KabarMasjid.id, Surabaya – Shalat bukan sekadar rutinitas fisik, melainkan media komunikasi langsung antara hamba dengan Sang Pencipta. Penting bagi setiap Muslim untuk memastikan bahwa setiap gerakan dan bacaan yang dilakukan telah sesuai dengan tuntunan agar ibadah tersebut memberikan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kajian mendalam mengenai hal ini disampaikan oleh Ustadz Anwar Musyaddat dalam acara peringatan Isra Mikraj yang berlangsung di Masjid Diponegoro, Surabaya, pada Senin, 19 Januari 2026. Dalam ceramahnya yang bertajuk “Kekhusyuan dalam Shalat”, beliau menekankan bahwa shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat, sehingga kualitasnya harus dijaga dengan sungguh-sungguh.
Ustadz Anwar mengawali kajian dengan mengingatkan kembali sejarah turunnya perintah shalat melalui peristiwa Isra Mikraj. Shalat adalah ibadah yang sangat istimewa karena perintahnya diterima langsung oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT di Sidratul Muntaha, tanpa perantara Malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya kedudukan shalat dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya dalam Islam.
Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa beribadah tanpa ilmu dapat menyebabkan amalan tersebut tertolak. Beliau menyoroti banyaknya jemaah yang sering kali hanya ikut-ikutan tanpa memahami dasar hukum atau makharijul huruf dalam bacaan. Padahal, kesalahan kecil dalam pelafalan, khususnya pada surat Al-Fatihah, dapat mengubah makna secara fatal dan berisiko membatalkan keabsahan shalat.
Beliau kemudian menjelaskan detail teknis gerakan shalat berdasarkan perbandingan mazhab untuk memberikan wawasan luas bagi jemaah. Salah satunya adalah posisi tangan saat takbiratul ihram dan sedekap yang memiliki beberapa variasi sah. Beliau menekankan agar umat Islam tidak mudah menyalahkan perbedaan teknis selama masih memiliki dasar argumen dari para ulama yang kredibel.
Terkait kedisiplinan gerak, Ustadz Anwar memberikan peringatan keras mengenai gerakan di luar shalat yang sering dilakukan tanpa sadar. Gerakan besar yang dilakukan lebih dari tiga kali berturut-turut, seperti menggaruk secara berlebihan atau melangkah, dapat membatalkan shalat. Beliau memberikan tips praktis agar jemaah tetap bisa merespons gangguan fisik tanpa harus membatalkan ibadahnya.
Pembahasan beralih pada isu sensitif mengenai aurat, khususnya bagi kaum perempuan yang menggunakan mukena potongan (atasan-bawahan). Beliau mengingatkan agar jemaah waspada terhadap bagian bawah dagu dan pergelangan tangan yang sering tersingkap saat takbir atau sujud. Kesempurnaan menutup aurat adalah syarat mutlak yang tidak boleh diabaikan demi keabsahan shalat.
Menariknya, kajian ini juga menyentuh problematika shalat saat sedang melakukan perjalanan atau safar. Beliau menjelaskan konsep shalat lihurmatil wakti atau shalat menghormati waktu bagi mereka yang berada di atas kendaraan seperti kereta api atau pesawat. Hal ini merupakan solusi agar kewajiban shalat tetap tertunaikan meski syarat dan rukunnya tidak dapat dipenuhi secara sempurna di atas kendaraan.
Ustadz Anwar kemudian membagikan rahasia untuk mencapai kekhusyukan yang sering kali dianggap sulit oleh banyak orang. Salah satu caranya adalah dengan menganggap setiap shalat yang dilakukan merupakan shalat terakhir sebelum ajal menjemput. Dengan perasaan tersebut, seseorang akan cenderung lebih serius, tenang, dan tidak terburu-buru dalam setiap rukun yang dijalani.
Selain itu, memahami makna dari setiap kalimat yang diucapkan dalam shalat sangat membantu dalam menjaga konsentrasi. Beliau menyarankan jemaah untuk minimal mempelajari arti dari surat Al-Fatihah. Ketika hati dan pikiran selaras dengan apa yang diucapkan lisan, maka pikiran-pikiran duniawi yang sering muncul saat takbiratul ihram dapat diminimalisir.
Kajian ini juga menekankan bahwa shalat yang berkualitas adalah shalat yang mampu mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Jika seseorang masih sering melakukan maksiat meski rajin shalat, maka perlu dilakukan evaluasi mendalam terhadap niat dan kekhusyukan shalatnya. Ibadah yang benar seharusnya memberikan dampak ketenangan batin dan perbaikan akhlak dalam aktivitas sosial.
Sebagai penutup, Ustadz Anwar mengajak jemaah untuk terus semangat belajar dan menghadiri majelis ilmu guna memperbaiki ibadah. Beliau menekankan bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar membaca Al-Qur’an atau memperbaiki gerakan shalat demi meraih rida Allah SWT. Shalat yang khusyuk dan sesuai ilmu adalah kunci kebahagiaan sejati di dunia maupun di akhirat kelak.
Sumber: Kajian Tematik Masjid Diponegoro Surabaya bersama Ustadz Anwar Musyaddat dengan tema “Kekhusyuan dalam Shalat”.