Kabarmasjid.id, Surakarta – Di tengah dinamika kehidupan modern yang sering kali menguji prinsip dan keyakinan, kisah-kisah dalam Al-Qur’an tetap menjadi kompas moral yang tak lekang oleh waktu. Salah satu narasi yang paling menggugah adalah kisah sekelompok pemuda yang memilih mengasingkan diri demi menjaga kemurnian iman mereka dari penindasan penguasa. Melalui kisah ini, kita diajak untuk merefleksikan kembali sejauh mana keteguhan hati kita dalam menghadapi berbagai tekanan sosial maupun ideologis di masa kini.
Kajian mendalam mengenai hikmah ini disampaikan oleh Habib Ali bin Hasan Alhabsyi dalam Majelis Salaf Rouhah Siang yang membahas Tafsir Kitab Sofwatuttafasir karya Imam Assabuni. Agenda rohani ini berlangsung khidmat pada hari Sabtu, 25 April 2026, bertempat di Masjid Riyadh Solo. Dalam pemaparannya, Habib Ali menekankan bahwa Surah Al-Kahfi bukan sekadar bacaan rutin, melainkan sumber kekuatan bagi setiap mukmin untuk menghadapi tantangan zaman yang penuh dengan fitnah.
Sebagai pembuka, Ustadz Ali menjelaskan kedudukan istimewa Surah Al-Kahf yang merupakan salah satu dari lima surah yang diawali dengan lafaz Alhamdulillah. Hal ini menunjukkan bahwa segala bentuk perlindungan dan petunjuk yang diberikan Allah dalam kisah-kisah di dalamnya adalah bentuk rahmat yang patut disyukuri. Surah ini mengandung tiga kisah besar, namun fokus utama kajian kali ini adalah mengenai Ashabul Kahf atau para penghuni gua yang menjadi simbol keteguhan iman pemuda.
Kisah ini bermula di sebuah wilayah Romawi bernama At-Tarsus, beberapa masa setelah zaman Nabi Isa AS. Saat itu, kekuasaan berada di tangan Raja Dekianus, seorang pemimpin zalim yang memaksakan penyembahan berhala kepada seluruh rakyatnya. Siapa pun yang berani menunjukkan keimanan kepada Allah akan menghadapi ancaman hukuman mati. Di tengah kegelapan moral inilah, muncul sekelompok pemuda yang memiliki keberanian luar biasa untuk menyatakan kebenaran di hadapan sang raja.
Habib Ali menjelaskan bahwa saat dihadapkan pada raja, para pemuda ini tidak gentar sedikit pun. Mereka dengan lantang menyatakan bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan pemilik langit dan bumi. Menariknya, raja melihat mereka sebagai anak muda yang mungkin hanya bertindak spontan, sehingga ia memberikan waktu penangguhan bagi mereka untuk berpikir ulang. Waktu penangguhan ini, menurut Habib Ali, adalah bentuk pertolongan tersembunyi dari Allah agar mereka dapat merencanakan penyelamatan diri.
Malam itu juga, para pemuda tersebut memutuskan untuk melarikan diri dan bersembunyi di dalam sebuah gua demi menyelamatkan agama mereka. Allah kemudian menunjukkan kekuasaan-Nya yang sangat luar biasa dengan menidurkan mereka di dalam gua tersebut selama 309 tahun. Selama masa tidur yang panjang itu, mereka tidak membutuhkan asupan makanan maupun minuman, sebuah bukti nyata bahwa Allah mampu menghentikan hukum alam demi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
Salah satu detail menarik dalam tafsir ini adalah bagaimana Allah melindungi mereka. Allah menyampaikan bahwa Dia menutup telinga para pemuda tersebut agar tidak terganggu oleh suara apa pun dari luar. Ustadz Ali menekankan bahwa orang yang tertutup matanya belum tentu tidur pulas, namun orang yang ditutup pendengarannya sudah pasti tertidur dengan tenang. Inilah cara Allah memberikan istirahat total bagi fisik dan jiwa mereka dari hiruk pikuk kezaliman dunia.
Setelah tiga abad berlalu, Allah membangunkan mereka kembali dalam kondisi tubuh yang tetap utuh. Saat terbangun, para pemuda ini merasa hanya tertidur selama sehari atau setengah hari saja. Rasa lapar kemudian mendorong salah satu dari mereka untuk keluar menuju kota guna membeli makanan dengan uang perak kuno yang mereka bawa. Namun, pemuda tersebut terheran-heran karena kota yang ia kenal telah berubah drastis, baik dari segi bangunan maupun penduduknya.
Keanehan mulai memuncak saat pemuda tersebut bertransaksi menggunakan uang kuno di pasar. Para penjual dan warga setempat terkejut melihat mata uang dari masa Raja Dekianus yang sudah ratusan tahun tiada. Peristiwa ini akhirnya membawa mereka bertemu dengan pemimpin zaman tersebut yang ternyata adalah seorang raja mukmin yang saleh. Pertemuan ini menjadi bukti sejarah yang tak terbantahkan bagi penduduk kota tentang kebenaran hari kebangkitan dan kekuasaan mutlak Allah SWT.
Habib Ali bin Hasan Alhabsyi memberikan catatan penting bahwa keteguhan hati para pemuda ini bersumber dari hati yang mutmainnah (tenang) dan bangga dengan Islam. Meskipun mereka masih muda, yang biasanya identik dengan keraguan dan labil, mereka justru membuktikan bahwa keimanan yang kuat dapat mengalahkan ketakutan terhadap penguasa yang paling zalim sekalipun. Mereka tidak mencari solusi dari program atau tawaran duniawi, melainkan hanya bersandar pada pertolongan Allah.
Pelajaran terbesar bagi kita di masa sekarang adalah bagaimana menjaga prinsip di tengah “fitnah” atau godaan yang beragam. Habib Ali mengingatkan bahwa tantangan hari ini mungkin bukan lagi pedang atau ancaman fisik dari raja yang zalim, melainkan tawaran-tawaran hidup yang secara tidak langsung dapat melunturkan nilai-nilai keimanan. Ketenangan hati seperti yang dimiliki Ashabul Kahf sangat dibutuhkan agar kita tidak mudah terombang-ambing oleh situasi dan kondisi zaman.

Sebagai penutup kajian, pesan moral yang ditinggalkan adalah ajakan untuk terus menceritakan dan mengenang kisah pemuda gua ini sebagai sumber inspirasi. Kita diharapkan mampu mendidik generasi muda di sekitar kita agar memiliki keyakinan yang kokoh dan selalu mencari solusi kehidupan yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Semoga dengan meneladani Ashabul Kahf, kita semua diberikan ketetapan hati dalam menjaga hidayah hingga akhir hayat.
Sumber: kajian Tafsir Kitab Sofwatuttafasir oleh Habib Ali bin Hasan Alhabsyi dalam Majelis Salaf Rouhah Siang yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 April 2026, di Masjid Riyadh Solo