Kabarmasjid.id, Surabaya – Fenomena alam sering kali dipandang hanya sebagai peristiwa astronomi biasa oleh sebagian besar masyarakat modern. Namun, bagi seorang mukmin, setiap perubahan di langit dan bumi adalah ayat-ayat kauniyah yang membawa pesan mendalam dari Sang Pencipta. Melalui kajian singkat ini, kita diajak untuk melihat lebih dekat bagaimana peristiwa gerhana seharusnya menggetarkan hati dan meningkatkan kualitas ibadah kita.
Kajian Kultum Tarawih Malam ke-14 Ramadhan 1447 H ini dilaksanakan di Masjid Al-Irsyad dengan menghadirkan Ustadz M Munawwar, M.Ag. Dalam ceramahnya, beliau menyoroti fenomena gerhana matahari dan bulan yang terjadi berdekatan dengan bulan suci Ramadhan sebagai momentum untuk bermuhasabah. Beliau menekankan bahwa fenomena ini bukanlah sekadar rotasi benda langit, melainkan pengingat nyata akan kekuasaan Allah yang mutlak.
Ustadz Munawwar membuka kajian dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan matahari yang bersinar dan bulan yang bercahaya. Semua itu telah ditetapkan garis edarnya atau manazila agar manusia dapat mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu atau hisab. Tanpa keteraturan yang Allah ciptakan, manusia akan kesulitan dalam menentukan waktu ibadah maupun urusan duniawi lainnya.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah yang tunduk pada perintah-Nya. Meski matahari memiliki massa jutaan kali lipat dari bumi, Allah dengan mudah mengaturnya untuk berputar pada porosnya. Hal ini menjadi analogi bagi kehidupan manusia; jika benda langit yang begitu besar saja tunduk, maka manusia yang kecil ini tidak sepatutnya berlaku sombong di hadapan-Nya.
Fenomena gerhana yang terjadi saat ini disebut sebagai pengingat akan datangnya hari kiamat. Ust. Munawwar menjelaskan bahwa ketika kiamat tiba, bulan tidak lagi memancarkan cahayanya dan matahari akan dikumpulkan. Rasa takut yang muncul saat melihat kegelapan gerhana seharusnya memicu kesadaran bahwa kehidupan dunia ini fana dan pasti akan berakhir pada satu titik ketetapan Allah.
Beliau juga menceritakan bagaimana respon Rasulullah SAW ketika menyaksikan gerhana di zamannya. Rasulullah SAW merasa sangat ketakutan, bahkan gemetar karena khawatir kiamat telah tiba. Sikap pertama yang dilakukan Nabi adalah menyerukan kepada umatnya untuk segera menuju masjid (fazza’u ilal masajid) untuk berdoa, meminta ampunan, dan bertaubat kepada Allah SWT.
Hal penting yang ditegaskan dalam kajian ini adalah membantah mitos atau khurafat yang sering dikaitkan dengan gerhana. Pada zaman Nabi, gerhana matahari terjadi bersamaan dengan wafatnya putra beliau, Ibrahim. Masyarakat saat itu mengira alam ikut bersedih, namun Nabi segera berpidato dan menegaskan bahwa gerhana tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang, melainkan murni tanda kekuasaan Allah.
Oleh karena itu, umat Islam diimbau untuk tidak mengaitkan fenomena alam dengan hal-hal yang dapat menimbulkan kesyirikan. Sebaliknya, saat melihat gerhana, amalan yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak takbir, melaksanakan salat gerhana, berdoa dengan sungguh-sungguh, serta memperbanyak sedekah. Amalan-amalan ini merupakan bentuk penyerahan diri total kepada Sang Khaliq.
Kajian ini menjadi semakin relevan karena fenomena alam ini terjadi di bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Ust. Munawwar mengingatkan bahwa segala bentuk zikir dan doa di bulan ini memiliki kedudukan yang sangat mustajab. Momentum gerhana di bulan puasa seharusnya menjadi penguat bagi umat Islam untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah-ibadah terbaik.
Beliau juga mengingatkan tentang empat golongan yang dirindukan oleh surga, yang sangat selaras dengan amalan di bulan Ramadhan dan saat terjadi fenomena alam. Golongan tersebut adalah pembaca Al-Qur’an, orang yang menjaga lisannya, orang yang memberi makan mereka yang lapar, dan orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Keempat hal ini menjadi pondasi bagi seorang muslim untuk meraih rida Allah.
Dalam aspek sosial, Ustadz Munawwar menyinggung bagaimana Allah bisa memutar kondisi manusia layaknya memutar benda langit. Orang yang saat ini kaya bisa saja seketika menjadi miskin, dan bangsa yang saat ini berkuasa bisa saja suatu saat tertindas. Watilkal ayyamu nudawiluha bainannas, begitulah Allah mempergilirkan hari-hari di antara manusia agar mereka senantiasa waspada dan tidak melampaui batas.

Sebagai penutup, kajian ini diakhiri dengan doa yang khusyuk untuk memohon ampunan bagi seluruh kaum muslimin. Ustadz Munawwar mengajak jamaah untuk mendoakan keselamatan umat Islam di seluruh dunia, terutama mereka yang sedang mengalami penindasan. Harapannya, melalui pengingat berupa gerhana ini, setiap jiwa kembali bersih dan istikamah dalam menjalankan ketaatan hingga akhir hayat.
Sumber: Kultum Tarawih Malam ke-14 Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Irsyad, yang disampaikan oleh Ustadz. M Munawwar, M.Ag. membahas fenomena alam, khususnya gerhana, sebagai tanda kekuasaan Allah SWT.