Kabarmasjid.id, Surabaya – Dunia yang kian bising sering kali membuat manusia kehilangan arah, terjebak dalam rutinitas tanpa makna yang mendalam. Di tengah gempuran kesibukan duniawi, Islam menawarkan jalan ketenangan melalui aktivitas spiritual yang sederhana namun berdampak besar, yakni berpikir atau tafakkur. Berpikir bukan sekadar proses logika, melainkan sebuah jembatan untuk memahami hakikat penciptaan dan posisi manusia di hadapan Sang Khalik.
Kajian Kitab Nashoihul Ibad edisi 6 April 2026 yang digelar di Masjid Al Akbar Surabaya menghadirkan narasumber Prof. Dr. H. Saiful Jazil, MAG, dengan dipandu oleh Ust. H. A. Muzakky Al Hafidz. Dalam kesempatan tersebut, pemateri membedah urgensi tafakkur sebagai ibadah luhur yang memiliki nilai luar biasa di mata Allah SWT. Kajian ini menekankan bahwa spiritualitas seseorang tidak hanya diukur dari banyaknya ritual fisik, tetapi juga dari kedalaman pemahamannya terhadap tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Prof. Saiful Jazil mengawali penjelasannya dengan mengutip sebuah hadis yang sangat menggugah kesadaran. Beliau menyebutkan bahwa berpikir satu jam saja (saatin wahidah) jauh lebih mulia derajatnya dibandingkan dengan melaksanakan ibadah sunah selama 60 tahun. Pernyataan ini menjadi titik tolak bahwa akal yang digunakan untuk merenung memiliki frekuensi yang mampu menembus batas-batas pahala ibadah jasmani yang dilakukan secara mekanis tanpa penghayatan.
Namun, tidak semua jenis pikiran bernilai ibadah. Beliau menekankan bahwa pikiran yang membawa kemuliaan adalah pikiran yang terfokus pada lima sasaran utama. Sasaran pertama adalah memikirkan ayat-ayat atau tanda kekuasaan Allah yang tersebar di alam semesta. Dengan melihat keajaiban penciptaan langit, bumi, dan diri sendiri, maka dalam hati seseorang akan tumbuh benih tauhid yang kuat serta keyakinan yang tidak tergoyahkan kepada Allah SWT.
Sasaran kedua yang harus menjadi fokus perenungan adalah segala anugerah dan kenikmatan yang telah Allah berikan (alaillah). Sering kali manusia lebih fokus pada apa yang belum ia miliki daripada mensyukuri apa yang sudah ada di tangan. Dengan merenungkan setiap helai napas dan kesehatan yang diberikan, akan lahir perasaan cinta yang mendalam (mahabbah) serta sikap syukur yang tulus, sehingga seseorang tidak akan mudah mengeluh dalam menjalani hidup.
Lebih lanjut, sasaran ketiga adalah merenungkan janji-janji Allah (wa’dillah). Bagi mereka yang istikamah dalam kebaikan, Allah menjanjikan balasan yang mulia baik di dunia maupun di akhirat. Fokus pada janji manis Tuhan ini berfungsi sebagai bahan bakar spiritual yang akan memicu semangat seseorang untuk terus beribadah dan melakukan amal saleh dengan penuh gairah, tanpa merasa terbebani oleh rasa lelah.
Sebaliknya, sasaran keempat adalah memikirkan ancaman-ancaman Allah (waidillah) bagi mereka yang melampaui batas dan berbuat maksiat. Perenungan ini bukan bertujuan untuk membuat manusia putus asa, melainkan untuk menumbuhkan rasa takut yang sehat (haibah). Rasa takut inilah yang akan menjadi benteng pertahanan terakhir bagi seorang mukmin ketika ia mulai tergoda untuk melakukan perbuatan dosa di saat tidak ada orang lain yang melihat.
Sasaran pemikiran kelima adalah merenungi kekurangan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Meskipun Allah telah melimpahkan kebaikan yang tak terhingga, sering kali manusia justru semakin merosot semangat ibadahnya setelah masa-masa tertentu, seperti pasca-Ramadan. Kesadaran akan ketimpangan antara pemberian Allah dan pengabdian diri ini akan melahirkan rasa malu (haya) yang membuat seseorang ingin terus memperbaiki kualitas spiritualnya.
Sebagai penguatan atas dahsyatnya kekuatan keyakinan, Prof. Saiful menceritakan kisah inspiratif dari kitab Nuzhatul Majalis. Beliau mengisahkan seorang kurir di Kufah yang terjepit dalam ancaman pembunuhan oleh seorang perampok. Di titik nadir tersebut, sang kurir berserah diri total kepada Allah melalui salat dan merenungi ayat 62 dari Surah An-Naml yang berisi tentang siapa lagi yang bisa mengabulkan doa orang yang sedang dalam kesulitan selain Allah.
Keajaiban pun terjadi ketika pertolongan Allah datang secara tidak terduga dalam bentuk sosok penolong yang menyelamatkannya dari maut. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa tafakkur yang dalam terhadap ayat-ayat Allah dapat menggerakkan bantuan langit atau yang sering disebut sebagai karamah. Sesuatu yang berada di luar jangkauan akal manusia bisa menjadi nyata bagi mereka yang memiliki keyakinan dan keistikamahan dalam ibadahnya.

Dalam sesi interaktif, kajian juga menyentuh aspek-aspek praktis keislaman lainnya, seperti hukum muntah saat berpuasa dan pemahaman tentang konsep ruh dalam diri manusia. Pemateri menjelaskan bahwa ruh bukan sekadar penggerak fisik, melainkan entitas kompleks yang diatur oleh kekuasaan Allah. Hal-hal teknis seperti ini melengkapi pemahaman jemaah bahwa selain kedalaman batin melalui perenungan, pemahaman fikih yang benar juga menjadi pilar penting dalam beragama.
Kajian ini ditutup dengan ajakan untuk mulai membiasakan diri meluangkan waktu sejenak setiap hari untuk merenung. Dengan mempraktikkan lima sasaran pemikiran tersebut, diharapkan setiap individu dapat bertransformasi menjadi pribadi yang lebih bersyukur, rendah hati, dan memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan Sang Pencipta. Berpikir bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan perjalanan pulang menuju pelukan rahmat Allah SWT.
Sumber: Kajian Kitab Nashoihul Ibad yang berlangsung di Masjid Al Akbar Surabaya pada tanggal 6 April 2026. Kajian ini dipandu oleh Ust. H. A. Muzakky Al Hafidz dengan pemateri Prof. Dr. H. Saiful Jazil, MAG.
Bukan Sekadar Melamun, Inilah 5 Sasaran Berpikir yang Bisa Mengubah Nasib Spiritual Anda