorong seorang hamba untuk semakin mendekat dan bersimpuh memohon rahmat-Nya.

Rasa takut akan ancaman akhirat, siksa kubur, dan pengadilan Allah di Padang Mahsyar bukanlah untuk membuat manusia putus asa. Sebaliknya, rasa takut tersebut berfungsi sebagai “cambuk” spiritual yang memicu semangat untuk memproduksi amal saleh, menjaga kebersihan diri, memelihara persaudaraan, serta memperkuat tauhid. Rasa takut inilah yang menjaga langkah manusia agar tetap berada pada garis syariat.

Kajian ini diakhiri dengan penegasan bahwa semakin tinggi ilmu dan pemahaman agama seseorang, seharusnya semakin merunduk dan bertambah pula rasa takutnya kepada Allah SWT (innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama). Melalui penataan batin yang seimbang antara rasa takut dan harapan akan ampunan-Nya, seorang hamba diharapkan dapat meraih jiwa yang tenang (nafsul mutmainnah) serta keselamatan di alam abadi kelak.

Sumber: Kajian Tazkiyatun Nufus bertajuk “Memunculkan Rasa Takut Kelak di Akhirat” yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc. di Masjid Al-Irsyad Surabaya dpada Minggu 26 Juli 2026.

E-Buletin