Birrul Walidain: Mengapa Berbakti kepada Orang Tua Jadi Prioritas Utama Akhlak Setelah Tauhid?

Ustadz Sholeh Al Jufri
Ustadz Sholeh Al Jufri

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Solo – Pentingnya adab dan akhlak dalam Islam adalah fondasi yang tak terpisahkan dari keimanan. Baru-baru ini, sebuah kajian pagi yang disampaikan oleh Ustaz Sholeh Al Jufri di Masjid Jami’ Assagaf Surakarta pada 21 Oktober 2025 kembali mengingatkan kita akan hal mendasar ini. Mengambil rujukan dari Kitab Al-Adabul Mufrad karya Imam Bukhari. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengupas tuntas bab adab dan akhlak berdasarkan kitab monumental Al-Adabul Mufrad karya Imam Bukhari. Fokus utama kajian ini adalah hakikat berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain), sebuah amalan fundamental yang menjadi standar keluhuran akhlak seseorang.

Mengawali dengan pujian kepada Allah (swt) dan selawat kepada Nabi Muhammad (saw), Ustaz Sholeh Al Jufri mengingatkan bahwa teladan terbaik dalam kehidupan, termasuk dalam beradab, adalah Rasulullah (saw). Beliau menekankan pentingnya mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil Alamin sebagai pujian terbaik yang diakui oleh para ulama, sebelum masuk ke pembahasan inti mengenai skala prioritas dalam berakhlak.

Salah satu poin penting yang diangkat adalah alasan mengapa Imam Bukhari meletakkan bab birrul walidain di awal pembahasan adab, sebelum adab-adab sosial lainnya. Menurut Ustaz, akhlak harus dimulai dari rumah; tidak ada gunanya bersikap santun kepada orang lain jika kita durhaka kepada kedua orang tua sendiri. Secara skala prioritas, orang tua wajib didahulukan dalam berbakti.

Mengutip riwayat dari sahabat Abdullah bin Umar, Ustaz Sholeh Al Jufri menjelaskan prinsip agung dalam ketaatan. Keridhaan Allah (swt) terletak pada keridhaan orang tua, dan murka Allah (swt) terletak pada murka orang tua. Hal ini menjadikan ketaatan kepada orang tua sebagai perintah yang sangat mulia karena posisinya diletakkan tepat setelah perintah tauhid.

Namun, ditekankan pula adanya batas ketaatan. Jika orang tua memerintahkan kemaksiatan, apalagi mengajak kepada kesyirikan, maka anak tidak boleh taat. Nabi Muhammad (saw) bersabda, “Tidak ada bentuk ketaatan apapun kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sang pencipta”.

Lebih dalam, beliau membahas tingkatan ridha di hati dalam berbakti. Tingkatan terendah adalah Tarqul Mukhalafah, yaitu meninggalkan penentangan, di mana seseorang mengalahkan keinginannya demi keinginan orang tua meskipun hasrat pribadi masih membekas di hati.

Tingkat kedua adalah Attawafuqu bi’amri, yakni menyesuaikan diri dengan kehendak orang tua atas inisiatif sendiri, di mana keinginan pribadi dihapus total dan diselaraskan. Tingkatan tertinggi, atau puncak bakti, adalah Alla Yaktur fi Qolbihi, yakni tidak terbesit sedikit pun penentangan kepada orang tua di dalam hati.

Selanjutnya, Ustadz menjelaskan mengapa Ibu didahulukan. Nabi (saw) menjawab “Ibumu” sebanyak tiga kali sebelum menyebut Ayah karena Ibu menghadapi empat fase kesulitan unik: mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat. Ayah hanya berpartisipasi penuh dalam fase keempat (merawat).

Selain itu, Ibu diprioritaskan karena faktor psikologis dan historis. Anak-anak cenderung lebih meremehkan hak Ibu. Kelembutan dan kasih sayang Ibu juga membuatnya rentan; sehingga anak diingatkan untuk ekstra hati-hati, sebab doa buruk yang keluar dari lisan Ibu dikhawatirkan tidak akan ditolak oleh Allah (swt).

Kisah paling kuat tentang keutamaan ini diceritakan melalui dialog sahabat Abdullah bin Abbas dengan seorang pembunuh yang menyesali perbuatannya. Saat ditanya apakah ada peluang tobat, Ibn Abbas hanya balik bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?”.

Hikmah di balik pertanyaan tersebut adalah: Abdullah bin Abbas berfatwa bahwa ia tidak mengetahui amalan yang lebih cepat mendekatkan seseorang kepada Allah (swt) melebihi bakti kepada Ibu. Bakti ini adalah jalan pintas spiritual dan penebus dosa bagi mereka yang ingin segera kembali kepada Allah (swt).

Sebagai penutup, Ustadz Sholeh Al Jufri menutup kajian dengan harapan agar kita semua dapat mencontoh kerendahan hati para ulama dan senantiasa berbakti kepada orang tua. Birrul walidain adalah jaminan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Semoga Allah (swt) menjadikan kita semua anak-anak yang berbakti dan mendapatkan keridhaan-Nya.

Sumber: Kajian Pagi yang disampaikan oleh Ustadz Sholeh Al Jufri di Masjid Jami’ Assagaf Surakarta disiarkan di Channel Youtube MJA Solo

E-Buletin