Berbeda Tapi Bersama: Menemukan Hakikat Persaudaraan dalam Momentum Kurban

Ustadz Anjani Robbi, S.Sos.
Ustadz Anjani Robbi, S.Sos.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Islam bukan sekadar agama yang mengatur ritual penyembahan kepada Sang Pencipta, namun juga sebuah sistem nilai yang mempererat jalinan kasih sayang antar sesama manusia. Dalam kerangka sosial, perbedaan latar belakang seringkali dianggap sebagai pemisah, padahal dalam kacamata iman, perbedaan tersebut merupakan ladang untuk menumbuhkan harmoni. Semangat kebersamaan inilah yang menjadi ruh utama dalam setiap ibadah, termasuk dalam momentum peringatan hari besar keagamaan yang mengajarkan tentang pengorbanan dan kepedulian sosial.

Pesan mendalam mengenai persaudaraan ini disampaikan secara jernih oleh Ustadz Anjani Robbi, S.Sos. dalam Kajian Ba’da Maghrib yang berlangsung di Masjid Al Falah Surabaya pada Jumat, 8 Mei 2026. Mengangkat tema “Berbeda Tapi Bersama, Hikmah Idul Adha”, beliau menekankan bahwa esensi kurban tidak hanya berhenti pada penyembelihan hewan, tetapi juga tentang bagaimana manusia menyembelih ego pribadi demi tegaknya ukhuwah islamiyah.

Dalam pemaparannya, Ustadz Anjani menjelaskan bahwa ukhuwah merupakan fondasi kekuatan umat Islam yang harus dijaga melalui tindakan nyata, dimulai dari hal sederhana seperti membudayakan salam. Beliau berbagi pengalaman saat berada di Mesir, di mana masyarakat di sana sangat antusias mengucapkan salam di mana pun, yang mengandung unsur doa keselamatan bagi sesama, berbeda dengan sekadar kata “permisi” yang hanya bernilai sopan santun manusiawi.

Lebih lanjut, beliau menguraikan enam rukun ukhuwah, di mana rukun yang paling dasar adalah syarhus shadr atau lapang dada. Sikap legowo dan tidak menyimpan dendam merupakan kunci ketenangan hati. Beliau mengisahkan seorang sahabat Nabi yang dijamin masuk surga bukan karena ibadah ritual yang menonjol, melainkan karena kebiasaannya memaafkan dan mendoakan kebaikan bagi semua orang yang menyakitinya setiap kali hendak tidur.

Rukun kedua adalah ta’aruf atau saling mengenal secara mendalam. Mengenal saudara tidak cukup hanya mengetahui nama dan alamat, tetapi juga memahami kesukaan hingga kebutuhan mendesaknya. Dengan mengenal lebih jauh, akan tumbuh rasa cinta yang mendorong seseorang untuk saling memberi, sebagaimana sabda Nabi bahwa saling memberi hadiah dapat menumbuhkan rasa kasih sayang di antara manusia.

Setelah mengenal, maka akan muncul rukun ketiga yaitu tafahum atau saling memahami. Dalam berinteraksi, seorang muslim dituntut peka terhadap kondisi saudaranya; misalnya dengan tidak membicarakan materi atau kemewahan di depan mereka yang sedang dilanda kesulitan ekonomi. Pemahaman terhadap situasi ini sangat penting agar komunikasi yang terjalin tidak melukai perasaan orang lain.

Rukun keempat adalah ta’awun yang berarti saling membantu. Merujuk pada Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 2, Ustadz Anjani menegaskan bahwa tolong-menolong harus dilakukan dalam kebajikan dan takwa, bukan dalam kemaksiatan. Manusia pada hakikatnya tidak bisa hidup sendiri dan akan selalu membutuhkan bantuan orang lain dalam berbagai aspek kehidupan mereka di dunia.

Tingkatan ukhuwah yang lebih tinggi adalah takaful atau saling menanggung. Hal ini diwujudkan dengan kepedulian untuk mengambil alih atau meringankan beban saudara yang sedang dalam kesulitan. Contoh nyatanya adalah membantu menjaga atau mengurus keperluan keluarga seorang sahabat yang sedang bertugas jauh, sebagai bentuk solidaritas dan rasa tanggung jawab bersama sebagai saudara seiman.

Puncak dari persaudaraan adalah itsar, yaitu derajat tertinggi di mana seseorang mendahulukan kepentingan saudaranya di atas kepentingan pribadi. Ustadz Anjani mengutip kisah kaum Anshar yang mengutamakan kaum Muhajirin meskipun mereka sendiri dalam keadaan kekurangan. Itsar adalah bukti kematangan iman seseorang karena ia mampu memberikan apa yang paling ia cintai kepada orang lain.

Menghubungkan nilai ukhuwah dengan Idul Adha, beliau menjelaskan bahwa kata “kurban” berasal dari akar kata yang berarti dekat. Ibadah kurban memiliki dimensi ganda: hablum minallah untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan hablum minannas untuk mendekatkan hubungan antarmanusia melalui distribusi daging kurban. Di sini, semangat berbagi menjadi jembatan penghubung antar strata sosial.

Ustadz Anjani juga mengingatkan bahwa pengorbanan ego harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam hal kecil seperti tertib berlalu lintas. Mengalah di lampu merah dan tidak menyerobot jalan demi kemaslahatan bersama adalah bentuk nyata dari nilai kurban di masa kini. Tanpa kemauan untuk mengalah dan berkorban, kebersamaan di tengah masyarakat akan sulit terwujud dan justru menimbulkan perpecahan.

Sebagai penutup, beliau berpesan agar setiap muslim senantiasa bersyukur jika memiliki teman yang selalu mengingatkan pada kebaikan. Mengutip nasihat ulama Hasan Al-Bashri, teman yang saleh adalah aset berharga yang dapat memberikan syafaat di akhirat kelak. Dengan menjaga ukhuwah, diharapkan kebersamaan yang terjalin di dunia dapat terus berlanjut hingga dipertemukan kembali di dalam surga-Nya.

Sumber: Kajian Ba’da Maghrib dengan tema “Berbeda Tapi Bersama, Hikmah Idul Adha” yang disampaikan oleh Ustadz Anjani Robbi, S.Sos. di Masjid Al Falah Surabaya Jum’at 8 Mei 2026.

E-Buletin