Kabarmasjid.id, Solo – Kehidupan modern sering kali menjebak manusia dalam hiruk-pikuk duniawi yang seolah tiada akhir. Namun, di tengah gemuruh zaman, tuntunan Al-Qur’an tetap menjadi kompas abadi yang mengingatkan kita akan hakikat penciptaan dan etika berinteraksi sesama makhluk. Kajian mendalam mengenai Surah Al-Isra memberikan perspektif baru tentang bagaimana seorang mukmin seharusnya memandang hari esok yang hakiki serta menjaga lisan dalam setiap diskusi.
Majelis Salaf Rouhah yang berlangsung pada Senin, 2 Maret 2026, bertempat di Masjid Riyadh, Solo, menghadirkan kajian tafsir kitab Sofwatut Tafasir yang disampaikan oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi. Dalam suasana yang khidmat, beliau membedah rangkaian ayat dalam Surah Al-Isra yang menitikberatkan pada jawaban atas keraguan kaum musyrikin terkait hari kebangkitan. Penjelasan ini menjadi fondasi penting bagi umat untuk memperkuat akidah di tengah berbagai syubhat pemikiran yang berkembang saat ini.
Salah satu poin utama yang dibahas oleh Ustadz Ali adalah ketegasan Allah SWT dalam menanggapi keraguan manusia terhadap kehidupan setelah mati. Beliau menjelaskan bahwa bagi Allah, menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur adalah perkara yang sangat mudah. Bahkan, jika manusia berubah menjadi batu atau besi sekalipun—benda yang dianggap tidak memiliki unsur kehidupan—kekuasaan Allah tetap mampu mengembalikan mereka ke dalam wujud semula untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Logika penciptaan juga ditekankan dalam kajian ini sebagai bentuk pembuktian rasional yang kuat. Ustadz Ali mengingatkan bahwa menciptakan sesuatu dari ketiadaan (awal mula) jauh lebih sulit daripada sekadar mengembalikan sesuatu yang sudah pernah ada. Jika manusia mengakui adanya penciptaan pertama, maka secara logika, mereka seharusnya tidak memiliki alasan untuk meragukan adanya kebangkitan kedua yang akan terjadi di hari kiamat nanti.
Menariknya, narasumber juga menyoroti bagaimana persepsi manusia terhadap waktu akan berubah saat hari kebangkitan tiba. Ketika dibangkitkan dari kubur, manusia akan merasa bahwa kehidupan dunia yang mereka jalani selama puluhan tahun hanyalah terasa seperti sekejap saja atau sebentar di waktu siang. Kesadaran ini menyiratkan pesan mendalam agar manusia tidak terlalu terlena dengan kesenangan dunia yang semu dan sementara.
Selain aspek akidah, kajian ini menyentuh sisi akhlak yang sangat relevan, yaitu adab berbicara atau al-qaulu al-ahsanu. Ustadz Ali menjelaskan bahwa Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk selalu memilih kata-kata yang paling baik dan lembut dalam berkomunikasi. Etika ini tidak hanya berlaku kepada sesama Muslim, tetapi juga ditekankan saat berdialog dengan mereka yang berbeda keyakinan agar pesan kebenaran dapat diterima dengan hati yang terbuka.
Beliau mengingatkan bahwa lisan yang tajam dan kasar merupakan pintu masuk utama bagi setan untuk memicu permusuhan. Setan selalu mencari celah dalam setiap ucapan yang kurang pantas untuk “menggoreng” suasana menjadi kemarahan dan kebencian. Oleh karena itu, menjaga lisan bukan sekadar formalitas kesopanan, melainkan strategi spiritual untuk menutup ruang gerak setan yang ingin memecah belah persaudaraan antarmanusia.
Terkait dengan tugas dakwah, kajian ini memberikan penegasan bahwa kewajiban seorang nabi maupun dai hanyalah menyampaikan kebenaran secara sebaik-baiknya. Ustadz Ali menekankan bahwa hasil akhir atau hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah SWT. Hal ini mengajarkan kepada kita untuk tidak berkecil hati jika ajakan kebaikan tidak langsung membuahkan hasil, karena nilai sebuah perjuangan terletak pada proses penyampaiannya yang sesuai dengan tuntunan syariat.
Pembahasan kemudian berlanjut pada keistimewaan para nabi yang dipilih oleh Allah berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya. Ustadz Ali membantah anggapan kaum musyrikin yang memandang rendah fisik atau status sosial seorang utusan. Kenabian bukanlah soal kekayaan atau kekuasaan, melainkan tentang kesucian jiwa yang dipilih langsung oleh Sang Pencipta. Kita diajarkan untuk menghormati seluruh nabi tanpa membeda-bedakan martabat mereka sebagai utusan Allah.
Setiap nabi membawa mukjizat dan keistimewaan yang berbeda-beda, seperti Nabi Ibrahim sebagai Khalilullah dan Nabi Musa sebagai Kalimullah. Namun, Nabi Muhammad SAW tetap memegang posisi sebagai Sayyidul Awwalina wal Akhirin (pemimpin orang-orang terdahulu dan kemudian). Perbedaan tingkatan ini harus disikapi dengan penuh penghormatan tanpa sedikit pun merendahkan nabi-nabi yang lain dalam setiap diskusi keagamaan.

Kajian ini juga memperingatkan tentang kesia-siaan mencari perlindungan kepada sesembahan selain Allah. Segala bentuk syafaat atau pertolongan di hari kiamat hanya bisa terjadi atas izin Allah SWT. Mereka yang menyekutukan Allah tidak akan mendapatkan pembelaan sedikit pun dari apa yang mereka sembah di dunia. Hal ini kembali memperkuat prinsip tauhid bahwa hanya Allah-lah satu-satunya tempat bergantung yang hakiki.
Sebagai penutup, Ustadz Ali menjelaskan tentang Syafaatul Uzma yang menjadi hak istimewa Nabi Muhammad SAW untuk memulai proses hisab di Padang Mahsyar. Syafaat ini merupakan bentuk kemuliaan yang diakui oleh seluruh makhluk. Dengan memahami tafsir ini, diharapkan umat Islam dapat semakin mencintai Rasulullah serta berkomitmen untuk senantiasa menjaga adab dan akidah dalam setiap langkah kehidupan sehari-hari.
Sumber: Majelis Salaf Rouhah Siang Kajian Tafsir Kitab Sofwatuttafasir di Masjid Riyadh Solo oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi