Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah derasnya arus modernisasi dan pergeseran nilai-nilai sosial saat ini, kerinduan masyarakat terhadap siraman rohani yang menyejukkan sekaligus tegas kian tak terbendung. Kehadiran majelis ilmu tidak sekadar menjadi ruang transfer pengetahuan, melainkan oase spiritual yang menuntun umat untuk kembali menata hati, adab, dan hubungan mereka dengan Sang Pencipta serta sesama manusia. Kesadaran mendalam inilah yang melatarbelakangi penyelenggaraan Pengajian Akbar bersama ulama karismatik, Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf, yang dilaksanakan di Masjid Nur Syamsiah pada tanggal 20 Juni 2026. Acara yang dihadiri oleh ratusan jemaah yang memadati ruang utama hingga pelataran masjid ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali hakikat kesalehan yang sejati di tengah tantangan zaman.
Dalam pemaparannya yang mengacu pada Kitab Nasha’ihud Diniyyah karya Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad, narasumber menekankan bahwa berteman dan duduk bersama para ulama serta hamba-hamba Allah yang saleh merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Hubungan yang karib dengan ahli kebaikan ini bukan sekadar rutinitas sosial, melainkan memiliki dampak spiritual yang sangat besar bagi seorang Muslim. Berkumpul dengan orang saleh diyakini mampu menularkan energi positif, memperkuat keimanan, dan membentengi diri dari pengaruh buruk lingkungan sekitar. Habib Taufiq mengingatkan bahwa lingkungan pergaulan adalah salah satu faktor penentu utama yang membentuk karakter, arah pemikiran, serta konsistensi seseorang dalam menjalankan syariat agama.
Lebih lanjut, beliau menguraikan kriteria esensial dari seorang yang saleh agar jemaah tidak terjebak pada penilaian yang bersifat semu atau artifisial. Kesalehan seseorang sama sekali tidak diukur dari sekadar kostum, pakaian, atau penampilan fisik yang tampak di permukaan. Mengutip pandangan para ulama, orang saleh yang sejati adalah mereka yang mampu menegakkan hak-hak Allah melalui ketaatan ibadah yang konsisten, sekaligus memenuhi hak-hak sesama manusia dengan menunjukkan akhlak yang mulia. Indikator utama dari kesalehan ini adalah adanya keseimbangan yang harmonis antara kualitas ibadah ritual, seperti salat dan puasa, dengan kesantunan hubungan sosial kepada orang tua, tetangga, serta kejujuran dalam urusan muamalah sehari-hari.
Untuk memudahkan pemahaman jemaah, sebuah analogi klasik dari hadis Nabi Muhammad SAW disampaikan secara mendalam, yaitu perumpamaan berteman dengan penjual minyak wangi (misik). Ketika seseorang berada dekat dengan penjual minyak wangi, maka ada beberapa kemungkinan keuntungan yang bisa ia dapatkan, baik dengan diberi olesan minyak wangi secara langsung, membelinya, atau minimal mencium aroma harumnya. Begitu pula saat seseorang memilih untuk mendekatkan diri dan berkumpul dengan para ulama maupun pemuka agama yang luhur budinya. Jemaah yang hadir di majelis ilmu tersebut, meskipun belum mampu menyamai derajat keilmuan sang guru, dipastikan akan ikut tertular oleh kebaikan, ketenangan jiwa, serta mendapatkan limpahan berkah spiritual dari atmosfer kesalehan yang terbangun.
Ilustrasi lain yang tidak kalah menyentuh hati adalah perumpamaan tentang selembar kertas karton yang biasa ditemukan tergeletak tanpa nilai di jalanan atau tempat sampah. Namun, ketika kertas karton tersebut dipilih dan diproses sedemikian rupa untuk dijadikan sebagai sampul atau kulit pelindung dari mushaf suci Al-Qur’an, seketika itu pula derajatnya berubah menjadi sangat mulia. Manusia tidak lagi memandangnya sebagai sampah, melainkan harus menyentuhnya dalam keadaan suci dengan berwudu, serta menempatkannya di tempat-tempat terhormat seperti di dalam masjid. Analogi ini memberikan pesan mendalam bahwa manusia yang sejatinya penuh dengan kekurangan dan dosa pun bisa menjadi mulia di hadapan Allah apabila mereka mau melekatkan diri dan berkumpul bersama para kekasih Allah.
Di dalam pengajian tersebut, Habib Taufiq juga membedah secara filosofis mengenai tiga tingkatan niat manusia ketika mereka memutuskan untuk hadir dan duduk di dalam suatu majelis ilmu atau zikir. Tingkatan pertama dan yang menduduki derajat tertinggi adalah orang-orang yang hadir dengan tujuan murni untuk menyerap ilmu, memperhatikan adab, serta berusaha keras meniru sifat-sifat terpuji dari sang ulama, seperti sifat sabar, syukur, dan tawaduk. Motivasi mulia inilah yang akan mengantarkan mereka menjadi generasi penerus atau khalifah yang melanjutkan estafet perjuangan dakwah di masa depan. Kelompok ini tidak sekadar menjadi pendengar yang pasif, melainkan mentransformasikan setiap butir nasihat menjadi panduan konkret dalam perilaku kehidupan mereka.
Sementara itu, tingkatan niat yang kedua dihuni oleh kelompok jemaah yang datang dan berkumpul didasari oleh rasa cinta yang mendalam terhadap agama serta figur orang saleh tersebut. Meskipun dalam realitas kehidupan sehari-hari mereka memiliki keterbatasan sehingga belum mampu meniru seluruh amalan sang guru secara sempurna, rasa cinta yang tulus itu menjadi jaminan spiritual tersendiri. Merujuk pada sabda Nabi bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama dengan siapa yang dicintainya, kelompok kedua ini akan mendapatkan kemuliaan di akhirat berupa kesempatan untuk berkumpul bersama para ulama yang mereka cintai. Penyesalan di dalam hati karena belum bisa maksimal dalam beribadah justru menjadi bukti keimanan yang hidup di dalam dada mereka.
Adapun tingkatan ketiga adalah mereka yang hadir dalam majelis semata-mata untuk mencari berkah dan mengharapkan wasilah doa-doa kebaikan dari para ulama karena kesibukan duniawi mereka yang sangat padat. Kelompok ini pun ditegaskan tidak akan pulang dengan tangan hampa, melainkan tetap mendapatkan guyuran rahmat dan ampunan dosa dari Allah SWT. Melalui penyampaian kisah tentang malaikat yang diutus khusus untuk mencari majelis zikir, terungkap bahwa bahkan seseorang yang salah masuk atau hadir dengan tujuan urusan pribadi pun akan ikut diampuni dosanya karena kemuliaan majelis tersebut. Penjelasan ini menjadi penyejuk hati yang menegaskan betapa luasnya samudera kasih sayang Allah bagi siapa saja yang mendekat ke rumah-rumah-Nya.
Namun, di balik penjelasan yang penuh rahmat tersebut, sebuah peringatan keras juga ditiupkan oleh sang narasumber terkait fenomena penyimpangan niat yang kerap terjadi di tengah masyarakat. Beliau mengecam keras individu-individu yang mendekati ulama atau mendatangi majelis-majelis keagamaan hanya untuk dijadikan alat politik, mencari popularitas, atau sekadar membangun citra positif demi menutupi kejahatan dunianya. Menggunakan kedekatan dengan figur kesalehan sebagai topeng untuk memanipulasi pandangan publik adalah tindakan keliru yang mengundang murka Allah SWT. Habib Taufiq mengingatkan bahwa Allah memiliki sifat cemburu (ghairah) yang sangat tinggi apabila para kekasih-Nya dijadikan objek permainan atau diperalat demi ambisi duniawi yang fana.
Memasuki sesi dialog dan tanya jawab, pengajian berkembang menjadi ruang edukasi fikih praktis yang sangat kontekstual dalam menjawab berbagai persoalan sehari-hari yang dihadapi oleh umat. Beberapa tema krusial dibahas secara lugas, mulai dari adab bersuci setelah mandi junub yang menekankan pentingnya buang air kecil terlebih dahulu agar sisa mani keluar dengan tuntas, hingga penjelasan mengenai batasan pakaian bagi laki-laki. Selain itu, persoalan sosial mengenai kedudukan anak angkat yang wajib menyelaraskan rasa hormat kepada orang tua kandung sebagai sebab wujudnya ke dunia, serta kepada orang tua angkat sebagai sebab kelangsungan hidupnya, dikupas tuntas dengan pendekatan yang bijaksana agar tidak menimbulkan keretakan hubungan kekeluargaan.
Persoalan hukum muamalah terkait dampak destruktif dari perjudian dan utang piutang yang menyertainya juga menjadi sorotan tajam dalam sesi tanya jawab tersebut. Habib Taufiq menegaskan kembali kebenaran ayat Al-Qur’an bahwa perjudian dan minuman keras adalah instrumen utama yang digunakan setan untuk menanamkan permusuhan dan kebencian di antara manusia. Dalam kasus utang piutang yang bersumber dari uang talangan judi, beliau menjelaskan secara jeli dari perspektif fikih bahwa meski perbuatan judinya adalah dosa besar, hak kebendaan berupa utang secara personal tetap harus diselesaikan agar tidak menjadi beban di akhirat. Beliau mengajak jemaah untuk membangun komitmen kuat meninggalkan segala bentuk kemaksiatan ekonomi dan beralih pada jalan takwa yang menjamin ketenangan hidup.

Sebagai penutup pengajian yang sarat makna tersebut, jemaah diajak untuk menyambut kedatangan bulan Muharram dengan meningkatkan kualitas amal ibadah, khususnya pada hari Tasua dan Asyura. Umat Islam dianjurkan untuk menjalankan ibadah puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sebagai bentuk rasa syukur sekaligus sarana penggugur dosa selama setahun yang lalu. Selain puasa, hari Asyura juga hendaknya dijadikan momentum untuk mempererat keharmonisan keluarga dengan memberikan nafkah atau belanja yang lebih menyenangkan bagi istri dan anak-anak, serta memperbanyak kepedulian sosial seperti menyantuni anak yatim. Melalui pesan-pesan yang mencerahkan ini, pengajian akbar di Masjid Nur Syamsiah sukses memberikan tuntunan komprehensif bagi jemaah untuk terus merawat adab dan kesalehan di tengah dinamika zaman.
Sumber: Pengajian Akbar Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf yang diselenggarakan di Masjid Nur Syamsiah pada Sabtu 20 Juni 2026.