Belajar dari Akhir Kisah Firaun: Kesombongan, Pengingkaran, dan Pengakuan yang Terlambat

Ustadz Anjani Robbi, S.Sos.,
Ustadz Anjani Robbi, S.Sos.,

Bagikan postingan :

Kisah-kisah penentangan terhadap ajaran ilahi yang diabadikan dalam Al-Qur’an senantiasa menyajikan ikhtibar dan pelajaran moral yang tidak pernah lapuk ditelan zaman, terutama mengenai kesudahan tragis orang-orang yang sombong. Fenomena kehancuran penguasa zalim menjadi cermin jernih bagi umat manusia agar tidak melampaui batas dalam menikmati tampuk kekuasaan maupun kesenangan duniawi. Nuansa spiritual dan refleksi historis tersebut mengemuka dalam Kajian Ba’da Maghrib yang diselenggarakan pada Kamis 6 Agustus 2026 di Masjid Al Falah Surabaya, dengan menghadirkan narasumber Ustadz Anjani Robbi, S.Sos., yang mengupas secara mendalam tema bertajuk “Kesudahan Orang-Orang yang Sombong”.

Dalam pemaparannya, Ustadz Anjani Robbi menjelaskan bahwa materi malam tersebut merupakan bagian penutup dari episode pertama perjalanan dakwah Nabi Musa AS. Episode ini berfokus pada dinamika perjuangan Sang Nabi saat berhadapan langsung dengan penguasa represif Mesir, Firaun, beserta para pasukannya. Beliau menguraikan bahwa narasi Al-Qur’an mengenai Nabi Musa AS secara garis besar terbagi dalam dua fase utama, yakni fase dakwah menghadapi Firaun dan fase pembinaan terhadap kaumnya sendiri, yaitu Bani Israil.

Kajian diawali dengan pembahasan mendalam mengenai peristiwa bersejarah yang dikenal sebagai Yaumuz Zinah sebagaimana termaktub dalam Surah Thaha ayat 59. Penceramah meluruskan kekeliruan pemahaman awam terkait istilah tersebut, menegaskan bahwa zinah dalam konteks ayat ini bermakna perhiasan atau perayaan hari raya masyarakat Mesir kuno. Pada momentum tersebut, Firaun mengumpulkan seluruh rakyatnya dalam suasana pesta megah untuk menampakkan kemewahan kerajaan sekaligus mengukuhkan klaim dirinya sebagai tuhan tertinggi.

Nabi Musa AS secara bijaksana memilih momentum publik tersebut untuk meladeni tantangan Firaun dan para penyihirnya agar kebenaran tauhid dapat disaksikan secara terbuka oleh khalayak luas. Firaun mengerahkan ribuan penyihir terlatih untuk mematahkan dakwah Sang Nabi, namun meremehkan fakta bahwa lawan mereka hanyalah Nabi Musa AS dan saudaranya, Nabi Harun AS. Namun, atas izin Allah SWT, mukjizat tongkat Nabi Musa AS yang berubah menjadi ular besar menelan seluruh tipu daya sihir tersebut, hingga membuat para penyihir tersadar dan bersujud mengakui keagungan Allah SWT.

Kekalahan telak para penyihir istana ternyata tidak lantas melelehkan keangkuhan Firaun untuk menerima kebenaran. Penguasa yang diselimuti kesombongan itu justru semakin mematangkan pembangkangannya dan menolak beriman. Sebagai bentuk peringatan keras atas kekufuran tersebut, Allah SWT kemudian menimpakan azab berupa musim kemarau panjang dan paceklik ekstrem yang melanda seluruh pelosok negeri Mesir selama bertahun-tahun, sebagaimana terekam dalam Surah Al-A’raf ayat 130.

Bencana kemarau panjang itu melumpuhkan pilar perekonomian Mesir; tanaman gandum gagal panen, pepohonan mengering, ternak bergelimpangan, dan Sungai Nil yang megah pun mengering hingga kehabisan air. Berbagai ritual tumbal dan upaya pencarian air hingga ke luar negeri yang dilakukan pasukan Firaun berakhir dengan kegagalan total. Dalam kondisi bertekuk lutut, Firaun akhirnya mengutus menterinya untuk memohon pertolongan kepada Nabi Musa AS agar berdoa kepada Allah SWT menurunkan hujan, seraya berjanji bahwa dirinya akan beriman jika penderitaan tersebut diangkat.

Menanggapi permohonan tersebut, Nabi Musa AS memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT, dan sebelum tangan Sang Nabi selesai diturunkan, hujan lebat langsung mengguyur negeri Mesir selama satu bulan penuh hingga Sungai Nil kembali melimpah. Namun, begitu kenikmatan dan kesegaran air kembali dirasakan, Firaun kembali ingkar janji dan bersikap arogan. Dengan nada penuh pengingkaran, Firaun berdalih bahwa turunnya hujan tersebut hanyalah fenomena siklus alam biasa yang memang sudah waktunya terjadi, bukan karena mukjizat doa Nabi Musa AS.

Melihat potensi pengikatan iman dari sebagian rakyatnya yang mulai membandingkan kemuliaan Tuhan Nabi Musa AS dengan kelemahan Firaun, sang raja semakin murka. Firaun kemudian mengambil keputusan radikal dengan memobilisasi seluruh elit pasukan khususnya beserta ribuan prajurit bersenjata lengkap. Misi tunggal dari pengerahan kekuatan militer secara masif ini adalah mengejar, menangkap, dan membunuh Nabi Musa AS beserta seluruh pengikutnya hingga memusnahkan mereka tanpa sisa.

Pelarian Nabi Musa AS bersama ratusan pengikutnya dari kalangan Bani Israil—yang sebagian besar hanya berprofesi sebagai petani dan penggembala dengan perlengkapan seadanya—sampai di batas tepi Laut Merah. Suasana mencekam diselimuti keputusasaan sempat melanda kaum Bani Israil ketika menyaksikan debu derap langkah pasukan Firaun semakin mendekat di belakang mereka, sebagaimana diabadikan dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 61. Namun, Nabi Musa AS meneguhkan keyakinannya bahwa Allah SWT tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang beriman.

Melalui wahyu ilahi, Nabi Musa AS diperintahkan untuk memukulkan tongkatnya ke permukaan air laut, hingga atas izin Allah SWT Laut Merah terbelah menjadi 12 lorong daratan yang kering dan aman bagi 12 suku Bani Israil. Dinding-dinding air berdiri kokoh menjulang tinggi bagaikan benteng raksasa di kiri dan kanan jalan. Rombongan Nabi Musa AS berhasil melintasi dasar lautan dengan selamat, sementara Firaun bersama seluruh armada pasukannya dengan buta keangkuhan tetap nekat menerobos masuk mengejar ke tengah belahan laut tersebut.

Ketika seluruh pasukan Firaun berada di tengah-tengah lautan, Allah SWT memerintahkan air laut untuk kembali menyatu dan menggulung mereka dalam kebinasaan. Di saat-saat kritis ketika air laut telah menyumbat tenggorokannya dan maut berada di depan mata, Firaun baru menyatakan pengakuan tulusnya bahwa ia beriman kepada Tuhannya Bani Israil. Namun, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Yunus ayat 90-92, pengakuan dan taubat di penghujung nyawa tersebut telah terlambat dan ditolak oleh Allah SWT, yang kemudian hanya menyelamatkan jasad Firaun sebagai ikhtibar abadi bagi peradaban manusia selanjutnya.

Mengakhiri kajiannya, Ustadz Anjani Robbi menekankan dua pesan moral mendasar dari runtuhnya kekuasaan Firaun. Pertama, kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran pada akhirnya hanya akan mengantarkan manusia pada jurang kebinasaan yang hina. Kedua, sebagai hamba Allah SWT, hendaknya setiap muslim senantiasa memelihara sikap sami’na wa ata’na (kami mendengar dan kami taat) dalam menjalankan setiap perintah dan menjauhi larangan agama tanpa perlu bertele-tele atau mencari-cari alasan untuk membangkang.

Sumber: Kajian Ba’da Maghrib berjudul “Kesudahan Orang-Orang yang Sombong” yang disampaikan oleh Ustadz Anjani Robbi, S.Sos. di Masjid Al Falah Surabaya pada Kamis 6 Agustus 2026

E-Buletin