Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kerap kali memicu rasa cemas, hampa, dan stres, manusia sering kali mencari pelarian untuk menenangkan batinnya. Mulai dari hiburan digital hingga tempat-tempat rekreasi dikunjungi demi mengusir penat, namun tidak jarang ketenangan yang didapat hanya bersifat semu dan sementara. Padahal, bagi seorang Muslim, Islam telah menyediakan fasilitas terbaik yang langsung menghubungkan seorang hamba dengan Sang Pencipta demi meraih kedamaian sejati, yakni melalui ibadah di keheningan malam. Kesadaran inilah yang kembali digugah dalam Kajian Kitab Nashoihul Ibad edisi 6 Juli 2026 yang disampaikan oleh narasumber Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.
Dalam ceramah yang berlangsung khidmat di hadapan jamaah salat Magrib tersebut, Ustadz Ahmad Muzakki mengupas pelajaran ke-27 dari Kitab Nashoihul Ibad yang secara khusus membahas tentang pentingnya munajat. Munajat sendiri diartikan sebagai momen berbisik atau mengadu kepada Allah SWT dengan penuh ketulusan, yang idealnya dilakukan di waktu malam hari. Mengutip perkataan seorang tabiin terkemuka, Yahya bin Muad Ar-Razzi, beliau menyampaikan bahwa malam hari akan terasa sangat kering dan hampa tanpa adanya komunikasi spiritual yang intim antara seorang hamba dengan Tuhannya.
Lebih lanjut, narasumber menjelaskan mengapa berdoa dan bermunajat di sepertiga malam memiliki kedudukan yang begitu istimewa dalam tradisi para salafus saleh. Ketika siang hari, semua orang sibuk beraktivitas dan memohon berbagai hajat materi kepada Allah. Namun, pada malam hari, di saat mayoritas manusia sedang terlelap, hanya orang-orang pilihan dengan tingkat keimanan tertentu yang bersedia terjaga untuk mengetuk pintu langit. Di momen sunyi inilah, doa-doa seorang hamba menjadi lebih didengar karena mencerminkan ketulusan yang murni tanpa adanya sekat riya.
Untuk memberikan gambaran konkret tentang keindahan munajat, Ustadz Ahmad Muzakki membacakan untaian bait puisi karya Sahabat Ali bin Abi Thalib RA yang dikelompokkan dalam rumpun sastra Arab Bahr Wafir. Puisi tersebut bukan sekadar susunan kata indah, melainkan refleksi jiwa yang mendalam mengenai pengakuan atas kelemahan diri. Melalui syair itu, Sahabat Ali menggambarkan posisi seorang hamba yang tenggelam dalam lautan kesusahan, tertawan oleh banyaknya dosa, serta dilingkupi kesedihan yang amat sangat.
Melalui analogi syair tersebut, kajian ini menekankan satu realitas penting dalam kehidupan: bumi sering kali terasa sempit dan sesama penduduk bumi tidak akan pernah tahu obat atau solusi dari masalah yang kita hadapi. Manusia pada hakikatnya memiliki keterbatasan, sehingga berharap pada sesama makhluk sering kali justru mendatangkan kekecewaan. Hanya Allah SWT, Sang Maha Pencipta dan Pengatur hidup, yang benar-benar memahami detail permasalahan hamba-Nya dan memiliki kuasa penuh untuk memberikan jalan keluar terbaik.
Dari titik inilah, Ustadz Ahmad Muzakki menyelipkan nasihat mendalam sekaligus menggelitik agar umat Muslim mulai mengurangi kebiasaan mengeluh atau “curhat” kepada sesama manusia. Beliau mengingatkan bahwa bercerita kepada manusia belum tentu menyelesaikan masalah, karena setiap orang juga memiliki beban hidupnya sendiri. Bahkan dalam banyak kasus nyata, menceritakan masalah atau aib pribadi kepada teman dekat bisa menjadi bumerang yang membahayakan jika suatu saat hubungan pertemanan tersebut merenggang dan rahasia kita disebarluaskan.
Oleh karena itu, alternatif terbaik yang ditawarkan oleh Islam adalah mengalihkan seluruh keluh kesah tersebut melalui ibadah salat malam (qiyamul lail). Ustadz menyebutkan bahwa sebaik-baik salat setelah salat fardu adalah salat malam, di mana Allah berjanji akan mengabulkan permintaan hamba-Nya. Segala macam masalah—baik itu urusan pribadi, problematika keluarga, impitan ekonomi, hingga urusan sosial politik—sudah sepatutnya diadukan langsung di atas sajadah di keheningan malam.
Menariknya, esensi dari doa dalam pandangan para ulama terdahulu bukanlah sekadar meminta kesenangan duniawi seperti harta atau fasilitas yang serbadetail. Doa terbaik justru adalah permohonan ampunan atas segala dosa yang telah lalu. Ketika seorang hamba fokus meminta ampunan dan hatinya dibersihkan oleh Allah, maka ketenangan batin (sakinah) akan turun dengan sendirinya. Rasa tenang inilah kemewahan tertinggi yang sesungguhnya, sebab kekayaan materi melimpah sekalipun tidak akan terasa nikmat jika hati seseorang selalu diselimuti kegelisahan.
Kajian spiritual ini kemudian berlanjut pada sesi tanya jawab yang interaktif bersama jamaah. Salah seorang jamaah mengajukan pertanyaan yang mewakili kegundahan banyak orang, yaitu mengenai rasa malu dan tidak pantas diampuni saat berdoa karena merasa memiliki rekam jejak dosa masa lalu yang sangat kelam. Pertanyaan kritis ini dijawab dengan sangat menyejukkan oleh narasumber, yang menegaskan bahwa sejatinya tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang luput dari status sebagai pendosa.
Ustadz Ahmad Muzakki mengedukasi jamaah agar membuang jauh-jauh rasa malu untuk kembali kepada Allah SWT. Allah justru sangat mencintai hamba-Nya yang bersedia datang bersimpuh, menangis, dan mengakui kesalahan masa lalunya secara jujur (iktiraf) di hadapan-Nya. Beliau menganalogikan kebahagiaan Allah melihat hamba-Nya yang bertaubat melampaui kegembiraan seorang musafir yang sempat kehilangan seluruh bekal dan tunggangannya di tengah gurun, lalu tiba-tiba bekal tersebut ditemukan kembali dalam keadaan utuh.
Satu penekanan penting yang diberikan adalah mengenai komitmen dalam bertaubat. Allah senantiasa membuka pintu ampunan seluas-luasnya untuk dosa sebesar apa pun, asalkan hamba tersebut memiliki niat kuat untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat yang sama. Hal yang mendatangkan murka Allah adalah apabila seseorang menjadikan taubat sekadar formalitas lisan, namun di kemudian hari sengaja mengulangi dosa tersebut secara berulang-ulang seperti orang yang mengalami ketagihan.

Sebagai penutup, kajian ini memberikan kesimpulan bahwa seluruh instrumen ibadah yang disyariatkan dalam Islam—mulai dari berwudu, salat, puasa, hingga sedekah—pada hakikatnya berfungsi sebagai penggugur dosa bagi manusia yang mau berpikir. Dengan menumbuhkan prasangka baik (husnuzan) kepada Allah dan secara istikamah menghidupkan malam melalui munajat, seorang Muslim tidak hanya akan mendapatkan solusi atas problematikanya, melainkan juga mental yang kokoh serta hati yang damai dalam menghadapi fluktuasi kehidupan di dunia.
Sumber: Kajian Kitab Nashoihul Ibad Bersama Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz yang diselenggarakan di Masjid Al Akbar Surabaya pada Senin 6 Juli 2026.