Etika Bermasyarakat di Era Digital: Kunci Tenang Menghadapi Komentar Negatif dan Menahan Amarah

Ustadz Dr. H. Nurul Yaqin, M.Pdi.
Ustadz Dr. H. Nurul Yaqin, M.Pdi.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Malang  – Interaksi sosial di tengah masyarakat sering kali menjadi ujian bagi kestabilan emosi dan spiritual seseorang. Menanggapi realitas tersebut, sebuah kajian mendalam memberikan panduan tentang bagaimana menjaga integritas diri dan kedamaian hati saat menghadapi dinamika sosial yang kompleks. Artikel ini merangkum poin-poin penting mengenai etika bermasyarakat dan kecerdasan spiritual.

Kajian rutin Jumat Ba’da Maghrib ini berlangsung di Masjid Agung Jami Malang pada 31 Januari 2026, menghadirkan narasumber Ustadz Dr. H. Nurul Yaqin, M.Pdi. Dalam kesempatan tersebut, beliau membedah kitab Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali, khususnya mengenai syair-syair yang memuat pesan tentang bekal spiritual bagi seseorang agar tetap menjadi pribadi yang baik di tengah masyarakat.

Ustadz Nurul Yaqin menekankan pentingnya ketenangan hati saat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Beliau menjelaskan bahwa di dalam kehidupan bertetangga atau berorganisasi, pasti akan ada kata-kata atau tindakan orang lain yang mungkin menyinggung perasaan. Kunci utama dalam menghadapinya adalah dengan tetap tenang dan tidak terburu-buru merespons segala sesuatunya dengan emosi yang meledak-ledak.

Sifat sabar menjadi pondasi kedua yang sangat ditekankan dalam kajian tersebut. Hati yang sabar digambarkan sebagai benteng yang mampu menahan amarah sehingga seseorang tidak mudah tersulut emosi negatif. Dengan kesabaran, seseorang dapat memproses segala bentuk gesekan sosial secara lebih bijak tanpa harus merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Poin yang sangat relevan dengan zaman sekarang adalah mengenai penjagaan lisan. Ustadz mengingatkan bahwa di era digital, lisan tidak hanya berupa ucapan mulut, tetapi juga jejak jari jemari di media sosial. Menjaga lisan berarti berhati-hati dalam mengetik komentar di dunia maya agar tidak mengandung cacat atau menyakiti perasaan orang lain yang tidak tampak di depan mata.

Selain menjaga ucapan, mengendalikan pandangan dan merahasiakan aib juga menjadi bagian dari etika bermasyarakat. Ustadz Nurul Yaqin menyarankan agar segala keluh kesah, rahasia, maupun kekurangan diri hanya diadukan kepada Allah SWT melalui munajat. Hal ini bertujuan agar kehormatan diri tetap terjaga dan hubungan personal dengan Sang Pencipta menjadi semakin erat di tengah hiruk pikuk dunia.

Kajian ini juga menyentuh aspek keikhlasan dalam membantu sesama manusia. Beliau menjelaskan bahwa saat kita sibuk membantu orang lain di siang hari, hendaknya dilakukan tanpa mengharap timbal balik atau terus-menerus mengingat jasa tersebut. Bantuan harus didasari pada perintah Allah untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan, sehingga hati tetap bersih dari sifat riya.

Memasuki dimensi spiritual yang lebih dalam, Ustadz Nurul Yaqin memaparkan konsep “tubuh di masyarakat, hati bersama Tuhan”. Meskipun fisik kita terlibat dalam berbagai muamalah dan interaksi sosial, namun batin harus tetap terhubung atau ta’aluk kepada Allah. Konsep ini menuntut konsentrasi batin yang tinggi agar aktivitas duniawi tidak memutus ingatan kepada Sang Khalik.

Ustadz Nurul Yaqin mengakui bahwa mencapai tingkatan spiritual seperti itu adalah perkara yang sangat berat atau amrun syadidun. Dibutuhkan latihan yang terus-menerus agar seseorang bisa tetap berzikir dalam hati saat tangannya sedang bekerja atau mulutnya sedang berbicara. Shalat lima waktu menjadi sarana latihan utama untuk membangun kesadaran akan kehadiran Tuhan di setiap waktu.

Kecerdasan spiritual ini memiliki dampak praktis yang luar biasa, salah satunya adalah mencegah perilaku koruptif. Seseorang yang merasa selalu diawasi oleh Allah (makam Ihsan) tidak akan berani melakukan tindakan curang atau menipu, meskipun tidak ada kamera CCTV atau aparat hukum yang melihat. Rasa takut akan pertanggungjawaban di akhirat menjadi kontrol internal yang paling ampuh.

Ustadz Nurul Yaqin juga mengajak jamaah untuk meneladani perilaku para ulama terdahulu yang telah berpulang dalam keadaan baik. Beliau mengingatkan bahwa kehidupan manusia di dunia hanyalah sementara, dan tujuan akhirnya adalah mencapai Husnul Khatimah. Mengingat kematian dan hari kiamat seharusnya menjadi motivasi untuk terus memperbanyak amal saleh di sisa usia yang ada.

Sebagai penutup, Ustadz Nurul Yaqin  memberikan kesimpulan bahwa keberhasilan seseorang dalam bermasyarakat sangat bergantung pada kualitas hubungan batinnya dengan Allah. Dengan menjaga lisan, sabar dalam pergaulan, dan ikhlas dalam membantu, seseorang tidak hanya akan selamat dalam interaksi sosial di dunia, tetapi juga mendapatkan kedudukan yang mulia di mata Allah.

Sumber: Kajian Rutin Jumat Ba’da Maghrib di Masjid Agung Jami Malang bersama Ustadz Dr. H. Nurul Yaqin, M.Pdi yang membahas Kitab Bidayatul Hidayah

E-Buletin