KabarMasjid.id, Solo – Keutamaan akhlak dan bakti kepada orang tua merupakan pilar utama dalam membangun karakter seorang Muslim yang paripurna. Mengambil hikmah dari keteladanan Nabi Muhammad SAW, kita diajak untuk merefleksikan kembali sejauh mana kepedulian dan penghormatan kita terhadap sesama, terutama kepada mereka yang menjadi sebab keberadaan kita di dunia.
Kajian mendalam mengenai kitab Khulasoh Nurul Yaqin ini disampaikan oleh Habib Ahmad bin Muhammad Al Habsyi pada Jumat, 16 Januari 2026. Kegiatan religius tersebut berlangsung di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, sebuah pusat syiar Islam yang megah, di mana narasumber mengupas tuntas sari pati akhlak kenabian dan adab terhadap orang tua bagi jamaah yang hadir maupun yang menyimak secara daring.
Habib Ahmad mengawali kajian dengan memaparkan ringkasan akhlak Nabi Muhammad SAW yang sangat luar biasa dalam berinteraksi dengan para sahabatnya. Beliau dikenal sebagai pribadi yang paling ramah, selalu menghiasi wajahnya dengan senyuman tulus saat bertemu orang lain, serta senantiasa menjadi pihak yang pertama kali menyapa dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan sebagai bentuk kerendahan hati.
Lebih jauh, Habib Ahmad menjelaskan sifat isar atau mendahulukan kepentingan orang lain yang dimiliki Rasulullah SAW. Cinta para sahabat kepada beliau begitu besar hingga melebihi cinta mereka kepada diri sendiri maupun anak-anak mereka. Hal ini lahir karena Nabi selalu memperlakukan setiap orang dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang mendalam tanpa membeda-bedakan status.
Salah satu teladan yang ditekankan adalah cara Rasulullah menjaga hubungan baik dengan masa lalu. Meskipun Sayidah Khadijah telah wafat, Nabi tetap menjalin silaturahmi dengan sahabat-sahabat almarhumah istrinya tersebut. Beliau sering kali mengirimkan hadiah atau daging sembelihan kepada mereka sebagai bentuk penghormatan atas hubungan yang pernah terjalin selama masa hidup sang istri.
Kepedulian sosial Nabi juga tercermin dari kebiasaan beliau memantau kondisi para sahabatnya. Jika seseorang tidak terlihat dalam majelis selama tiga hari, Nabi akan segera menanyakannya. Apabila sahabat tersebut sedang dalam perjalanan, beliau mendoakannya, dan jika diketahui sedang sakit, beliau akan segera meluangkan waktu untuk menjenguk dan memberikan dukungan moral.
Setelah membahas akhlak kenabian, kajian beralih pada tema Mahabbatul Walidain atau cinta kepada kedua orang tua. Habib Ahmad mengingatkan bahwa orang tua adalah perantara utama kehadiran manusia di muka bumi. Mereka telah mencurahkan kasih sayang yang sangat besar dan bersusah payah dalam membesarkan anak-anaknya tanpa pernah mengharapkan imbalan materi.
Sosok ibu mendapatkan perhatian khusus dalam kajian ini karena perjuangannya mengandung selama sembilan bulan dan menyusui dengan penuh kesabaran. Seorang ibu rela terjaga di tengah malam demi memastikan kenyamanan anaknya, mulai dari memberi makan hingga menjaga kebersihan, semuanya dilakukan dengan rasa bahagia meskipun secara fisik sangat melelahkan.
Peran ayah juga tidak kalah penting, di mana beliau rela bekerja keras keluar rumah, menghadapi teriknya matahari maupun dinginnya malam demi mencari nafkah. Ayah senantiasa berupaya mencukupi segala kebutuhan anak, mulai dari pendidikan hingga perlengkapan sehari-hari, serta selalu mendambakan anaknya tumbuh dengan kesehatan dan akhlak yang sempurna.
Habib Ahmad menekankan bahwa setiap anak wajib membalas kebaikan orang tua dengan kebaikan yang serupa atau lebih baik. Mengingat jasa mereka yang tak terukur, seorang Muslim diajarkan untuk menghormati mereka dari lubuk hati terdalam, berbicara dengan bahasa yang santun, dan tidak pernah berkata kasar meskipun hanya sekadar ucapan yang meremehkan.
Berbakti kepada orang tua juga diwujudkan melalui doa-doa yang dipanjatkan secara rutin. Kita diajak untuk memohon agar orang tua diberikan kesehatan, umur yang berkah, serta keselamatan dunia dan akhirat. Doa seorang anak merupakan salah satu cara terbaik untuk membalas budi, terutama bagi mereka yang mungkin belum mampu membalas secara materiil.
Sebagai penutup, Habib Ahmad mengingatkan bahwa keberadaan orang tua adalah nikmat dan keberkahan yang luar biasa selama mereka masih hidup. Seringkali, seseorang baru menyadari betapa berharganya kehadiran orang tua setelah maut memisahkan mereka. Oleh karena itu, selagi masih ada kesempatan, setiap anak diharapkan mampu memanfaatkan waktu untuk membahagiakan dan memuliakan mereka.
Sumber: Kitab Khulasoh Nurul Yaqin yang disampaikan oleh Habib Ahmad bin Muhammad Al Habsyi di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo