Kabarmasjid.id, Surabaya – Sejarah mencatat bahwa tugas memimpin umat manusia menuju jalan kebenaran bukanlah perkara mudah, melainkan sebuah amanah besar yang menuntut kesiapan jiwa dan mental yang luar biasa. Jauh sebelum para nabi dan rasul menerima wahyu kedisplinan spiritual untuk mengemban risalah kenabian, Allah SWT ternyata telah meletakkan sebuah kurikulum pendidikan alam yang seragam bagi mereka. Melalui aktivitas yang tampak sederhana namun sarat makna, para utusan-Nya terlebih dahulu digembleng di hamparan padang rumput yang sunyi sebagai pengonsep awal kepemimpinan masa depan.
Pentingnya meneladani rekam jejak persiapan para nabi tersebut diulas secara mendalam oleh Ustadz Syarif Baswedan Lc. dalam Kajian Ba’da Maghrib yang mengangkat tema “Fiqih Siroh”. Kajian yang sarat akan ilmu dan hikmah kehidupan ini diselenggarakan pada hari Senin, 11 Mei 2026, bertempat di Masjid Taqwa Surabaya. Di hadapan para jemaah, sang narasumber membedah pandangan para ulama terkemuka mengenai alasan filosofis dan metodologis di balik perintah terselubung bagi para nabi untuk menjalani fase kehidupan sebagai penggembala kambing sebelum masa kenabian mereka tiba.
Merujuk pada syarah para ulama klasik seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dan Ibnu Batthal, fase menggembala kambing ini sejatinya merupakan bentuk latihan praktis (tamarun) yang sengaja diilhamkan Allah agar para nabi terbiasa menghadapi beban berat di kemudian hari. Karakteristik utama yang diasah melalui interaksi intensif dengan hewan gembalaan ini adalah lahirnya sifat kesabaran yang kokoh dan kasih sayang yang tulus dalam sanubari. Kelembutan hati seorang pengonsep umat tidak datang secara instan, melainkan lahir dari proses merawat makhluk hidup yang memiliki keterbatasan dan ketergantungan tinggi.
Kambing dipilih secara khusus oleh Allah SWT karena memiliki tabiat unik yang sangat berbeda dari hewan ternak lainnya seperti sapi, unta, atau bahkan bebek. Jika bebek bisa digiring dalam jumlah ribuan hanya dengan mengarahkan barisan depannya, kambing justru memiliki watak yang sangat mudah terpencar, egois, dan sulit disatukan dalam satu ikatan. Karakteristik kambing yang dinamis dan cenderung berjalan ke arahnya masing-masing memaksa seorang penggembala untuk senantiasa waspada, bergerak cepat ke sana kemari, serta memiliki stamina kesabaran yang tidak terbatas demi menjaga keutuhan kawanan tersebut.
Lebih jauh, kambing diidentifikasi oleh para ulama sebagai salah satu makhluk yang paling lemah di antara hewan gembalaan lainnya. Kerentanan fisik ini membuat kawanan kambing menjadi sasaran empuk bagi berbagai ancaman luar, mulai dari serangan hewan buas hingga potensi pencurian. Dari sinilah para nabi secara tidak langsung belajar tentang fungsi proteksi dan kepedulian; bagaimana melindungi mereka yang lemah, menambal kekurangan yang ada pada kelompok, serta mengobati yang sakit dengan penuh kelembutan tanpa merusak struktur kelompok yang dipimpinnya.
Gemblengan di padang rumput ini menjadi sangat relevan karena karakter kambing tersebut merupakan miniatur nyata dari sifat dasar umat manusia yang kelak akan mereka hadapi. Mengutip pandangan Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, manusia secara naluriah diciptakan dengan dua sifat bawaan yang buruk, yaitu zoluman (sangat zalim) dan jahula (sangat bodoh atau jahil). Sifat jahil manusia digambarkan sebagai kondisi di mana seseorang sebenarnya tidak mengetahui suatu kebenaran, namun memiliki kecenderungan untuk berlagak pintar, membantah, dan bersikap keras kepala ketika diarahkan ke jalan yang benar.
Menghadapi umat yang dipenuhi kezaliman dan kejahilan tentu membutuhkan modal kelapangan dada yang sangat luas. Melalui bekal pengalaman menghadapi keruwetan tingkah laku kambing, para nabi tidak akan mudah merasa lelah atau putus asa ketika mendapati umatnya melakukan penolakan. Sebagai contoh nyata, Nabi Nuh AS mampu bertahan menjalankan dakwah selama 950 tahun meski jumlah pengikut yang menerima seruannya sangatlah sedikit. Ketangguhan mental untuk terus bertahan di tengah badai penolakan umat ini merupakan hasil didikan alam yang telah melatih mereka untuk memahami bahwa proses menaklukkan hati membutuhkan waktu dan konsistensi yang panjang.
Selain melatih aspek manajerial dan kepemimpinan, menggembala kambing juga berfungsi membentuk karakter pribadi nabi yang penuh dengan ketawaduan. Berbeda dengan pemilik unta atau sapi di kawasan gurun yang sering kali terjangkit sifat sombong dan bersuara keras karena nilai ekonomis hewannya yang tinggi, para penggembala kambing justru dikenal sebagai pribadi yang tenang dan bersahaja. Sifat zuhud dan kesederhanaan hidup yang terpancar dari aktivitas ini membersihkan hati para utusan Allah dari segala bentuk kesombongan, sehingga mereka dapat memosisikan diri sejajar di tengah-tengah masyarakat.
Aspek penting lain yang diperoleh dari kehidupan di padang gembala adalah kemandirian yang tinggi. Ketika berada di tengah padang rumput yang luas dan sepi, seorang penggembala dipaksa untuk bersandar pada kemampuannya sendiri dan tidak bergantung pada bantuan orang lain dalam mengambil keputusan krusial. Dalam perspektif syariat, kemandirian dan kerja keras ini merupakan nilai kehormatan diri (muru’ah) yang sangat dijunjung tinggi. Islam secara tegas mendidik umatnya untuk menjadi pribadi yang mandiri dan melarang keras mentalitas meminta-minta kepada sesama hanya demi menumpuk kekayaan pribadi.
Terkait fenomena sosial mengenai maraknya perilaku meminta-minta, kajian ini mengingatkan kembali akan ancaman keras dari Rasulullah SAW, di mana harta yang diperoleh dari hasil meminta-minta tanpa kebutuhan yang mendesak diibaratkan seperti memakan bara api neraka. Islam memberikan pengecualian hukum hanya kepada tiga golongan yang berada dalam kondisi darurat, yakni mereka yang menanggung utang besar demi mendamaikan orang lain, orang yang bangkrut total akibat musibah, serta individu yang mengalami kesusahan parah hingga tidak mampu bekerja. Di luar kondisi mendesak tersebut, menjaga kehormatan diri dengan bekerja, sekecil apa pun hasilnya seperti menggembala, jauh lebih mulia di mata Allah.

Di penghujung ulasannya, konsep pengelolaan kawanan gembalaan ini ditarik ke dalam implementasi yang lebih praktis, yaitu mengenai adab dan esensi persahabatan sejati dalam Islam. Berkaca dari kebiasaan penggembala yang harus memahami keunikan setiap kambingnya, seorang muslim dalam hubungan pertemanan dituntut untuk memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Persahabatan yang ideal menurut syariat dibangun di atas pondasi saling menjaga rahasia, saling menasihati dalam kebaikan, serta selalu berusaha mencari uzur atau alasan baik atas kekurangan saudaranya daripada sibuk menghakimi dan mengumbar aib sesama.
Secara keseluruhan, fiqih siroh mengenai fase penggembalaan para nabi ini memberikan pelajaran berharga bahwa tidak ada kesuksesan besar yang lahir tanpa melalui tahapan proses yang matang. Allah SWT sengaja mendesain tahapan hidup tersebut agar para pemimpin umat memiliki kombinasi sempurna antara ketegasan strategi, kemandirian sikap, dan kelembutan hati yang penuh kasih sayang. Dengan memahami esensi didikan alam ini, setiap individu diharapkan mampu mengambil hikmah untuk melatih diri menjadi pemimpin yang sabar, bijaksana, dan senantiasa menjaga kehormatan diri serta sesama dalam kehidupan bermasyarakat.
Sumber: Kajian Ba’da Maghrib bertema “Fiqih Siroh” yang disampaikan oleh Ustadz Syarif Baswedan Lc. di Masjid Taqwa Surabaya pada Senin, 11 Mei 2026.