Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan di dunia sering kali terasa seperti labirin yang penuh dengan teka-teki kesulitan. Saat badai ujian datang bertubi-tubi, refleks pertama seorang mukmin adalah menengadahkan tangan, memanjatkan doa, dan memperbanyak zikir di atas sajadah. Namun, pernahkah Anda merasa bahwa langit seolah bergeming dan doa-doa yang dipanjatkan belum juga membuahkan hasil? Di tengah kegelisahan itulah, kita perlu menyadari bahwa Allah SWT telah menyediakan banyak pintu lain untuk mendatangkan jalan keluar, salah satunya adalah dengan membantu menyelesaikan urusan orang lain.
Pesan spiritual yang mendalam ini dikupas tuntas dalam Kajian Ahad Shubuh yang berlangsung pada Minggu, 7 Juni 2026, bertempat di Masjid Ash-Shoobiriin. Menghadirkan narasumber Al-Ustadz Abdullah Ubaid, S.H.I., kajian akhir pekan ini mengusung tema yang sangat relevan dengan dinamika sosial masyarakat saat ini, yaitu “Pertolongan Allah Datang Lewat Membantuan Orang Lain”. Kehadiran jamaah yang memadati ruang utama masjid menjadi bukti betapa rindunya umat terhadap tuntunan agama dalam menghadapi peliknya ujian hidup sehari-hari.
Dalam pemaparannya, Ustadz Abdullah Ubaid mengingatkan kembali hakikat mendasar dari kehidupan fana ini. Beliau menegaskan bahwa dunia yang kita pijak bukanlah tempat untuk bersantai, berleha-leha, apalagi berharap bebas dari masalah. Dunia dirancang oleh Sang Pencipta sebagai arena ujian bagi setiap hamba. Tidak jarang, ujian tersebut datang bertubi-tubi tanpa jeda; sebuah masalah belum usai, ujian lain yang lebih besar sudah mengantre di depan pintu kehidupan.
Ketika berada dalam impitan masalah yang tampak buntu, banyak orang terjebak pada rutinitas keluhan yang justru memperkeruh suasana. Di sinilah Ustadz Abdullah menawarkan sebuah formula langit yang diadopsi dari hadis qudsi periwayatan Abu Hurairah r.a.. Formula tersebut mengajak kita untuk sedikit mengalihkan fokus dari masalah pribadi, menyimpannya sejenak, lalu melihat sekeliling untuk mendampingi saudara seiman yang sedang dirundung kesulitan.
Lebih lanjut, beliau membedah makna kata ‘nafasa’ dalam hadis tersebut yang berarti membersihkan atau menuntaskan masalah secara totalitas. Orang yang secara ikhlas membersihkan satu kesulitan saudaranya di dunia, dijanjikan akan dibersihkan dari berbagai kedahsyatan kesulitan pada hari kiamat kelak. Bahkan, jika kemampuan kita terbatas dan tidak bisa menyelesaikan masalah orang lain hingga tuntas, sekadar memberikan kemudahan atau bantuan semampu kita sudah cukup bagi Allah untuk mempermudah urusan kita di dunia dan akhirat.
Melalui kajian ini, jamaah diajak untuk menghidupkan kembali sifat itsar, yaitu sebuah keluhuran budi yang mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Sifat mulia ini merupakan karakter utama para sahabat Nabi yang langsung dipuji oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Dengan memiliki empati yang tinggi dan mengedepankan hajat orang lain, seorang hamba sejatinya sedang menarik perhatian dan kasih sayang Allah agar turun ke dalam kehidupannya.
Ustadz Abdullah juga meluruskan pemahaman masyarakat terkait ayat populer ‘Fainna ma’al usri yusro’. Beliau menggarisbawahi kekeliruan umum yang mengartikan bahwa kemudahan datang “setelah” kesulitan. Menggunakan pendekatan tata bahasa Arab, kata ‘ma’a’ berarti “bersama”. Artinya, pada detik yang sama saat Allah menurunkan sebuah ujian, di situ pula Allah sebenarnya sudah menyertakan ribuan pertolongan. Masalahnya, ego manusia sering kali menutup mata mereka untuk melihat pertolongan tersebut.
Tuntunan aplikatif pun diberikan di dalam masjid, di mana Ustadz Abdullah mengapresiasi program sosial konkret seperti penyediaan makan gratis untuk para pengemudi ojek online (ojol). Bagi sebagian orang, nominal sebungkus nasi mungkin terasa kecil, namun bagi para pekerja jalanan yang sedang berjuang di tengah impitan ekonomi, bantuan tersebut adalah berkah luar biasa. Melalui sedekah kecil yang meringankan beban perut orang lain inilah, jaminan keselamatan dari siksa kubur dan huru-hara padang mahsyar dapat diraih.
Suasana kajian semakin dinamis saat memasuki sesi tanya jawab, di mana salah satu jamaah meluruskan ayat ‘La yukallifullahu nafsan illa wus’aha’. Ustadz Abdullah menjelaskan bahwa ayat ini sering kali salah ditempatkan sebagai penghibur orang yang tertimpa musibah. Secara kontekstual, ayat tersebut berbicara tentang beban syariat (taklif syari’ah), bukan beban ujian hidup. Allah menegaskan bahwa tidak ada satu pun perintah agama yang berada di luar batas kemampuan fisik dan finansial manusia.
Pertanyaan menarik lainnya mengemuka mengenai fenomena sosial di mana orang yang dibantu justru menjadi malas dan menggantungkan hidupnya kepada sang penolong (jagakne). Menanggapi hal ini, sang narasumber mengingatkan agar umat Islam tetap selektif dan bijaksana. Meniru strategi Rasulullah SAW, bantuan terbaik untuk tipe orang seperti ini bukanlah memberinya uang tunai secara terus-menerus, melainkan memberikan modal kerja atau alat usaha agar mereka terpacu untuk berikhtiar secara mandiri.
Kajian ini juga memberikan solusi fikih kontemporer terkait pemanfaatan zakat penghasilan untuk melunasi utang saudara kandung secara diam-diam. Ustadz Abdullah membolehkan hal tersebut asalkan sang saudara masuk dalam kategori gharimin—orang yang berutang untuk menyambung hidup, bukan demi gaya hidup foya-foya. Melunasi utang mereka tanpa sepengetahuan yang bersangkutan dipuji sebagai langkah cerdas agar tidak menimbulkan sifat ketergantungan di masa depan.

Sebagai penutup, ditekankan sebuah pesan penting tentang larangan mengeluh kepada sesama manusia. Berdasarkan hadis sahih, barang siapa yang mengumbar kesulitannya kepada manusia, maka Allah akan mengekalkan kesulitan tersebut. Sebaliknya, mereka yang menyembunyikan lukanya, mengadu hanya kepada Allah, dan tetap ringan tangan membantu orang lain, akan didekap oleh Allah dengan rezeki yang datang tak terduga. Melalui momentum Kajian Ahad Shubuh di Masjid Ash-Shoobiriin ini, kita diajak pulang membawa paradigma baru: jika ingin urusan kita dipermudah oleh langit, maka permudahlah urusan makhluk di bumi.
Sumber: Kajian Ahad Shubuh bersama Ustadz Abdullah Ubaid, S.H.I. di kanal YouTube Masjid Ash-Shoobiriin Surabaya pada Minggu 7 Juni 2026