Esensi Ulama Sejati: Sederhana dalam Penampilan, Tulus dalam Pengabdian

Kajian Rutin Rabu Ba'da Shubuh di Masjid Agung Jami Malang bersama KH. Marzuki Mustamar
Kajian Rutin Rabu Ba'da Shubuh di Masjid Agung Jami Malang bersama KH. Marzuki Mustamar

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Malang – Dunia dakwah kontemporer sering kali terjebak dalam hiruk-pikuk popularitas dan kemegahan fisik. Di tengah fenomena tersebut, pesan-pesan penyejuk hati yang menekankan pada esensi spiritualitas menjadi sangat krusial. Dalam sebuah kesempatan berharga, KH. Marzuki Mustamar memberikan pencerahan mengenai pentingnya menjaga niat dan perilaku dalam beragama agar tidak terjebak dalam penyakit hati yang merusak.

Kajian rutin ini berlangsung pada hari Rabu setelah waktu subuh, bertempat di Masjid Agung Jami Malang pada tanggal 7 Januari 2026. KH. Marzuki Mustamar menyampaikan materi yang berfokus pada kritik diri bagi para pengabdi agama dan jamaah agar tetap istikamah di jalan keikhlasan. Beliau membuka kajian dengan menekankan bahwa ukuran kemuliaan seseorang di mata Allah sangat berbeda dengan ukuran yang sering digunakan manusia di dunia digital saat ini.

Pada awal penyampaiannya, Kyai Marzuki mengingatkan bahwa jumlah murid yang melimpah atau santri yang banyak bukanlah jaminan bahwa seorang guru benar-benar alim atau baik. Di zaman sekarang, kepandaian dalam mengelola media sosial dan strategi promosi yang gencar sering kali lebih menentukan jumlah pengikut daripada kedalaman ilmu itu sendiri. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak mudah terpukau hanya oleh angka-angka popularitas yang muncul di permukaan.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa kemegahan bangunan pondok pesantren juga bukan merupakan standar kealiman seorang Kyai. Beliau mencontohkan pesantren-pesantren di masa lalu yang bangunannya sangat sederhana, bahkan hanya terbuat dari kayu atau gubuk, namun mampu mencetak ribuan santri yang berkualitas. Fokus utama seorang pendidik seharusnya adalah pada proses transfer ilmu dan wirid, bukan pada upaya mempercantik fisik bangunan demi menarik perhatian penyumbang atau calon santri.

Kyai Marzuki kemudian memberikan rumusan dari Rasulullah SAW tentang cara menilai kebaikan seseorang, yaitu dengan melihat bagaimana hubungan orang tersebut dengan lingkungan terdekatnya. Menurut beliau, penilaian tetangga, keluarga, dan orang-orang di sekitar rumah jauh lebih akurat daripada penilaian orang jauh yang hanya melihat penampilan luar saat ceramah. Seseorang benar-benar dianggap baik jika ia diterima dengan tulus oleh masyarakat di lingkungannya sendiri, bukan hanya dipuja-puji di media sosial.

Prinsip dakwah yang paling mendasar, menurut beliau, adalah membereskan urusan internal keluarga sebelum melangkah ke panggung publik. Sangat ironis jika seseorang sibuk berceramah ke berbagai daerah sementara keluarganya sendiri tidak terdidik dengan baik secara agama. Keberhasilan menata akhlak anak dan istri merupakan fondasi utama bagi siapa saja yang ingin menjadi pelayan umat, agar dakwah yang disampaikan memiliki ruh dan keberkahan.

Beliau juga menyoroti pentingnya kerendahan hati bagi para tokoh agama untuk tetap membaur dengan masyarakat tanpa sekat. Ulama yang benar adalah mereka yang tetap mau melayat tetangga yang wafat, ikut kerja bakti, dan tidak merasa eksklusif karena status sosialnya. Pesantren-pesantren besar di Jawa, seperti Sidogiri, Lirboyo, dan Gading, menjadi teladan karena lokasinya yang menyatu dengan pemukiman warga, sehingga keberadaannya menjadi sumber rezeki dan keberkahan bagi lingkungan sekitar.

Penyakit hati yang paling diwaspadai dalam kajian ini adalah “Lil-Wah” atau keinginan untuk dipuji dan terlihat hebat. Kyai Marzuki mengingatkan bahwa batas antara berjuang karena Allah (Lillah) dan berjuang karena pujian (Wah) sangatlah tipis. Sifat ujub, sum’ah, dan keinginan untuk viral sering kali menghinggapi hati manusia secara halus, sehingga perlu kewaspadaan tinggi agar segala amal ibadah tidak sia-sia hanya karena mencari pengakuan makhluk.

Kritik tajam juga disampaikan mengenai penyakit materialisme atau sifat keduniawian yang terkadang menghinggapi para mubalig. Beliau menyayangkan adanya oknum yang hanya mau berdakwah jika diberikan imbalan materi yang besar, bahkan sampai merasa tidak dihargai jika fasilitas yang diberikan kurang mewah. Padahal, esensi dari dakwah adalah pengabdian yang tulus kepada umat, tanpa harus terikat pada ukuran amplop atau kemewahan konsumsi yang disediakan panitia.

Sebagai teladan, beliau mengisahkan sosok Kyai Yasin Yusuf yang sangat istikamah dalam berdakwah tanpa pamrih. Meski berkali-kali tidak diberikan ongkos oleh panitia, beliau tetap hadir saat diundang kembali karena niatnya semata-mata karena Allah. Keteguhan seperti inilah yang membuktikan kualitas seorang ulama sejati, di mana tindakan mereka tidak dipengaruhi oleh ada atau tidaknya materi yang diterima.

Selain itu, Kyai Marzuki menyoroti sifat iri dengki atau hasad yang bisa muncul di kalangan tokoh agama. Beliau merasa prihatin jika ada Kyai yang merasa terancam dengan berdirinya pesantren baru di sekitarnya. Seharusnya, bertambahnya institusi pendidikan Islam disambut dengan gembira karena akan memperkuat benteng pertahanan umat, bukan malah dianggap sebagai pesaing bisnis yang harus dijatuhkan melalui fitnah atau cara-cara yang tidak terpuji.

Sebagai penutup, beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa mengoreksi aib diri sendiri daripada sibuk mencari kesalahan orang lain. Perilaku lahiriah yang tidak baik, seperti sulit mengucap salam atau enggan bersalaman, biasanya merupakan cerminan dari hati yang sedang sakit atau penuh kebencian. Kajian diakhiri dengan doa yang khusyuk, memohon agar Allah menjauhkan umat dari sifat-sifat buruk dan menjaga hati agar tetap bersih demi menggapai rida-Nya.

Sumber: Kajian Rutin Rabu Ba’da Shubuh di Masjid Agung Jami Malang bersama KH. Marzuki Mustamar

E-Buletin