KabarMasjid.id, Surabaya – Pada Senin malam, 27 Oktober 2025, suasana keilmuan memenuhi Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya dalam kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad. Kajian yang dibawakan oleh Ustadz. H. Ahmad Muzakki Alhafidz ini membahas sebuah prinsip fundamental dalam Islam: bahwa setiap kebaikan yang dimohonkan hamba akan dibalas dengan jaminan yang jauh lebih besar dari Allah SWT. Beliau menekankan bahwa Allah tidak akan memberikan lima perkara kepada seseorang, kecuali Allah telah menyiapkan lima perkara lain sebagai balasan.
Kajian ini berfokus pada Maqalah Ketiga dari Bab Khumasi, sebuah bab yang memuat nasihat-nasihat tentang lima hal. Prinsip yang dibahas menegaskan sifat al-Karim (Yang Maha Mulia) dari Allah, di mana setiap hamba yang berusaha mendekat dengan amal saleh akan mendapatkan jaminan keberkahan dan pengabulan, baik di dunia maupun di akhirat.
Jaminan pertama adalah perihal Syukur (asy-syukro). Barang siapa yang diberikan kemampuan untuk bersyukur atas nikmat, maka Allah akan menyiapkan tambahan (ziyâdah) atas nikmat tersebut. Hal ini sejalan dengan janji Allah dalam firman-Nya: “Lain syakartum laazidannakum” (Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu).
Rasa syukur ini berlaku universal pada setiap nikmat. Apabila nikmat yang disyukuri adalah iman, maka iman akan dikuatkan. Jika nikmat yang disyukuri adalah harta atau ilmu, maka harta dan ilmu akan ditambah keberkahannya. Bahkan, syukur atas nikmat istri dan keluarga akan menghasilkan tambahan berupa keharmonisan dan kemesraan dalam rumah tangga.
Jaminan kedua adalah Doa (ad-du’â). Allah tidak akan memberikan kemauan untuk berdoa kepada seseorang kecuali Dia telah menyiapkan ijabah (pengabulan) baginya. Allah SWT berfirman: “Ud’ûnî astajib lakum” (Berdoalah kalian kepada-Ku, pasti Aku akan ijabah).
Namun, pengabulan doa memiliki dua syarat utama yang harus dipenuhi: menunaikan kewajiban kepada Allah (falyastajîbû li) dan beriman kepada-Nya (wa lyukminû bi). Ust. Ahmad Muzakki Alhafidz mengingatkan bahwa jika doa belum dikabulkan saat itu juga, mungkin Allah menundanya selama waktu tertentu, mengabulkannya melalui anak cucu, atau menyimpannya sebagai pahala besar di surga.
Jaminan ketiga adalah Istigfar (memohon ampun), dan jaminan keempat adalah Taubat (menyesali dosa). Barang siapa yang rajin beristigfar, niscaya Allah telah siapkan ampunan (al-ghufrân). Bahkan, Allah sangat menyukai orang yang bertaubat, seolah-olah taubatnya pasti diterima (al-qobûl) oleh-Nya. Ustadz Muzakki menjelaskan bahwa istigfar memiliki fadilah luar biasa, termasuk kelancaran rezeki, hujan deras (bagi pertanian), penambahan harta dan anak-anak yang baik, serta hidup yang penuh keberkahan, sebagaimana dijelaskan dalam Surat Nuh.
Jaminan kelima dan yang terakhir adalah Sedekah (ash-shodqoh). Allah tidak akan memberi seseorang kesanggupan untuk bersedekah secara ikhlas kecuali Dia telah menjanjikan diterimanya (at-taqobbul). Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda bahwa sedekah akan menjadi naungan (fî dhilli shodqatihî) bagi setiap manusia di hari kiamat.
Sedekah disebut sebagai puncaknya amal. Di akhirat, sedekah tidak hanya menjadi payung dari panasnya padang mahsyar, tetapi juga menjadi jaminan pembebasan dari api neraka dan janji untuk masuk surga melalui pintu manapun yang disukai oleh orang yang bersedekah. Sedekah adalah harapan utama bagi orang yang telah meninggal dunia, agar mereka dihidupkan kembali untuk dapat bersedekah.
Pada sesi tanya jawab, seorang jemaah bertanya mengenai kunci istiqomah dalam menjaga iman dan amal saleh. Ustaz Muzakki menjawab tegas bahwa amalan yang paling berat adalah istiqomah, dan cara satu-satunya adalah memaksakan ibadah (dipaksa). Dengan paksaan, ibadah akan menjadi kebiasaan. Setelah menjadi kebiasaan, seseorang akan mulai mencintai ibadah, barulah setelah itu ia akan merasakan nikmat dalam beribadah.
Pertanyaan kedua dari jemaah menyinggung perbedaan antara karunia (Fadl), rahmat, dan hidayah. Beliau menjelaskan bahwa Karunia (Fadl) adalah kenikmatan yang nampak dan terasa langsung, seperti kekayaan dan kesehatan. Sementara Rahmat adalah kenikmatan yang tidak nampak, seperti keimanan dan petunjuk untuk mengaji. Adapun Hidayah adalah puncak dan keseluruhan dari Karunia serta Rahmat tersebut.
Sebagai penutup, Ustadz Muzakki Alhafidz berpesan bahwa ketiga hal—Karunia, Rahmat, dan Hidayah—memiliki satu sumber utama. Sumber itu adalah Al-Qur’an. Maka, kunci untuk mendapatkan segala jaminan dan keberkahan dari Allah adalah dengan mendekatkan diri dan berpegang teguh pada Al-Qur’an.
Sumber: Kajian Rutin Kitab Nashoihul Ibad edisi 27 Oktober 2025 Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz di Channel Youtube Masjid Al Akbar TV