Dampak Makanan Halal dan Haram: Kunci Diterimanya Sholat dan Ibadah Anda

Halaqoh Maghrib oleh Ustadz Anis Habibi Maulachela
Halaqoh Maghrib oleh Ustadz Anis Habibi Maulachela

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Solo – Kajian Halaqoh Maghrib pada 7 November 2025 di Masjid Jami’ Assagaf Surakarta yang disampaikan oleh Ustadz Anis Habibi Maulachela telah mengulas sebuah topik fundamental yang sering terabaikan dalam kehidupan modern, yaitu pengaruh krusial dari apa yang masuk ke dalam perut kita. Dalam keseharian yang serba cepat, perhatian terhadap sumber makanan—apakah itu halal atau haram—sering kali terlupakan. Padahal, menurut ajaran Islam, kehalalan rezeki memiliki dampak yang sangat menentukan, tidak hanya pada kualitas hidup, tetapi juga pada nasib ibadah seseorang di sisi Allah SWT.

Ustadz Anis mengawali pembahasannya dengan mengutip nasihat dari Imam Ghazali yang menjelaskan betapa besar pengaruh sesuatu yang halal atau haram yang masuk ke dalam tubuh terhadap ibadah dan kehidupan. Pengaruh ini bersifat sistematis: rezeki yang halal akan membuahkan amal saleh dan keberkahan, sementara rezeki haram akan menjadi penghalang besar bagi kebaikan dan penerimaan amal.

Poin penting ini diperkuat oleh susunan firman Allah dalam Al-Qur’an: “Makanlah kalian dari segala sesuatu yang thayyibat (halal), dan beramallah amal yang saleh (qulu minat thyyibati wa’malu shihah).” Ustadz Anis menjelaskan bahwa penyebutan mencari yang halal lebih dahulu sebelum perintah beramal saleh bukanlah tanpa alasan. Itu adalah penegasan bahwa salah satu syarat utama diterimanya amal ibadah oleh Allah adalah kehalalan makanan yang dikonsumsi seorang hamba.

Lebih jauh, perjuangan mencari nafkah yang halal ini memiliki nilai yang sangat tinggi. Rasulullah ﷺ bersabda, barang siapa berusaha memberi nafkah kepada keluarganya dari jalur yang halal, maka ia seperti orang yang berjihad di jalan Allah (Mujahid Fi Sabilillah). Bahkan, orang yang mencari dunia melalui cara yang halal dan menjaga diri dari yang haram akan mendapatkan kedudukan setara dengan orang yang mati syahid.

Pengaruhnya bahkan menyentuh aspek spiritual paling pribadi, yaitu hati. Nabi ﷺ menjanjikan bahwa barang siapa makan makanan halal selama 40 hari berturut-turut, maka Allah akan menyinari hatinya dan menjadikannya zuhud kepada dunia. Sebaliknya, makanan haram akan memadamkan cahaya hati, membuat hati menjadi hitam pekat, dan menjauhkan seseorang dari hidayah.

Selain diterima atau tidaknya amal, faktor halal ini juga menjadi penentu utama dikabulkannya doa. Nabi ﷺ pernah berpesan kepada seorang sahabat, “Perbaiki makananmu (yang halal) maka doamu akan diijabah.” Hal ini menegaskan bahwa seberapa pun khusyuknya doa kita, jika sumber rezeki masih kotor, pintu ijabah akan tertutup.

Ustadz Anis kemudian menceritakan kisah pilu tentang seorang pengembara yang tampak tua, kusut, dan sering bepergian, yang mengangkat tangan berdoa dengan penuh harap. Namun, Nabi ﷺ bersabda, “Bagaimana mungkin doanya diijabahi?” Sebab, makanan yang dimakan haram, pakaian yang dipakai haram, dan nafkah yang diberikan kepada keluarganya pun bersumber dari yang haram.

Ancaman penolakan amal ini bersifat total. Sebuah riwayat hadis menyebutkan seruan malaikat di Baitul Maqdis: “Barang siapa makan makanan yang haram, maka tidak akan diterima amal sunahnya, tidak akan diterima amal wajibnya.” Ini menunjukkan bahwa mengonsumsi barang haram dapat membatalkan pahala sholat, puasa, dan ibadah wajib lainnya.

Saking pentingnya kehalalan rezeki, Nabi ﷺ memberikan ilustrasi keras: jika seseorang membeli pakaian seharga sepuluh dirham dan di dalamnya terdapat satu dirham yang haram (hanya 10%), maka Allah tidak akan menerima salatnya selama pakaian itu masih melekat di badannya. Jika pakaian dengan sedikit unsur haram saja bisa menolak salat, bagaimana dengan harta benda dan makanan yang keseluruhannya haram?

Bahkan, bukan hanya amal ibadah yang terpengaruh, tetapi juga kecenderungan anggota tubuh. Imam Sahl at-Turtusi berpesan: “Seseorang kalau yang dimakan haram, maka mau tidak mau anggota tubuhnya akan maksiat.” Sebaliknya, makanan yang halal akan menggerakkan anggota badan untuk taat, menjadikannya condong kepada kebaikan.

Ulama salaf dan para sahabat sangat mewaspadai hal ini. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, saking hati-hatinya, pernah memasukkan jarinya ke tenggorokan untuk memuntahkan susu yang ia curigai hasil dari perkara syubhat (tidak jelas kehalalannya). Tindakan wara’ (kehati-hatian) ini menunjukkan standar iman yang sangat tinggi, bahkan rela mengorbankan kenyamanan demi menjaga kebersihan perut.

Sebagai penutup, Ustadz Anis menegaskan kembali bahwa makanan halal adalah kunci utama untuk mendapatkan karunia Allah. Kehalalan rezeki menjadi sebab diterimanya amal, dikabulkannya doa, dan didapatkannya keberkahan. Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi setiap Muslim untuk secara konsisten meneliti, menimbang, dan hanya mengonsumsi serta menafkahkan rezeki yang murni halal.

Sumber: Halaqoh Maghrib oleh Ustadz Anis Habibi Maulachela di Channel Youtube Masjid Jami’ Assagaf Surakarta

E-Buletin