Ekoteologi: Rahasia Jiwa Tenang Melalui Harmoni dengan Alam Semesta

Prof. Dr. K.H. Muhibin Zuhri, M.Ag
Prof. Dr. K.H. Muhibin Zuhri, M.Ag

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Bulan Ramadhan bukan sekadar momen untuk menahan lapar dan dahaga, melainkan waktu yang tepat untuk melakukan refleksi mendalam tentang hubungan kita dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam semesta. Di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis lingkungan yang kian nyata, konsep ekoteologi hadir sebagai pengingat bahwa menjaga bumi adalah bagian tak terpisahkan dari iman seorang Muslim.

Kajian mendalam mengenai tema ini disampaikan oleh Prof. Dr. K.H. Muhibin Zuhri, M.Ag. dalam acara Ngaji Ngabuburit “Healing Ramadhan” yang berlangsung pada Selasa, 24 Februari 2026, bertepatan dengan 6 Ramadan 1447 H. Bertempat di Ruang Utama Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Prof. Muhibin membedah keterkaitan erat antara ajaran Islam dan pelestarian lingkungan hidup dalam perspektif teologis.

Dalam paparannya, Prof. Muhibin menekankan bahwa definisi ibadah dalam Islam sangatlah luas dan tidak terbatas pada ritual formal seperti salat atau puasa saja. Manusia diciptakan sebagai khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi yang memiliki tanggung jawab moral untuk merawat semesta selama 24 jam penuh. Segala aktivitas positif, mulai dari menanam pohon hingga mengelola sampah, jika diniatkan karena Allah, maka akan bernilai pahala yang setara dengan ibadah ritual.

Beliau menjelaskan konsep ekoteologi sebagai cara pandang terhadap alam yang berbasis pada nilai-nilai ketuhanan. Alam semesta bukanlah objek untuk dieksploitasi tanpa batas, melainkan “ayat” atau tanda kekuasaan Allah yang terhampar (ayat kauniyah). Merusak alam, dalam pandangan ini, sama saja dengan merusak tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta yang seharusnya dijaga kehormatannya oleh setiap orang beriman.

Salah satu prinsip dasar yang diangkat adalah kasih sayang yang bersifat universal, sebagaimana pesan Nabi Muhammad SAW untuk menyayangi siapa pun yang ada di bumi agar disayangi oleh penduduk langit. Kasih sayang ini tidak hanya berlaku antarmanusia, tetapi juga kepada hewan dan tumbuhan. Sikap empati terhadap makhluk hidup terkecil sekalipun menjadi parameter sejauh mana seseorang menghayati sifat Rahman dan Rahim Allah dalam kesehariannya.

Lebih lanjut, Prof. Muhibin menyoroti konsep Mizan atau keseimbangan yang menjadi hukum dasar penciptaan alam semesta. Allah telah merancang bumi dengan sistem yang sangat presisi, mulai dari kadar oksigen hingga siklus air. Namun, keserakahan manusia sering kali merusak neraca keseimbangan ini melalui eksploitasi berlebihan yang akhirnya memicu bencana alam seperti banjir bandang dan pemanasan global sebagai dampak arus balik.

Terkait fenomena kerusakan lingkungan saat ini, kajian tersebut mengingatkan bahwa setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban atas dampak ekologis yang mereka timbulkan. Bagi para pemangku kebijakan, memberikan izin eksploitasi yang merusak alam atau melakukan pembiaran terhadap perusakan lingkungan adalah sebuah kemaksiatan kebijakan. Hal ini ditegaskan sebagai dosa jariah yang dampaknya akan terus mengalir selama kerusakan tersebut dirasakan oleh makhluk hidup.

Dalam sesi interaksi, Prof. Muhibin memberikan saran praktis bagi generasi muda atau Gen Z untuk memulai perubahan dari hal-hal kecil. Membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik, hingga menghemat air saat berwudu adalah langkah nyata menjadi representasi Tuhan yang baik di bumi. Perubahan besar dunia sering kali bermula dari konsistensi anak muda dalam melakukan kebaikan sederhana yang didasari keyakinan teologis yang kuat.

Beliau juga mencontohkan bagaimana Masjid Al Akbar Surabaya telah berupaya menerapkan prinsip ramah lingkungan. Salah satu contoh nyata adalah sistem pengelolaan air bekas wudu yang dialirkan kembali untuk mengairi tanaman dan kolam ikan. Praktik semacam ini menunjukkan bahwa institusi keagamaan dapat menjadi pelopor dalam menunjukkan cara beribadah melalui konservasi sumber daya alam secara berkelanjutan.

Isu polusi mikroplastik yang mulai mencemari rantai makanan hingga masuk ke tubuh manusia turut menjadi sorotan dalam kajian ini. Hal ini menjadi pengingat bahwa kerusakan yang kita lakukan terhadap alam pada akhirnya akan kembali merugikan kesehatan dan keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Kesadaran ekologis di bulan Ramadan ini diharapkan dapat menjadi titik balik bagi jemaah untuk lebih peduli terhadap apa yang mereka konsumsi dan buang.

Sebagai penutup, Prof. Muhibin mengajak jemaah untuk tidak hanya mengejar kesalehan pribadi, tetapi juga kesalehan sosial dan ekologis. Menjadi pribadi yang “healing” atau tenang jiwanya di bulan suci ini harus dibarengi dengan raga yang kuat dan lingkungan yang sehat. Dengan menjaga harmoni antara manusia dan alam, maka ketenangan batin yang sejati akan lebih mudah dicapai karena kita hidup selaras dengan hukum Tuhan.

Melalui kajian di Masjid Al Akbar ini, diharapkan semangat Ramadhan dapat bertransformasi menjadi gerakan pelestarian lingkungan yang masif. Mengakhiri sesi dengan doa, Prof. Muhibin berharap agar umat Muslim diberikan kekuatan untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga bumi. Semoga setiap langkah kecil kita dalam merawat lingkungan menjadi saksi keimanan kita di hadapan Allah SWT kelak.

Sumber: Ngaji Ngabuburit di Masjid  Al Akbar Surabaya Bersama Prof. Dr. K.H. Muhibin Zuhri, M.Ag. dengan tema “Islam dan Lingkungan (Ekoteologi)”

E-Buletin