Ego Modern vs Tabiat Iblis: Mengapa Manusia Hari Ini Begitu Sulit Mengaku Salah?

Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz
Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz

Bagikan postingan :

Kabarmasjid, Surabaya – Dunia digital hari ini sering kali dipenuhi oleh narasi yang menuntut semua orang untuk selalu terlihat sempurna, benar, dan tanpa cela. Di tengah ego modern yang semakin meninggi, manusia kerap lupa bahwa salah satu sifat paling mulia yang membedakan manusia dari makhluk terkutuk adalah keberanian untuk mengakui kesalahan. Kesediaan untuk menundukkan kepala, mengakui kekhilafan, dan meminta maaf tampaknya menjadi barang langka yang mulai luntur dalam interaksi sosial kita sehari-hari.

Guna membedah esensi penting di balik sikap berani mengakui kesalahan tersebut, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya menggelar Kajian Kitab Nashaihul Ibad pada hari Senin, 18 Mei 2026. Hadir sebagai narasumber utama dalam kajian bakda Magrib tersebut adalah Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz. Di hadapan ratusan jemaah yang memadati ruang utama masjid serta para pemirsa online, beliau mengupas tuntas Maqalah ke-21 dari kitab legendaris karya Syekh Nawawi Al-Bantani, yang mengulas komparasi mendalam antara sifat Iblis dan Nabi Adam alaihis salam.

Dalam pemaparannya, Ustadz Muzakki menjelaskan sebuah riwayat dari Muhammad Ibnu Addauri yang menegaskan bahwa Iblis terlempar dari surga dan menjadi makhluk paling celaka karena lima perkara. Sebaliknya, Nabi Adam alaihis salam justru meraih kebahagiaan sejati juga karena lima perkara. Melalui perbandingan ini, jemaah diajak untuk berkaca bahwa sebagai keturunan Adam, manusia tidak akan pernah luput dari salah dan dosa. Namun, yang membedakan akhir perjalanan seorang hamba adalah bagaimana ia merespons kesalahan yang telah diperbuatnya.

Perkara pertama dan paling mendasar yang membuat Iblis terlaknat adalah karena ia tidak pernah mau mengakui dosanya. Ego dan kesombongan yang membubung tinggi membuat Iblis selalu merasa berada di pihak yang benar, bahkan ketika secara nyata menentang perintah penciptanya. Di era sekarang, watak seperti ini sangat mudah ditemui ketika seseorang yang jelas-jelas berbuat salah atau merugikan orang lain justru memutarbalikkan fakta demi menyelamatkan nama baik atau status sosialnya.

Sifat buruk kedua dan ketiga dari Iblis adalah tidak adanya rasa menyesal sedikit pun dan enggan mencela diri sendiri atas dosa yang diperbuat. Alih-alih merenungi kesalahannya, Iblis justru sibuk mencari pembenaran dan melemparkan kesalahan kepada situasi luar. Karakteristik ini kemudian disempurnakan oleh poin keempat dan kelima, yaitu menunda-nunda tobat serta berputus asa dari rahmat Allah SWT. Kombinasi kelima sifat inilah yang mengunci mati hati Iblis dalam lingkaran kutukan hingga hari kiamat nanti.

Kondisi yang bertolak belakang terjadi pada kisah Nabi Adam alaihis salam. Sebagai manusia pertama, Nabi Adam bukanlah makhluk yang luput dari kekhilafan ketika mencicipi buah terlarang di surga. Namun, yang membuat beliau menjadi makhluk yang berbahagia adalah poin pertama: beliau langsung mengakui dosanya tanpa mencari alasan. Kalimat pengakuan yang jujur dan tulus inilah yang menjadi pembuka pintu ampunan dari Allah Yang Maha Pengasih.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Muzakki melantunkan doa pengakuan Nabi Adam yang diabadikan dalam Al-Qur’an, yakni “Rabbana dhalamna anfusana wa illam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.” Doa yang berarti pengakuan atas kezaliman diri sendiri ini dibaca secara istikamah oleh Nabi Adam dan Ibu Hawa sebagai bukti penyesalan yang mendalam. Pengakuan yang tulus, rasa penyesalan yang menggetarkan jiwa, serta keberanian mencela kelemahan diri sendiri menjadi anak tangga bagi Nabi Adam untuk naik kembali ke derajat kemuliaan.

Dua poin terakhir yang menyempurnakan kebahagiaan Nabi Adam adalah keputusannya untuk segera bertobat tanpa menunggu hari esok, disertai keyakinan penuh bahwa ia tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Ustaz Muzakki mengingatkan jemaah bahwa sebesar apa pun dosa seorang hamba, ampunan dan kasih sayang Allah selalu jauh lebih besar. Keteguhan iman untuk selalu mengejar rahmat Tuhan inilah yang menyelamatkan manusia dari keputusasaan hidup yang merusak.

Lebih lanjut, Ustadz Muzakki juga memberikan kritik sosial yang sangat kontekstual mengenai fenomena masyarakat modern saat ini. Beliau menyoroti kebiasaan buruk sebagian orang yang gemar mengumbar masalah pribadi, konflik rumah tangga, hingga aib diri sendiri di media sosial melalui status atau unggahan digital. Padahal, Allah SWT telah dengan sangat baik menutup rapat aib-aib setiap hamba-Nya di dunia agar manusia tetap bisa hidup dengan terhormat di tengah sesamanya.

Di samping itu, Ustadz Muzakki juga mengingatkan bahwa setiap ibadah dan syariat yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada manusia pada hakikatnya mengandung unsur tobat untuk menggugurkan dosa. Mulai dari ibadah wudu yang mampu merontokkan dosa-dosa kecil seiring mengalir dan menetesnya air dari anggota tubuh, ibadah salat yang di dalamnya penuh dengan doa permohonan ampunan, hingga ibadah umrah dan haji mabrur yang dijanjikan sebagai penebus dosa terdahulu. Pemahaman ini memberikan kesadaran bagi jemaah bahwa pintu untuk kembali menjadi hamba yang bersih selalu terbuka lebar melalui rutinitas ibadah sehari-hari.

Beliau menegaskan bahwa tempat terbaik untuk mencurahkan segala keluh kesah, air mata, dan pengakuan dosa bukanlah di jagat maya yang penuh dengan penghakiman manusia, melainkan di atas sajadah melalui ibadah salat. Orang yang memiliki kedekatan spiritual yang kuat dengan penciptanya cenderung akan menjaga privasi hidupnya di hadapan publik. Seseorang yang terbiasa menumpahkan segala keluh kesahnya secara intim kepada Allah secara otomatis tidak akan merasa butuh untuk mencari validasi atau simpati murah di media sosial.

Di penghujung kajian, suasana interaktif terasa ketika memasuki sesi tanya jawab dengan jemaah. Salah seorang jemaah melontarkan pertanyaan mengenai hukum mengucapkan kalimat ancaman menuntut seseorang di akhirat karena merasa dizalimi di dunia. Menanggapi hal tersebut, narasumber menjelaskan bahwa secara hukum agama hal itu diperbolehkan, terutama ketika keadilan di pengadilan dunia sudah tidak bisa diharapkan lagi akibat maraknya fitnah dan kecurangan.

Meski demikian, Ustadz Muzakki memberikan nasihat bijak agar kalimat tersebut sebaiknya cukup disimpan di dalam hati demi menjaga keikhlasan. Membalas kejelekan dengan kejelekan yang setimpal memang bukan sebuah dosa, tetapi memilih untuk memaafkan dan menyerahkan segala urusan kepada pengadilan Allah yang maha adil menjanjikan pahala yang jauh lebih besar di sisi-Nya. Kajian malam itu akhirnya ditutup dengan doa bersama, meninggalkan pesan mendalam bagi jemaah untuk selalu meneladani sifat mulia Nabi Adam dalam mengakui kesalahan demi meraih ketenangan hidup.

Sumber: Kajian Kitab Nashaihul Ibad bersama Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz pada Senin, 18 Mei 2026 di Masjid Al Akbar Surabaya

E-Buletin