Kabarmasjid.id, Solo – Keimanan bukan sekadar pengakuan di lisan, melainkan sebuah pondasi yang mendalam dan tercermin melalui perilaku sehari-hari. Dalam upaya memperdalam pemahaman agama, umat Muslim sering kali merujuk pada kitab-kitab otoritatif seperti Shahih Bukhari. Kajian kitab tersebut menjadi jembatan bagi jamaah untuk memahami bagaimana Rasulullah SAW mendefinisikan iman, amal, hingga hubungan sosial antarsesama manusia dalam bingkai akhlak yang mulia.
Majelis Salaf Rouhah Siang ini dilaksanakan pada hari Senin, 16 Februari 2026, bertempat di Masjid Riyadh, Solo, dengan menghadirkan Ustadz Ahmad Syakir bin Ali Alhabsyi. Kajian ini mengupas tuntas beberapa bab penting dari Kitab Shahih Bukhari. Suasana khidmat menyelimuti masjid yang dikenal sebagai pusat dakwah tersebut saat beliau mulai membacakan hadis demi hadis di hadapan para jamaah yang antusias.
Pada awal kajian Ustadz Ahmad Syakir menekankan pentingnya sifat malu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari iman. Ustadz Ahmad Syakir menjelaskan bahwa malu bukan berarti rendah diri, melainkan sebuah kontrol internal yang mencegah seseorang dari perbuatan maksiat. Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa jika rasa malu telah hilang, maka seseorang akan kehilangan rem dalam bertindak dan cenderung melakukan apa saja tanpa mempedulikan norma agama maupun sosial.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa rasa malu yang paling utama adalah rasa malu kepada Allah SWT. Seorang mukmin sejati akan merasa senantiasa diawasi oleh Sang Pencipta di mana pun ia berada, sehingga ia tidak akan berani melanggar aturan-Nya meskipun tidak dilihat oleh mata manusia. Kesadaran akan kehadiran Tuhan (ihsan) ini menjadi puncak dari keimanan seseorang yang diaplikasikan secara nyata dalam keseharian.
Kajian kemudian beralih pada pembahasan mengenai amal yang paling utama (afdal) dalam Islam. Ustadz Ahmad Syakir menyebutkan bahwa jawaban Rasulullah SAW mengenai amal terbaik sering kali bersifat situasional, tergantung pada kebutuhan orang yang bertanya. Namun, poin utama yang ditekankan dalam kitab ini adalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya, berjihad di jalan Allah, serta melaksanakan ibadah haji yang mabrur sebagai perjalanan spiritual tertinggi.
Selain ibadah yang bersifat vertikal, narasumber juga menyoroti aspek sosial, seperti memberikan makan kepada sesama dan menyebarkan salam. Memberi makan dianggap sebagai amal yang sangat mulia karena menyentuh kebutuhan dasar manusia dan menumbuhkan kasih sayang antarwarga. Sementara itu, menyebarkan salam bukan hanya sekadar tegur sapa, melainkan doa keselamatan yang berfungsi mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat yang majemuk.
Salah satu poin tajam dalam kajian ini adalah pembahasan mengenai larangan membawa sisa-sisa sifat jahiliyah ke dalam pribadi seorang Muslim. Ustadz Ahmad Syakir mengingatkan agar setiap individu menjauhkan diri dari perilaku mencela keturunan atau menghina latar belakang keluarga orang lain. Menghina orang tua sesama Muslim disebut sebagai karakter buruk masa lalu yang harus dikubur dalam-dalam setelah seseorang memahami indahnya tuntunan Islam.
Aspek kemanusiaan juga dibahas dalam konteks hubungan antara majikan dan bawahan atau antara atasan dan staf. Islam mengajarkan agar kita memberikan beban pekerjaan sesuai dengan batas kemampuan orang lain. Jika sebuah tugas dirasa terlalu berat, maka sang atasan wajib turun tangan membantu bawahannya sebagai bentuk empati dan persaudaraan, bukan justru bersikap sewenang-wenang atas dasar kedudukan.
Beliau juga memberikan peringatan keras mengenai bahaya perpecahan dan konflik fisik antar-Muslim. Dalam hadis yang dibacakan, ditegaskan bahwa jika dua orang Muslim saling menghunuskan senjata dengan niat membunuh, maka keduanya terancam masuk neraka. Hal ini menunjukkan betapa sucinya nyawa seorang Muslim dan betapa buruknya perselisihan yang tidak diselesaikan dengan cara damai atau ishlah.
Selain masalah sosial, kajian ini menyentuh aspek psikologis, yaitu pentingnya introspeksi diri atau insaf. Ustadz Ahmad Syakir menekankan bahwa seorang mukmin yang baik adalah mereka yang lebih sibuk melihat kekurangan dirinya sendiri daripada mencari-cari kesalahan orang lain. Dengan terus-menerus memperbaiki diri, seseorang akan terjaga dari penyakit hati seperti kesombongan dan perasaan lebih mulia dari hamba Allah yang lain.
Menjelang akhir kajian, dipaparkan mengenai tanda-tanda kemunafikan yang harus diwaspadai agar tidak menghinggapi hati. Ada empat ciri utama yang dibahas: berkhianat saat diberi amanah, berbohong saat berbicara, ingkar saat berjanji, dan melampaui batas atau curang saat berselisih. Jika salah satu sifat ini ada pada diri seseorang, maka ia memiliki benih kemunafikan yang harus segera dibersihkan dengan taubat dan perbaikan akhlak.
Sebagai penutup, Ustadz Ahmad Syakir mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memohon hidayah agar diteguhkan imannya hingga akhir hayat. Majelis Rouhah bersama Ustadz Ahmad Syakir bin Ali Alhabsyi ini memberikan pesan kuat bahwa kesalehan seseorang diukur dari sejauh mana iman di hatinya mampu melahirkan akhlak yang manfaat bagi orang di sekitarnya. Semoga pemahaman ini menjadi bekal berharga bagi umat dalam menjalani kehidupan yang diridhai-Nya.
Sumber: Majelis Salaf Rouhah Siang di Masjid Riyadh Solo bersama Ustadz Ahmad Syakir bin Ali Alhabsyi membahas beberapa bab dari Kitab Shahih Bukhari