Kabarmasjid.id, Surabaya – Masjid bukan sekadar bangunan megah dengan arsitektur menawan, melainkan jantung spiritual bagi umat Islam yang harus dihidupkan dengan napas ibadah. Memakmurkan rumah Allah merupakan amanah besar yang menuntut kesucian niat dan konsistensi dalam amal perbuatan. Kajian tafsir Al-Qur’an ini disampaikan oleh Drs. KH. Abdullah Bahreisy di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya pada Jumat, 3 April 2026, yang mengupas tuntas hakikat pengelolaan masjid sesuai tuntunan Surat At-Taubah ayat 17-18.
Pada Awal Penyampaiannya, Drs. KH. Abdullah Bahreisy menekankan bahwa pasca menjalankan ibadah puasa Ramadan, umat Islam harus tetap konsisten dalam bertadarus dan memakmurkan masjid. Beliau mengingatkan bahwa ujian keimanan seseorang tidak hanya datang saat dalam kesulitan, tetapi juga saat dalam keadaan lapang dan sehat. Hal ini menjadi dasar penting bagi siapa saja yang ingin berjuang di jalan Allah melalui institusi masjid.
Memasuki pembahasan Surat At-Taubah ayat 17, beliau menjelaskan bahwa tidak semua orang memiliki kepantasan untuk menjadi pengelola atau takmir masjid di mata Allah. Ditegaskan bahwa orang-orang yang masih menyekutukan Allah atau tidak memiliki iman yang lurus tidaklah pantas memakmurkan masjid-masjid-Nya. Hal ini dikarenakan amal perbuatan mereka akan gugur dan tidak bernilai di hadapan Sang Pencipta karena adanya kekufuran dalam diri mereka.
Lebih lanjut, Beliau menguraikan kriteria mutlak bagi seseorang untuk disebut sebagai pemakmur masjid yang sejati berdasarkan ayat 18. Syarat pertama dan utama adalah iman kepada Allah dan hari akhir. Tanpa landasan iman yang kuat, segala aktivitas mengurus masjid hanya akan menjadi rutinitas organisasi atau sekadar mencari popularitas tanpa nilai spiritual yang mendalam di sisi Allah.
Syarat berikutnya yang ditekankan dalam kajian tersebut adalah konsistensi dalam mendirikan salat dan menunaikan zakat. Seorang pengelola masjid haruslah menjadi teladan dalam ibadah personal sebelum ia mengatur urusan jemaah. Sangat ironis jika seorang takmir hanya sibuk dengan urusan fisik bangunan namun abai terhadap panggilan azan yang berkumandang di masjidnya sendiri.
Poin penting lainnya adalah sifat keberanian yang hanya disandarkan kepada Allah atau khosyah. Pengurus masjid tidak boleh merasa takut kepada manusia atau kepentingan duniawi dalam menjalankan roda organisasi masjid. Keteguhan hati ini sangat diperlukan agar pengelolaan baitullah tetap berada di jalur yang benar dan tidak mudah terintervensi oleh hal-hal yang merusak marwah masjid.
Dalam kajian ini, Drs. KH. Abdullah Bahreisy juga menceritakan kisah inspiratif dari zaman Nabi Muhammad SAW tentang seorang budak hitam yang rutin menyapu Masjid Nabawi. Meskipun pekerjaannya tampak rendah di mata manusia, Rasulullah memberikan penghormatan luar biasa dengan menyalatkan jenazahnya secara khusus di atas kuburnya. Kisah ini mengajarkan bahwa pengabdian tulus, sekecil apa pun, memiliki kedudukan tinggi.
Beliau mengingatkan para pengurus masjid agar tidak terjebak pada urusan administratif semata, seperti hanya sibuk menghitung uang kotak amal atau sekadar menjaga legalitas jabatan. Sebaliknya, mereka harus mencontoh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang tidak segan turun tangan langsung membersihkan fisik masjid. Membersihkan masjid adalah tugas mulia yang bahkan menjadi tugas utama para nabi saat membangun Ka’bah.
Menariknya, kajian ini juga mengungkap peran strategis masjid sebagai penolak bala bagi suatu daerah. Mengutip sebuah hadis qudsi, dijelaskan bahwa Allah bisa saja mengurungkan azab yang akan diturunkan kepada suatu kaum karena melihat masjid-masjid di daerah tersebut masih makmur dengan jemaah yang beribadah, anak-anak yang mengaji di TPQ, dan aktivitas keagamaan lainnya.
Selain kemakmuran masjid, ada dua hal lain yang menjadi alasan Allah mengangkat bencana dari suatu wilayah. Hal tersebut adalah adanya orang-orang yang saling mencintai karena Allah dan mereka yang rajin beristigfar di waktu sahur. Ketiga elemen ini, jika dijalankan dengan baik oleh masyarakat, akan menjadi benteng spiritual yang menjaga keselamatan serta kedamaian wilayah tersebut dari berbagai musibah.

Beliau menutup dengan pesan agar jemaah tidak hanya membanggakan keindahan fisik masjid, seperti keramik yang mahal atau fasilitas yang mewah, jika esensi ibadahnya kosong. Kemakmuran masjid harus diukur dari seberapa aktif kegiatan dakwah dan salat jemaah yang berjalan di dalamnya. Masjid yang hanya megah secara fisik namun sepi jemaah adalah sebuah kerugian bagi umat di sekitarnya.
Sebagai kesimpulan, memakmurkan masjid adalah tanggung jawab kolektif yang berlandaskan iman dan ketaatan kepada Allah SWT. Dengan mengelola masjid sesuai kriteria yang digariskan dalam Al-Qur’an, diharapkan keberkahan akan turun menyelimuti kehidupan umat. Masjid yang hidup dan makmur bukan hanya menjamin pahala di akhirat, tetapi juga menghadirkan kehidupan dunia yang aman, makmur, dan tenteram.
Sumber: Kajian Tafsir Al-Qur’an Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya bersama Drs. KH. Abdullah Bahreisy