Bukan Cuma Haji dan Kurban, Ini 7 Pintu Amalan Mulia di Bulan Dzulhijjah

Ustadz Ir. H. Bangun Samudra
Ustadz Ir. H. Bangun Samudra

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu momentum emas dalam kalender Islam yang penuh dengan limpahan keberkahan dan ampunan. Sebagai salah satu dari empat bulan yang disucikan atau Asyhurul Hurum, setiap detik di bulan ini menyimpan keutamaan yang luar biasa di mana segala bentuk amal saleh akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Untuk mengupas tuntas bagaimana umat Muslim dapat mengoptimalkan hari-hari istimewa ini, Masjid Al Falah Raya Surabaya menggelar Kajian Maghrib pada Senin, 25 Mei 2026, yang menghadirkan narasumber kondang, Ustaz Ir. H. Bangun Samudra, dengan mengangkat tema khusus mengenai “Amaliyah Dzulhijjah”.

Dalam pemaparannya, Ustadz Bangun Samudra mengingatkan jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat umur dan kesehatan yang telah diberikan, sehingga masih dipertemukan dengan bulan Dzulhijjah. Beliau mengutip Surat At-Taubah ayat 36 mengenai ketetapan dua belas bulan di sisi Allah, di mana empat di antaranya adalah bulan haram, termasuk Dzulkadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan mulia ini, umat Muslim dilarang keras menganiaya diri sendiri dengan berbuat maksiat, melainkan didorong untuk memperbanyak amal kebaikan karena pahalanya akan dilipatgandakan dari 10 hingga 700 kali lipat.

Lebih lanjut, beliau menguraikan bahwa terdapat tujuh amalan utama di bulan Dzulhijjah yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Amalan yang menempati urutan nomor satu dan paling afdal adalah melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci bagi yang mampu secara syariat. Kriteria mampu (istitha’ah) ini mencakup lima hal esensial: mampu biaya keberangkatan, mampu biaya kepulangan, mencukupi biaya hidup selama di sana, menjamin nafkah keluarga yang ditinggalkan di tanah air, serta menguasai ilmu manasik haji dengan baik agar seluruh rukun dan syaratnya terpenuhi secara sah.

Bagi umat Muslim yang belum mendapatkan kesempatan atau kemampuan untuk menunaikan ibadah haji, Allah Swt. tidak menutup pintu rahmat-Nya begitu saja. Sebagai gantinya, disyariatkan amalan utama kedua yang tidak kalah dahsyat nilainya, yaitu ibadah kurban (udhiyah). Menyembelih hewan kurban menjadi syiar keagamaan yang agung sebagai bentuk ketakwaan dan rasa syukur atas rezeki yang telah Allah karuniakan dalam wujud hewan ternak, baik berupa kambing, domba, sapi, kerbau, maupun unta.

Dalam urusan ibadah kurban ini, Ustadz Bangun Samudra meluruskan sebuah pemahaman yang sering keliru di tengah masyarakat Indonesia terkait pembagian kurban per orang. Berdasarkan hadis riwayat Tirmidzi, satu ekor kambing sesungguhnya berlaku pahalanya untuk satu keluarga utuh yang ditarik berdasarkan garis nasab. Oleh karena itu, diniatkan atas nama kepala keluarga (suami/bapak) jauh lebih utama karena istri, anak-anak, hingga cucu otomatis akan ikut mendapatkan aliran pahalanya, sehingga tidak perlu digilir satu per satu setiap tahunnya.

Beliau juga menekankan pentingnya kejelasan dalam akad wakalah atau penyerahan hewan kurban kepada panitia maupun takmir masjid. Sesuai dengan Surat Al-Hajj ayat 36, orang yang berkurban (mudhohi) diperbolehkan untuk memakan sebagian daging kurbannya, termasuk meminta bagian tertentu seperti kepala, kulit, atau kaki untuk dikelola sendiri. Melalui akad yang transparan di awal penyerahan, panitia mendapatkan kejelasan hak sehingga tidak terjebak dalam tindakan yang diharamkan, seperti menjual kulit atau kepala hewan kurban tanpa izin tertulis dari pemiliknya.

Amalan utama ketiga yang dapat digalakkan sepanjang bulan Dzulhijjah adalah memperbanyak sedekah dan infak harta. Pintu amalan ini menjadi bukti nyata keimanan seseorang dalam membagikan rezeki yang diterimanya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Berinfak di hari-hari mulia ini menjadi investasi akhirat yang sangat berharga sebelum datangnya suatu hari di mana segala bentuk perdagangan, tebusan, maupun syafaat pertemanan tidak lagi memberikan manfaat bagi seorang hamba.

Menariknya, Islam adalah agama yang penuh kemudahan bagi pemeluknya yang sedang mengalami kesempitan ekonomi. Ustadz Bangun Samudra menjelaskan amalan keempat sebagai alternatif bagi mereka yang tidak memiliki harta untuk bersedekah, yaitu dengan memperbanyak zikir seperti kalimat Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, walhamdulillah. Selain zikir, tindakan sehari-hari seperti melakukan amar makruf nahi mungkar, mendonasikan tenaga dan waktu untuk menolong orang lain, menjaga keharmonisan hubungan suami istri, hingga melemparkan senyuman tulus kepada sesama pun sudah dihitung sebagai nilai sedekah di sisi Allah Swt.

Memasuki hari kesembilan Dzulhijjah, umat Muslim sangat dianjurkan untuk menjalankan amalan kelima, yaitu puasa Arafah, khususnya bagi mereka yang tidak sedang melaksanakan wukuf di Tanah Suci. Keutamaan berpuasa pada hari Arafah ini sungguh luar biasa karena dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Beliau menjelaskan bahwa makna penghapusan dosa di tahun mendatang adalah bentuk perlindungan dari Allah Swt., di mana para malaikat akan diturunkan untuk mendampingi dan menjaga hamba tersebut agar terhindar dari perbuatan maksiat.

Selanjutnya, amalan keenam yang tidak boleh terlewatkan adalah litukabbirullaha, yaitu mengagungkan nama Allah dengan mengumandangkan takbir. Syiar takbir ini disunahkan untuk terus digemakan sejak tanggal satu Dzulhijjah hingga berakhirnya hari Tasyrik, tepatnya pada tanggal 13 Dzulhijjah bakda waktu asar. Umat Muslim dapat menghidupkan sunah ini di mana saja, baik saat sedang berkendara, memasak, maupun di sela-sela aktivitas harian lainnya sebagai bentuk pengakuan atas keagungan Allah Swt.

Pintu amalan ketujuh yang menjadi senjata pamungkas bagi setiap mukmin di bulan ini adalah memperbanyak doa, terutama pada hari Arafah. Hari tersebut merupakan waktu yang sangat mustajab di mana Allah Swt. berjanji akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya yang dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan dan ketundukan hati. Momentum ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memohon ampunan, keberkahan hidup, keselamatan dunia akhirat, serta kemudahan dalam segala urusan keluarga.

Sebagai penutup kajian, Ustadz Bangun Samudra menegaskan bahwa jika dari ketujuh amalan tersebut masih ada yang terasa berat, maka minimal seorang Muslim harus berkomitmen untuk selalu berbuat baik (ahsanu amala) dan menjauhi maksiat. Beliau mendoakan agar seluruh jemaah senantiasa dianugerahi umur yang berkah, kesehatan yang prima, serta kelapangan rezeki agar mampu mengamalkan tuntunan syariat di bulan Dzulhijjah ini dengan optimal. Semoga segala amalan yang dikerjakan diterima oleh Allah Swt. dan mengantarkan kita menjadi hamba-hamba-Nya yang meraih derajat ketakwaan tertinggi.

Sumber: Kajian Maghrib bertema “Amaliyah Dzulhijjah” yang disampaikan oleh Ustadz Ir. H. Bangun Samudra di Masjid Al Falah Raya Surabaya pada Senin, 25 Mei 2026.

E-Buletin