Etika Lisan dan Media Sosial: Meneladani Adab Muslim Melalui Shahih Bukhari

Majelis Salaf Rouhah  Masjid Riyadh Solo Bersama Ustadz Ahmad Syakir bin Ali Alhabsyi
Majelis Salaf Rouhah  Masjid Riyadh Solo Bersama Ustadz Ahmad Syakir bin Ali Alhabsyi

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Solo – Di tengah dinamika zaman yang kian cepat, menjaga kemurnian iman menjadi tantangan tersendiri bagi setiap Muslim. Penting bagi kita untuk kembali merujuk pada tuntunan hadis Nabi Muhammad SAW guna memahami hakikat keberagaman yang menyejukkan. Salah satu majelis yang konsisten mengulas khazanah keislaman ini adalah Rouhah di Kota Solo yang selalu dinantikan oleh para pencari ilmu.

Kajian Majelis Salaf Rouhah ini berlangsung pada siang hari, Senin, 9 Februari 2026, bertempat di Masjid Riyadh, Solo, dengan menghadirkan Ustadz Ahmad Syakir bin Ali Alhabsyi. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengupas tuntas kitab Shahih Bukhari, khususnya pada bab “Kitab Al-Iman” yang menjelaskan tentang fondasi, tingkatan, serta tanda-tanda keimanan seorang hamba dalam perspektif yang mendalam.

Pembahasan awal dimulai oleh Ustadz Ahmad Syakir dengan mendefinisikan amalan Islam yang paling utama atau afdal. Berdasarkan hadis, salah satu ciri Muslim yang baik adalah mereka yang mampu menjamin keselamatan orang lain, baik dari gangguan lisan maupun tangannya. Hal ini menjadi pengingat bahwa iman tidak hanya soal ibadah ritual, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga martabat dan kenyamanan sesama.

Selain menjaga lisan, beliau menekankan bahwa perbuatan sosial seperti memberi makan kepada orang yang membutuhkan adalah manifestasi nyata dari kesempurnaan Islam. Menjamu tamu, berbagi dengan tetangga, atau sekadar memberi makan kepada orang asing merupakan bentuk kepedulian yang diajarkan Nabi. Perbuatan sederhana ini dianggap mampu mencairkan ketegangan sosial dan menumbuhkan rasa kasih sayang di masyarakat.

Tanda kesempurnaan iman berikutnya yang dijelaskan adalah kebiasaan menebar salam kepada siapa pun, baik yang dikenal maupun tidak. Ustadz Ahmad Syakir menyebutkan bahwa salam bukan sekadar sapaan formal, melainkan doa keselamatan yang dipanjatkan antar sesama Muslim. Dengan membudayakan salam, ukhuwah atau persaudaraan akan semakin kuat karena setiap orang merasa dihargai dan didoakan keselamatannya.

Kajian ini juga menekankan bahwa iman seseorang tidak akan mencapai puncaknya sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Prinsip ini menuntut setiap Muslim untuk memiliki empati yang tinggi dan kebersihan hati. Apa yang kita inginkan untuk kebaikan diri kita, itulah yang seharusnya kita harapkan dan usahakan pula bagi orang lain di sekitar kita.

Namun, ada satu tingkatan cinta yang lebih tinggi, yaitu cinta kepada Rasulullah SAW. Ustadz Ahmad Syakir menjelaskan bahwa iman baru dianggap sempurna jika rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW melebihi cinta kepada orang tua, anak, seluruh manusia, bahkan melebihi cinta kepada diri sendiri. Cinta inilah yang menjadi penggerak utama para sahabat dalam berkorban demi tegaknya dakwah Islam.

Terkait dengan rasa cinta tersebut, terdapat tiga perkara yang jika dimiliki seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman atau halawatul iman. Pertama adalah menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai yang paling dicintai di atas segalanya. Fokus cinta yang utama pada Sang Khalik dan Utusan-Nya akan membuat orientasi hidup seseorang menjadi lebih tenang, stabil, dan terarah.

Poin kedua dari manisnya iman adalah mencintai seseorang semata-mata karena Allah, bukan karena motif kepentingan duniawi atau materi. Sedangkan poin ketiga adalah adanya rasa benci yang sangat dalam untuk kembali kepada kekafiran atau kemaksiatan. Rasa takut terjerumus pada dosa digambarkan oleh beliau seperti takutnya seseorang jika dilemparkan ke dalam kobaran api neraka.

Memasuki bab tentang tantangan zaman, Ustadz Ahmad Syakir mengulas pentingnya menjauhkan diri dari fitnah untuk menjaga kualitas agama. Di era digital saat ini, beliau menyoroti penggunaan gawai (HP) yang bisa menjadi alat dakwah sekaligus sumber fitnah. Beliau mengingatkan agar setiap Muslim berhati-hati dalam berkomentar agar tidak terjebak dalam arus fitnah yang dapat merusak tatanan keimanan.

Keistimewaan para sahabat Nabi, khususnya kaum Ansar dan Ahlul Badar, juga turut dibahas sebagai teladan keimanan yang tak tergantikan. Beliau menegaskan bahwa mencintai para sahabat adalah bagian dari iman, sementara membenci mereka merupakan salah satu tanda kemunafikan. Perjuangan dan pengorbanan mereka harus menjadi inspirasi bagi generasi Muslim saat ini untuk tetap istikamah di jalan yang benar.

Sebagai penutup, Ustadz Ahmad Syakir mengingatkan bahwa setiap mukmin, sekecil apa pun iman di hatinya, memiliki harapan besar untuk mendapatkan rahmat Allah di akhirat kelak. Namun, tugas kita di dunia adalah terus memupuk iman tersebut agar benar-benar terasa manis dalam setiap langkah kehidupan. Melalui pembersihan hati dan amal saleh, kebahagiaan sejati niscaya dapat diraih.

Sumber: Majelis Salaf Rouhah  Masjid Riyadh Solo Bersama Ustadz Ahmad Syakir bin Ali Alhabsyi  membahas hadis-hadis dari kitab Shahih Bukhari,

E-Buletin