Bukan Sekadar Ujian: Menjadikan Musibah Sebagai Sarana Pulang kepada-Nya

Ustadz Ir. H. Misbahul Huda, MBA,
Ustadz Ir. H. Misbahul Huda, MBA,

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah situasi dunia yang sering kali tidak menentu, manusia kerap terjebak dalam rasa lelah dan keputusasaan menghadapi berbagai ujian. Namun, setiap peristiwa yang terjadi di muka bumi sebenarnya menyimpan pesan mendalam yang menuntut kesadaran batin untuk membacanya. Melalui kacamata spiritual, beban hidup bukan lagi sekadar penderitaan, melainkan sarana untuk kembali pulang kepada Sang Pencipta.

Kajian bertajuk “Spiritual Leadership (Revitalisasi Spiritual)” ini disampaikan oleh Ustadz Ir. H. Misbahul Huda, MBA, dalam sesi ceramah zuhur di Masjid Al Falah Surabaya pada tanggal 4 Februari 2026. Beliau memaparkan bagaimana fenomena bencana, krisis ekonomi, hingga kegagalan pribadi seharusnya menjadi momentum revitalisasi iman. Waktu luang di antara rutinitas kerja dimanfaatkan jemaah untuk menyerap pesan tentang pentingnya menjaga ketenangan batin di tengah badai kehidupan.

Ustadz Misbahul membuka ceramahnya dengan menyoroti berbagai fenomena bencana alam yang terjadi bertubi-tubi di Indonesia, mulai dari tanah longsor hingga banjir bandang. Menurut beliau, rentetan musibah ini bukanlah sekadar peristiwa geologis biasa, melainkan cara Allah SWT mengingatkan manusia. Istilah la’allahum yarjiun atau “agar mereka kembali” menjadi tema sentral untuk menjelaskan mengapa ujian itu hadir dalam kehidupan kita.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa goncangan tidak hanya terjadi pada alam, tetapi juga pada sektor ekonomi dan sosial. Beliau menyinggung kondisi pasar modal yang sempat gojang-ganjing hingga kesulitan masyarakat kecil dalam memenuhi kebutuhan pokok harian. Fenomena ini dipandang sebagai ujian karakter, terutama mengenai kejujuran dan amanah dalam berbisnis yang kini mulai langka ditemukan di tengah masyarakat.

Mengacu pada Surat Ar-Rum ayat 41, narasumber menekankan bahwa kerusakan di darat dan laut adalah akibat ulah tangan manusia sendiri. Allah SWT membiarkan manusia merasakan sebagian dari dampak perbuatan mereka agar muncul kesadaran untuk berbenah. Hal ini menjadi pengingat bahwa keserakahan dan kelalaian manusia memiliki konsekuensi nyata yang harus dihadapi dengan kerendahan hati.

Dalam pandangan spiritual yang beliau sampaikan, musibah sering kali merupakan “rahmat Allah yang terbungkus oleh ketidakenakan”. Ustadz Misbahul mengajak jemaah untuk mengubah kacamata negatif menjadi positif dalam melihat setiap persoalan. Jika sebuah ujian mampu membuat seseorang bersimpuh lebih dekat kepada Allah, maka ujian tersebut pada hakikatnya adalah sebuah anugerah yang sangat berharga.

Sebaliknya, keberhasilan duniawi seperti karier yang mentereng atau kekayaan yang melimpah justru bisa menjadi musibah jika membuat seseorang menjauh dari Tuhan. Beliau mengingatkan agar kita waspada terhadap kenikmatan yang melalaikan. Keseimbangan hidup terletak pada sejauh mana fasilitas duniawi yang dimiliki dapat mengantarkan pemiliknya pada ketakwaan dan ketenangan jiwa.

Beliau juga memberikan perumpamaan menarik tentang pengalaman di atas pesawat yang mengalami guncangan hebat. Saat situasi tenang, banyak orang lalai dan tertidur, namun saat pesawat terombang-ambing badai, semua orang mendadak berzikir dan mengingat Tuhan. Hal ini membuktikan bahwa guncangan kehidupan memang diperlukan untuk meruntuhkan kesombongan manusia dan membangkitkan kesadaran spiritual yang tertidur.

Mengutip pemikiran Imam Ibnu Athaillah Al-Iskandari, Ustadz Misbahul menyarankan agar manusia tidak hanya fokus pada masalahnya, tetapi pada “Siapa” yang memberikan ujian tersebut. Beliau mengibaratkan orang yang hanya meratapi nasib seperti anjing yang memperebutkan tulang hingga lupa pada tuannya. Resep utamanya adalah mendekat kepada Allah (ndep-ndep) sebelum memohon kekuatan untuk menghadapi persoalan tersebut.

Revitalisasi spiritual ini menuntut adanya aksi nyata berupa peningkatan kualitas ibadah, seperti tahajud, sedekah, dan tadarus. Dengan memperbanyak amal saleh, seseorang sebenarnya sedang membangun fondasi kekuatan batin. Kekuatan inilah yang nantinya akan membuat manusia mampu berkata innallaha ma’ashobirin, bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar dalam menghadapi segala tantangan.

Ciri utama dari keberhasilan revitalisasi spiritual adalah lahirnya pribadi yang tenang atau cool dalam menghadapi situasi apa pun. Beliau menyebutkan bahwa orang yang dekat dengan Tuhan memiliki frekuensi batin yang tinggi, sehingga tidak mudah marah, tidak mudah baper (bawa perasaan), dan tidak mudah panik. Ketenangan inilah yang menjadi modal utama bagi seorang pemimpin spiritual dalam mengelola dirinya dan lingkungannya.

Sebagai penutup, beliau memberikan pesan jenaka namun mendalam tentang pentingnya menjaga emosi agar tidak cepat lelah secara fisik dan batin. Orang yang sering marah dan tidak sabar dalam menghadapi ujian cenderung memiliki kualitas hidup yang menurun. Dengan kembali kepada Allah dan memperdalam ilmu agama, diharapkan setiap individu mampu menghadapi dinamika zaman dengan hati yang luas dan jiwa yang penuh syukur.

Sumber: Kajian Dzuhur Masjid Al Falah Surabaya Bersama  Ustadz Ir. H. Misbahul Huda, MBA dengan tema “Spiritual Leadership (Revitalisasi Spiritual)”

E-Buletin