KabarMasjid.id, Solo – Setiap hamba Allah mendambakan kedekatan sejati dengan Sang Pencipta. Namun, jalan menuju kedekatan itu seringkali terasa berat dan berliku. Mengupas tuntas rahasia di balik perjalanan spiritual ini, Ustadz Abubakar Fahmi Assegaf menyampaikan kajian yang mendalam dalam segmen Halaqoh Maghrib, yang diselenggarakan pada 14 November 2025, yang merupakan bagian dari program MJA Solo. Kajian ini secara khusus membahas tema Mujahadah (perjuangan) dan Riyadatun Nufus (pelatihan jiwa) dari Kitab Al Manhajussawiiy.
Inti dari perjalanan ini ditegaskan dalam firman Allah SWT, Surah Al-Ankabut ayat 69, “Siapa orang yang bersungguh-sungguh berjuang kepada kami maka kami akan berikan jalan kepada mereka, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang melakukan kebaikan.” Ayat ini menjadi landasan bahwa pencapaian spiritual bukanlah hadiah instan, melainkan hasil dari upaya sungguh-sungguh yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Menurut petuah Al Habib Al Imam Al Haddad, yang dikutip dalam kajian, jalan menuju Allah (Thariqah) ini memiliki dua fase utama: awalnya adalah kesabaran (sabar). Sabar menjadi modal utama karena perjuangan ini harus berhadapan langsung dan bertentangan dengan tuntutan hawa nafsu yang cenderung mengejar kenikmatan duniawi.
Pada fase awal ini, seseorang merasakan apa yang disebut sebagai taklif, yaitu satu hal yang dipaksakan. Misalnya, seorang muslim yang baru memeluk Islam akan merasakan beratnya kewajiban shalat lima waktu, meninggalkan pekerjaan sejenak, atau menahan diri dari lapar dan dahaga saat berpuasa. Semua itu dilakukan melalui pemaksaan diri karena bertolak belakang dengan kenyamanan yang diinginkan nafsu.
Perjuangan ini bahkan lebih berat ketika seseorang harus menghentikan kebiasaan maksiat yang sudah menjadi candu, seperti kecanduan minuman keras, perjudian, hingga kebiasaan korupsi. Menghentikan kecanduan ini menuntut tekad dan kesabaran yang luar biasa, sebab nafsu akan memberikan perlawanan hebat, bahkan terkadang memengaruhi emosi dan lingkungan sekitar.
Namun, inilah keajaiban dari mujahadah: ketika kesabaran itu terus dijalankan dengan ikhlas dan tanpa menuntut hasil, beban berat itu perlahan-lahan akan mencair. Rasa berat menjalankan perintah Allah lama-lama akan berkurang, dari beban yang memberatkan menjadi beban yang netral, hingga akhirnya tidak terasa lagi sebagai beban.
Fase ini mengantar pada akhir perjalanan spiritual, yaitu rasa syukur. Shalat yang dulunya terasa sebagai keterpaksaan dan kesulitan, kini bertransformasi menjadi kenikmatan dan kesenangan yang dinanti. Kenikmatan inilah yang membuat seorang hamba bersyukur, bahkan mampu menikmati segala takdir yang Allah tetapkan, baik itu kelapangan, kesempitan, kesehatan, maupun ujian penyakit.
Puncak dari segala mujahadah ini adalah dibukanya hakikat dan sampainya seorang hamba pada tujuan akhir, yang disebut Kasyful Hijab (terbukanya tabir) dan mencapai Martabatul Ihsan. Martabat Ihsan adalah kedudukan tertinggi dalam agama, yaitu ketika seseorang beribadah dan menjalani hidup seakan-akan ia melihat Allah, merasakan kehadiran-Nya di setiap waktu dan keadaan.
Kisah Nabi Yunus Alaihissalam menjadi contoh nyata dari Martabatul Ihsan. Ketika beliau berada dalam keadaan paling gelap dan terasing—di dalam perut ikan di dasar laut yang pekat—beliau tidak merasa sendirian. Justru di sanalah beliau merasakan kedekatan luar biasa dengan Allah, mengucap, “La ilaha illa anta” (Tiada Tuhan selain Engkau), seolah-olah sedang berbicara dengan Dzat yang berada di hadapannya.
Pada bagian akhir kajian, Ustadz Abubakar Fahmi Assegaf memberikan peringatan keras, khususnya mengenai adab seorang murid kepada guru (murabbi). Beliau mengingatkan agar umat tidak meniru tingkah laku seorang wali yang sudah mencapai makam wushul (sampai) jika belum melewati proses mujahadah yang sama.
Peringatan ini sangat relevan dengan fenomena di media sosial saat ini. Banyak netizen yang jahil dengan mudah menghakimi para kiai dan ulama berdasarkan tampilan luarnya, seperti mobil mewah atau gaya hidup. Mereka tidak tahu tentang mujahadah yang dilakukan ulama di belakang layar, yang menghabiskan malam mereka memohon ampun dan mendoakan keselamatan bagi murid-muridnya.
Oleh karena itu, mari kita jaga hati, telinga, dan jempol kita. Jauhi berprasangka buruk (su’uzzan) kepada para guru dan ulama yang telah Allah tinggikan derajatnya. Dengan menjaga Husnuzzan (prasangka baik), insyaallah Allah akan mewujudkan prasangka baik itu sebagai kebenaran dalam diri kita dan menjaga kita dari tipu daya setan.
Sumber: Halaqoh Maghrib Kitab Al Manhajussawiiy oleh Ustadz Abubakar Fahmi Assegaf di Channel Youtube MJA Solo