Bentengi Diri dari Neraka dengan Sebutir Kurma: Pesan Mendalam dari Khotbah Pertama Rasulullah

Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi.
Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Solo  – Kisah perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan tonggak sejarah yang penuh dengan nuansa spiritual dan kemanusiaan. Dalam setiap langkah beliau menuju Madinah, terpancar keteladanan akhlak dan kehangatan hubungan antara pemimpin dengan umatnya yang terekam jelas dalam catatan sejarah Islam. Redaksi mencoba merangkum intisari perjalanan mulia ini melalui sebuah kajian kitab yang mendalam.

Kajian kitab Nurul Yaqin dalam sesi Majelis Salaf Rouhah Siang ini dilaksanakan secara langsung pada Rabu, 8 April 2026, bertempat di Masjid Riyadh, Solo, yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi. Pembahasan dimulai dengan mengulas kembali persinggahan singkat beliau di wilayah Quba sebelum akhirnya memasuki pusat kota Madinah. Materi ini menjadi bagian penting dalam memahami fase awal dakwah Islam di tanah suci Madinah.

Nabi Muhammad SAW tiba di Quba pada hari Senin di bulan Rabiul Awal saat matahari hampir mencapai puncaknya atau mendekati waktu zuhur. Di wilayah yang subur dan penuh perkebunan ini, beliau singgah di kediaman seorang sahabat bernama Kultsum bin Hadam selama empat hari. Momentum singkat ini menjadi sangat bersejarah karena di sanalah beliau membangun Masjid Quba, masjid pertama yang didirikan dalam sejarah Islam dengan arsitektur yang sangat sederhana.

Setelah masa persinggahan di Quba usai, Nabi melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Madinah dengan pengawalan ketat namun penuh cinta dari kaum Anshar. Para sahabat menyambut beliau dengan menghunuskan pedang sebagai simbol kesiapan untuk menjaga dan membela beliau. Kegembiraan penduduk Madinah saat itu digambarkan tidak ada tandingannya; mereka keluar rumah dengan sukacita yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Suasana penyambutan semakin syahdu saat para wanita dan anak-anak melantunkan syair “Thola’al Badru ‘Alaina” dari arah Tsaniyatil Wada. Syair ini mencerminkan rasa syukur yang mendalam atas kehadiran sang pembawa risalah. Kerumunan manusia begitu padat, semua orang bergegas mendekat untuk melihat wajah sosok yang selama ini mereka nantikan kedatangannya dari Makkah.

Salah satu kesaksian menarik datang dari Abdullah bin Salam, seorang tokoh yang saat itu belum memeluk Islam. Ia mengaku sangat penasaran dengan sosok Muhammad bin Abdillah dan memutuskan untuk ikut dalam kerumunan penyambut. Namun, begitu ia mengamati wajah Nabi dengan saksama, ia langsung berkesimpulan bahwa wajah tersebut bukanlah wajah seorang pendusta, melainkan wajah yang memancarkan kejujuran.

Di tengah perjalanan menuju Madinah, tepatnya di wilayah Bani Salim bin Auf, masuklah waktu zuhur pada hari Jumat. Di tempat inilah Nabi Muhammad SAW melaksanakan ibadah salat Jumat untuk pertama kalinya bersama sekitar seratus orang muslim. Lokasi bersejarah ini kemudian ditandai dengan berdirinya Masjid Jum’ah yang letaknya berada di sebelah kanan jalan menuju Quba.

Dalam khotbah Jumat pertamanya tersebut, Nabi Muhammad SAW memberikan pesan-pesan yang sangat fundamental bagi kehidupan seorang mukmin. Beliau mengingatkan bahwa setiap manusia pasti akan menemui kematian dan akan berdiri di hadapan Allah tanpa ada penerjemah atau penghalang. Beliau menekankan pentingnya mempersiapkan amal saleh sebelum masa itu tiba.

Nabi juga berwasiat agar setiap individu membentengi diri dari api neraka dengan cara bersedekah, meskipun hanya dengan sebutir kurma. Jika seseorang tidak memiliki harta untuk disedekahkan, maka tutur kata yang baik (kalimah thayyibah) dapat menjadi penggantinya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, kebaikan sekecil apa pun tidak boleh diremehkan karena manfaatnya yang besar bagi si pemberi maupun penerima.

Setibanya di Madinah, terjadi momen unik di mana banyak penduduk Anshar berebut menarik tali kekang unta Nabi, berharap beliau mau singgah di rumah mereka. Namun, dengan bijak Nabi meminta mereka untuk membiarkan unta tersebut berjalan sendiri karena unta itu telah mendapatkan perintah dari Allah. Unta tersebut akhirnya berhenti secara alami di depan rumah Abu Ayyub Al-Anshari.

Nabi Muhammad SAW menunjukkan kerendahan hatinya dengan memilih tinggal di lantai bawah rumah Abu Ayyub agar memudahkan para tamu yang ingin berkunjung dan bertanya tentang agama. Namun, Abu Ayyub yang sangat memuliakan Nabi merasa sangat tidak nyaman berada di posisi yang lebih tinggi dari beliau karena takut debu atau air tumpah mengenai sang Nabi. Atas desakan penuh adab dari Abu Ayyub, Nabi akhirnya bersedia pindah ke lantai atas.

Selama masa tinggalnya di rumah Abu Ayyub, para tokoh Madinah seperti Sa’ad bin Ubadah dan Sa’ad bin Zurarah secara rutin mengirimkan hidangan terbaik mereka. Abu Ayyub dan istrinya pun selalu mencari berkah dengan sengaja makan dari bekas sentuhan tangan Nabi pada piring hidangan tersebut. Cinta mereka kepada Rasulullah begitu besar hingga mereka sangat menjaga segala detail pelayanan di rumah tersebut.

Salah satu momen yang paling menyentuh dalam masa awal menetapnya Nabi di Madinah adalah interaksi beliau dengan anak-anak perempuan dari Bani Najjar. Saat mereka menyambut dengan nasyid yang menyatakan kegembiraan memiliki tetangga seperti Rasulullah, beliau dengan lembut bertanya apakah mereka mencintainya. Jawaban jujur dan penuh cinta dari anak-anak tersebut dibalas dengan penegasan Nabi bahwa Allah pun mengetahui betapa hatinya juga sangat mencintai mereka.

Kajian ini pun memberikan pelajaran berharga mengenai keteguhan para sahabat dalam mengikuti setiap kebiasaan Nabi, termasuk dalam hal yang bersifat pribadi seperti selera makanan. Abu Ayyub Al-Anshari menceritakan bagaimana ia segera menjauhi bawang putih mentah hanya karena mengetahui Nabi tidak menyukainya, meskipun makanan tersebut tidak haram. Dedikasi dan cinta yang tulus ini menjadi penutup refleksi dalam kajian kitab Nurul Yaqin kali ini, yang akan dilanjutkan pada sesi berikutnya.

Sumber: Majelis Salaf Rouhah Siang di Masjid Riyadh Solo pada tanggal 8 April 2026. Bersama Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi.

E-Buletin