KabarMasjid.id. Surabaya – Bagaimana seharusnya kita menyikapi orang yang terus menerus menyakiti, memfitnah, atau bersikap usil, padahal kita berada di pihak yang benar? Apakah kita harus membalasnya dengan tindakan yang sama, atau justru berpaling dan menunjukkan kelapangan dada? Pertanyaan mendasar ini menjadi pembuka dalam Kajian Rabu Malam 29 Oktober 2025 yang disampaikan oleh Ustadz H. M. Sholeh Drehem, Lc., M.Ag. di Masjid Al Akbar.. Dalam kajian tersebut, beliau menjelaskan secara mendalam mengenai perintah Allah untuk memiliki sifat pemaaf (Al-‘Afwu) dan berpaling dari orang-orang yang tidak tahu (Al-I’radh ‘Alal Jahilin).
Inti dari pembahasan ini terletak pada bab “Babul Afwi Wal I’radh Anil Jahilin“, yakni bab yang menganjurkan setiap Muslim untuk membiasakan diri memberi maaf kepada orang lain. Kita, sebagai makhluk Allah yang bernama manusia, tidak luput dari kesalahan, baik kesalahan kita kepada orang lain maupun kesalahan orang lain kepada kita. Sifat pemaaf adalah penangkal konflik dan kunci ketenangan batin.
Ajaran ini dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Ketika suami melakukan kesalahan, istri diminta untuk memaafkan dan menyadarkannya, begitu pula sebaliknya. Orang tua kepada anak, kakak kepada adik, dan seterusnya. Memaafkan sebelum diminta adalah derajat tertinggi, sebab dengannya kita menunjukkan lapang dada dan menghindari permusuhan yang tidak perlu, karena tidak ada kenikmatan dari masalah yang berlarut-larut dalam keluarga besar.
Keutamaan memaafkan ini memiliki janji langsung dari Allah SWT. Dalam Surah An-Nur Ayat 22, Allah berfirman: “…maka berikan maaf kepada saudaramu yang bermasalah itu, dan sikapi dia dengan sikap yang baik… tidakkah kalian menginginkan mendapatkan ampunan Allah (a laa tuhibbuuna ayyaghfirallaahu lakum)?” Ayat ini menjadi motivasi terbesar, bahwa orang yang suka memaafkan dan berlapang dada, niscaya dosa-dosanya juga akan diampuni oleh Allah SWT.
Allah juga memberikan langkah-langkah praktis dalam menghadapi orang yang berbuat salah, sebagaimana tertuang dalam Surah Al-A’raf Ayat 199. Ada tiga langkah yang harus dilakukan seorang mukmin: pertama, “khudil ‘afwa” (berikan maaf), kedua, “wa’mur bil ‘urfi” (ajak dia sadar kepada kebaikan), dan ketiga, “wa a’ridh ‘anil jahilin” (berpalinglah dari orang-orang yang tidak tahu). Langkah ketiga ini digunakan jika upaya menyadarkan sudah tidak membuahkan hasil.
Sikap memaafkan ini dicontohkan secara sempurna oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Salah satu kisah paling dahsyat yang dialami Nabi, bahkan dianggap lebih berat daripada Perang Uhud, adalah peristiwa di Tha’if. Kala itu, Nabi dilempari batu oleh preman-preman Tha’if saat berdakwah.
Penderitaan Nabi mencapai puncaknya hingga darah mengalir deras, membasahi wajah, leher, dan mengisi sepatu beliau. Dalam keadaan lelah dan tersungkur, Nabi kemudian didatangi oleh Malaikat Jibril yang membawa Malaikat penjaga gunung. Malaikat tersebut siap melaksanakan perintah Nabi.
Malaikat penjaga gunung itu menawarkan kesempatan untuk membalas dendam dengan menghancurkan seluruh penduduk Tha’if dengan menimpakan dua gunung (Al-Akhsyabain) ke atas mereka. Ini adalah tawaran pembalasan yang setimpal atas perlakuan keji yang diterima Nabi.
Namun, jawaban Rasulullah sungguh luar biasa. Beliau menolak tawaran tersebut. “Jangan, jangan hancurkan kaumku ini,” ujar Nabi, “Saya masih berharap Allah nanti sekali waktu akan mengeluarkan dari anak cucu mereka, orang yang akan menyembah kepada Allah Yang Maha Esa.” Beliau justru mengangkat tangan dan berdoa: “Ya Allah, ampuni kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui misi yang saya bawa ini.”
Contoh lain dari kelapangan dada Nabi adalah ketika seorang Arab Badui menarik selendang beliau dengan sangat kasar saat menuntut harta. Tarikan itu begitu kuat hingga meninggalkan bekas merah di leher Nabi. Namun, alih-alih marah, Nabi justru menoleh sambil tertawa dan memerintahkan sahabatnya untuk memberikan apa yang diminta oleh Badui tersebut. Nabi memilih untuk memaafkan kekasaran itu dan memenuhi kebutuhan orang tersebut.
Dari semua kisah ini, terkandung pesan bahwa kekuatan sejati (As-Syadiid) bukanlah tentang fisik yang mampu mengalahkan orang lain dalam gulat. Sebagaimana sabda Nabi, orang yang kuat adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya ketika sedang marah. Ini adalah kontrol diri yang menjadi pembeda antara orang beriman yang matang dengan orang yang dikuasai oleh emosi.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan sifat pemaaf sebagai bekal dalam menjalani kehidupan. Mulai dari hal-hal kecil, maafkanlah kesalahan orang lain, berlapang dadalah, dan berpalinglah dari orang-orang usil yang tidak tahu. Dengan demikian, persaudaraan di antara kita akan dikokohkan, dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita sebagaimana kita mengampuni orang lain.
Sumber : Kajian Rabu Malam Ustadz H. M. Sholeh Drehem, Lc., M.Ag. di Channel Youtube Masjid Al Akbar TV