Bukan Cuma Kerja Keras, Ternyata Ini Rahasia Agar Urusan Anda Selalu Dimudahkan Allah!

Ustadz H. M. Husni Mubarak Al Hafidz
Ustadz H. M. Husni Mubarak Al Hafidz

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Dunia yang kian kompetitif seringkali membuat kita lupa bahwa hidup bukan sekadar tentang memenangkan perlombaan bagi diri sendiri. Di tengah hiruk-pikuk mengejar ambisi, terkadang kita kehilangan kepekaan sosial yang menjadi ruh dalam beragama. Padahal, dalam ajaran Islam, cara kita memperlakukan sesama manusia merupakan cermin langsung dari bagaimana Sang Pencipta akan memperlakukan kita.

Kajian rutin Tafsir Jalalayn yang diselenggarakan pada Selasa, 3 Februari 2026, di Ruang Utama Masjid Nasional Al-Akbar, Surabaya, mengupas tuntas rahasia di balik kaidah kehidupan ini. Menghadirkan Ustadz H. M. Husni Mubarak Al Hafidz, pembahasan malam itu membedah Surah Al-Hasyr ayat 9 yang menjadi fondasi dalam memahami konsep kemanusiaan yang luhur.

Ustadz Husni Mubarok membuka kajian dengan menekankan sebuah kaidah global bahwa interaksi kita dengan Allah sangat bergantung pada interaksi kita dengan manusia. Beliau menjelaskan bahwa Allah akan memperlakukan hamba-Nya setara dengan bagaimana hamba tersebut bersikap kepada orang lain. Jika kita ingin urusan kita dimudahkan, maka kunci utamanya adalah menjadi jembatan kemudahan bagi kesulitan yang dialami oleh sesama.

Dalam perspektif tafsir, Surah Al-Hasyr ayat 9 memberikan gambaran nyata tentang kemuliaan akhlak kaum Anshar saat menyambut kaum Muhajirin di Madinah. Mereka tidak hanya menerima tamu dengan tangan terbuka, tetapi juga menawarkan separuh harta, rumah, hingga lahan pekerjaan. Fenomena sejarah ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan manifestasi dari keimanan yang telah meresap ke dalam jiwa.

Istilah utama yang disoroti dalam kajian ini adalah Itar, yaitu sifat mengutamakan orang lain dibandingkan diri sendiri, meskipun ia sedang dalam kondisi sangat membutuhkan. Ustaz menceritakan kisah mengharukan tentang seorang sahabat yang memadamkan lampu saat makan bersama tamunya. Ia berpura-pura makan di kegelapan agar tamu tersebut merasa nyaman menghabiskan hidangan yang sebenarnya adalah jatah terakhir bagi anak dan istrinya.

Di sisi lain, kaum Muhajirin dipuji karena memiliki sifat Ifah, yakni menjaga kehormatan diri dengan tidak memanfaatkan kedermawanan orang lain secara berlebihan. Teladan ini terlihat pada sosok Abdurrahman bin Auf yang meskipun ditawari segalanya, ia lebih memilih bertanya di mana letak pasar. Sifat Ifah mengajarkan kita untuk tetap mandiri dan tidak menjadi beban bagi masyarakat selama masih memiliki kemampuan untuk berusaha.

Prinsip “memudahkan untuk dimudahkan” ini memiliki korelasi yang sangat kuat dengan kesuksesan hidup, baik secara materi maupun spiritual. Ustaz Husni mengamati bahwa banyak orang sukses di dunia, termasuk yang non-muslim sekalipun, memiliki sifat dermawan yang tinggi. Hal ini membuktikan bahwa hukum tabur-tuai dalam kebaikan adalah sunnatullah yang berlaku bagi siapa saja yang gemar menolong sesama.

Lebih jauh, manfaat dari sifat memudahkan urusan orang lain ini tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi menjadi tabungan di akhirat kelak. Dalam sebuah hadis yang dikutip, Nabi Muhammad SAW menjanjikan akan berdiri di sisi timbangan (Mizan) bagi mereka yang selama di dunia rajin meringankan beban saudaranya. Kehadiran Rasulullah di samping mizan tentu menjadi jaminan ketenangan yang luar biasa bagi seorang hamba.

Kajian ini juga menjadi pengingat yang tepat karena dilaksanakan menjelang datangnya bulan suci Ramadan yang tinggal hitungan minggu. Ustaz menekankan bahwa kebaikan itu tidak bisa dilakukan secara spontan tanpa latihan. Bulan Sya’ban ini adalah waktu yang krusial untuk mulai “memanaskan mesin” ibadah sosial dan spiritual kita agar mencapai puncaknya di bulan Ramadan nanti.

Beliau menganalogikan Rajab sebagai musim menanam, Sya’ban sebagai musim merawat, dan Ramadan sebagai musim panen. Tanpa latihan istiqamah dalam berjemaah dan bersedekah di bulan Sya’ban, seseorang akan kesulitan mencapai kualitas ibadah yang maksimal saat Ramadan tiba. Oleh karena itu, meningkatkan frekuensi menolong orang lain saat ini adalah persiapan terbaik menuju bulan suci.

Pesan penting lainnya dalam kajian ini adalah untuk segera menyelesaikan tanggungan ibadah masa lalu, seperti utang puasa, sebelum Ramadan kembali menyapa. Menunda-nunda qada puasa hingga masuk ke tahun berikutnya tidak hanya menjadi beban utang, tetapi juga menambah kewajiban membayar fidyah. Disiplin dalam urusan pribadi kepada Allah harus berjalan seiring dengan disiplin dalam membantu urusan manusia.

Sebagai penutup, Ustadz Husni Mubarok memberikan pesan agar kita semua mulai mengevaluasi kembali orientasi hidup kita. Apakah kita sudah cukup bermanfaat bagi orang di sekitar kita, atau justru sering menjadi penghambat urusan orang lain? Dengan mempraktikkan sifat Itar dan Ifah, kita tidak hanya membangun harmoni sosial, tetapi juga sedang mengetuk pintu rahmat Allah agar hidup kita senantiasa dipenuhi kemudahan.

Sumber: Kajian Tafsir Jalalayn Masjid Al Akbar Surabaya Bersama Ustadz H. M. Husni Mubarak Al Hafidz

E-Buletin