Kabarmasjid.id, Surabaya – Hari Raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik acap kali hanya dimaknai sebatas ritual tahunan menyembelih hewan kurban lalu membagikan dagingnya kepada sesama. Banyak yang terjebak pada kemeriahan seremonial tanpa benar-benar meresapi transformasi spiritual yang seharusnya terjadi di dalam sanubari setiap Muslim. Padahal, di balik setiap tetesan darah hewan yang mengalir, terdapat rahasia besar tentang cinta, kepasrahan, dan sebuah konsep agung yang menjadi puncak keindahan beragama, yaitu ihsan.
Nuansa spiritual inilah yang dikupas tuntas dalam Pengajian Rutin yang menghadirkan narasumber utama, Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor, pada hari Jumat, 29 Mei 2026, bertempat di Masjid Nur Syamsiah, Surabaya. Dalam kajian tersebut, beliau mengajak para jemaah untuk tidak sekadar larut dalam rutinitas ibadah, melainkan mulai menyelami misteri mendalam di balik syariat udhiah (kurban). Momentum ini menjadi sangat istimewa karena bertepatan dengan hari tasyrik terakhir yang jatuh bersamaan dengan keutamaan hari Jumat.
Habib Ahmad Yunus mengawali ceramahnya dengan mengingatkan jemaah mengenai keagungan hari tasyrik yang juga disebut sebagai Ayyamal Ma’dudat (hari-hari yang terbilang). Berdasarkan hadis Nabi SAW, hari-hari ini adalah waktu yang disyariatkan untuk makan, minum, dan memperbanyak zikir mengingat Allah SWT (Yauma Aqlin wa Syurbi wa Zikrin). Kebahagiaan menikmati hidangan kurban sudah sepatutnya berjalan selaras dengan meningkatnya frekuensi lisan dan hati untuk senantiasa mengagungkan asma Allah, bukan justru menjadi ajang pemuasan hawa nafsu.
Lebih lanjut, beliau memaparkan mengapa salat Idul Adha memiliki nilai afdal yang sangat tinggi, bahkan melebihi Idul Fitri. Hal ini dikarenakan Idul Adha berjalan beriringan dengan ibadah haji, di mana para pencari tuhan mengorbankan tenaga, harta, dan ego mereka di tanah suci. Sementara bagi umat Muslim yang tidak berhaji, mereka tetap dituntut untuk mengambil bagian dalam semangat pengorbanan tersebut dengan cara menyisihkan sebagian harta terbaiknya guna menyembelih hewan kurban.
Pilar utama dari misteri kurban ini, menurut Habib Ahmad Yunus, bermuara pada satu kata kunci: ihsan. Beliau menjelaskan bahwa dalam tingkatan rukun agama Islam, setelah syariat Islam dan keyakinan Iman, ihsan menempati posisi paling puncak dan luhur. Esensi dari ihsan adalah kesadaran penuh bahwa seluruh amal ibadah yang kita lakukan semata-mata karena dipandang oleh Allah SWT, sebuah prinsip yang melahirkan adab, akhlak mulia, dan ketulusan tanpa mengharapkan pujian dari sesama manusia.
Kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi potret nyata bagaimana ihsan dipraktikkan dalam ujian kehidupan yang paling berat. Ujian pertama hadir ketika Nabi Ibrahim diperintahkan meninggalkan Sayidatuna Hajar dan Nabi Ismail di lembah Makkah yang gersang dan tanpa tanaman (biwadi ghairi dzi zar’in). Dengan fondasi tawakal dan kepasrahan total kepada Allah, ketulusan mereka berbuah manis dengan dimunculkannya mukjizat mata air Zamzam yang abadi melalui entakan kaki Nabi Ismail.
Puncak ujian kepasrahan itu kemudian beralih pada perintah penyembelihan Nabi Ismail lewat mimpi wahyu sang ayah. Habib Ahmad Yunus mengagumi bagaimana komunikasi yang dibangun antara ayah dan anak ini dipenuhi dengan keindahan akhlak. Nabi Ibrahim menyampaikan perintah tersebut dengan cara yang sangat lembut, dan Nabi Ismail pun menjawabnya dengan kepasrahan yang luar biasa,. Bahkan, saat hendak disembelih, Nabi Ismail meminta wajahnya ditelungkupkan agar sang ayah tidak merasa pilu saat menatap matanya. Kerelaan inilah yang membuat Allah menggantinya dengan seekor domba besar dan mengabadikan mereka sebagai golongan muhsinin.
Prinsip ihsan ini tidak hanya berhenti pada wilayah keteguhan hati, melainkan diturunkan secara aplikatif dalam fikih penyembelihan hewan. Nabi SAW telah menginstruksikan umatnya untuk berlaku baik kepada segala sesuatu, termasuk saat mencabut nyawa hewan kurban. Salah satu adab penting yang ditekankan Habib Ahmad Yunus adalah kewajiban menajamkan pisau sebelum menyembelih. Pisau yang tajam akan mempercepat proses kematian sehingga hewan tidak perlu merasakan penderitaan dan rasa sakit yang berkepanjangan.
Selain itu, aspek psikologis hewan kurban juga wajib diperhatikan secara saksama. Beliau menyayangkan banyaknya praktik di masyarakat saat ini di mana hewan disembelih langsung di hadapan hewan lainnya yang sedang mengantre. Tindakan tersebut membuat hewan menjadi stres, syok, dan ketakutan, yang dalam sebuah hadis digambarkan seperti menyembelih hewan tersebut sebanyak dua kali,. Adab mendasar seperti memberi minum sebelum penyembelihan dan menyembunyikan kilatan pisau dari pandangan hewan harus tetap dijaga sebagai wujud kasih sayang Islam.
Secara teknis medis dan fikih, penyembelih harus memastikan bahwa saluran pernapasan (tenggorokan) dan saluran makanan (kerongkongan) hewan putus secara sempurna dalam sekali gerakan. Habib Ahmad Yunus mengingatkan risiko fatal apabila penyembelihan dilakukan secara ceroboh atau asal-asalan. Jika hewan mati dalam kondisi saluran yang tidak terputus dengan benar, hewan tersebut bisa jatuh pada hukum bangkai yang haram dikonsumsi, dan pihak jagal atau penyembelih yang tidak kompeten harus bertanggung jawab penuh atas kerugian tersebut.

Kembali pada hakikat utama ibadah ini, Allah SWT secara tegas menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa bukan daging atau darah kurban yang akan mencapai rida-Nya, melainkan ketakwaan yang tertanam di dalam hati orang yang berkurban. Daging fisik kurban adalah sarana sosial untuk berbagi, di mana sebagian kecil dianjurkan untuk dimakan oleh keluarga yang berkurban, dan sebagian besar lainnya didistribusikan kepada kaum fakir miskin—baik mereka yang menahan diri dari meminta-minta karena menjaga kehormatan, maupun mereka yang membutuhkan.
Sebagai penutup kajian yang sarat makna ini, Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor berpesan agar semangat kebaikan dan kepasrahan kurban tidak luntur seiring berakhirnya hari tasyrik. Beliau mengingatkan bahwa amalan agama yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW adalah amalan yang dijaga secara konsisten dan istiqamah (muhafadah), walaupun kuantitasnya sedikit. Semoga momentum Idul Adha dan madrasah kurban ini berhasil mentransformasikan diri kita semua menjadi pribadi yang muhsinin, yang senantiasa menebar ihsan dan kebaikan kepada sesama makhluk di bumi.
Sumber: Pengajian Rutin Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor di Masjid Nur Syamsiah Surabaya pada Jum’at, 29 Mei 2026