KabarMasjid.id, Malang – Kajian Kitab Akhlak Nashoihul Ibad yang disampaikan oleh K.H. Syihabuddin pada hari Senin 6 Oktober 2025, di Masjid Jami’ Al-Fattah Mergosono, Malang, mengupas mengenai kunci-kunci meraih ketenangan hidup. Melalui telaah mendalam terhadap kitab akhlak klasik tersebut, beliau memaparkan dua pelajaran fundamental: pentingnya metode dakwah yang merangkul dan bahaya hidup yang didominasi oleh keinginan, bukan kebutuhan.
Salah satu kisah yang menjadi sorotan adalah teladan dari para kyai sepuh di masa lalu. Mereka tidak hanya berdakwah dari atas mimbar, melainkan turun langsung ke tengah masyarakat, termasuk berinteraksi dengan orang-orang yang dikenal “berandal” atau pelaku maksiat. Kisah ini mengajarkan bahwa perubahan hati seringkali dimulai dari pendekatan personal, bukan ceramah yang menghakimi.
Dicontohkan oleh KH Syihabuddin, seorang kyai mendatangi langsung pemimpin kelompok perampok. Ia tidak datang untuk mencaci, melainkan untuk bersilaturahim layaknya tamu. Langkah ini menunjukkan penghormatan dan kasih sayang, yang langsung menggugah hati orang tersebut.
Pemimpin tersebut, yang merasa rendah diri atas perbuatannya, terharu karena seorang ulama bersedia menamunya. Perasaan inilah yang menjadi titik balik, di mana ia mulai tergugah dan merasa diterima meskipun dengan segala kekurangan dirinya.
Proses perangkulan pun dilakukan perlahan. Setelah kunjungan pribadi, kyai tersebut mengajak sang pemimpin untuk sekadar berkumpul di masjid, tanpa syarat harus salat atau beribadah. Lambat laun, kebiasaan berkumpul itu menumbuhkan kecintaan.
Hasilnya sungguh luar biasa. Mantan pemimpin kelompok jahat itu akhirnya menjadi pengurus dan pemakmur masjid. Perubahan pada sang pemimpin secara otomatis diikuti oleh para anak buahnya, yang perlahan mulai ikut memakmurkan masjid, membuktikan bahwa keteladanan jauh lebih kuat daripada sekadar ancaman.
Kajian kemudian beralih membahas perspektif terhadap dunia (dunya). Dunia disebut sebagai tempat persinggahan dan kesenangan sementara (mata’ihā) yang tidak bisa dihindari, termasuk di dalamnya harta dan pasangan hidup.
Kuncinya bukan lari dari dunia, melainkan menata niat (noto niat). Segala aktivitas duniawi harus diarahkan sebagai bekal dan penguat menuju kehidupan akhirat. Dalam konteks rumah tangga, perhiasan terbaik di dunia (khairu mata’ihā) adalah istri yang salihah, yang mampu melahirkan keturunan salih dan salihah sebagai tabungan pahala abadi.
Namun, hidup menjadi berat bukan karena tuntutan kebutuhan, melainkan karena banyaknya keinginan yang melampaui batas. Pembicara menganalogikan dengan masa kecil yang penuh ketenangan karena adanya keyakinan penuh kepada orang tua.
Ketika dewasa, rasa tenang itu sering hilang karena manusia mulai mengandalkan kekuatan, usaha, dan keahlian diri sendiri, alih-alih meyakini jaminan rezeki dari Tuhan. Keinginan untuk hidup mewah atau setara dengan tetangga menjadi beban yang menyeret pada utang dan kesulitan.
Menyentuh Maqalah ke-21 dari Nashoihul Ibad, kajian ini menyampaikan petuah kuno dari Kitab Taurat: “Barangsiapa yang rida (ikhlas menerima) dengan apa yang Allah berikan kepadanya, maka dia akan ringan di dunia dan di akhirat.”
Keridaan ini mencakup pemahaman luas tentang rezeki. Rezeki bukan hanya yang tampak (uang dan makanan), tetapi juga yang tidak tampak (sehat, tenang, dan musibah yang dihindarkan). Dengan menyadari bahwa musibah yang tidak menimpa kita juga merupakan nikmat agung, maka tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk tidak senantiasa bersyukur.
Sumber: Kajian Kitab Akhlak Nashoihul Ibad Bersama : K.H SYIHABUDDIN di Channer Youtube Masjid Jami’ Al-Fattah Mergosono Malang