Kabarmasjid.id, Surabaya – Bulan Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum emas untuk memetakan jalan pulang menuju kebahagiaan abadi. Di tengah suasana sore yang teduh, ratusan jemaah berkumpul untuk mencari bekal spiritual yang dapat menenangkan jiwa dan menguatkan raga. Sebuah pertanyaan mendasar muncul: dari sekian banyak pintu surga yang tersedia, manakah yang sudah kita persiapkan kuncinya sejak di dunia?
Kajian “Ngaji Ngabuburit” ini dilaksanakan pada hari Jumat, 20 Februari 2026, bertepatan dengan 2 Ramadan 1447 Hijriah di Ruang Utama Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Hadir sebagai narasumber tunggal adalah Prof. Dr. KH. Muhammad Ali Aziz, M.Ag., seorang pakar dakwah sekaligus penulis buku laris Terapi Shalat Bahagia. Dalam paparan yang berlangsung hangat, beliau mengangkat tema inspiratif mengenai “Saatnya Memilih Pintu Surga” yang disarikan dari dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadis.
Mengawali kajiannya, Prof. Ali Aziz mengutip Surah Az-Zumar ayat 73 yang menggambarkan rombongan orang bertakwa saat memasuki surga. Beliau menjelaskan bahwa Allah SWT dalam kemurahan-Nya tidak hanya menyediakan satu jalan, melainkan delapan pintu surga yang berbeda-beda. Hal ini merupakan bentuk kasih sayang Allah agar setiap hamba memiliki peluang masuk sesuai dengan amal unggulan yang mereka miliki selama hidup di dunia.
Pintu pertama yang dijelaskan adalah Pintu Shalat, yang diperuntukkan bagi mereka yang konsisten dan khusyuk dalam menjalankan ibadahnya. Namun, Prof. Ali Aziz dengan gaya bahasa yang santai mengingatkan bahwa jika shalat kita masih sering tidak fokus, Allah masih membuka pintu lainnya. Beliau menekankan bahwa kegagalan di satu pintu tidak berarti berakhirnya kesempatan bagi seorang hamba untuk meraih rida-Nya.
Pintu berikutnya adalah Pintu Jihad, yang maknanya ditarik secara luas dalam kehidupan sehari-hari, seperti berjuang mengurus kegiatan sosial di masjid atau majelis taklim. Selain itu, ada Pintu Sedekah yang memanggil orang-orang gemar berbagi, baik berupa harta maupun tenaga. Beliau menegaskan bahwa sedekah tidak melulu soal uang; membantu mencuci piring atau membersihkan toilet masjid pun bisa menjadi kunci pembuka pintu ini.
Bagi umat yang saat ini sedang menjalankan ibadah di bulan suci, tersedia Pintu Ar-Rayyan atau pintu puasa. Pintu ini secara khusus memanggil mereka yang sanggup menjaga mulut, perut, dan anggota tubuhnya dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa. Keberagaman pintu ini memberikan harapan besar bagi setiap jemaah bahwa selalu ada jalan bagi orang-orang yang mau berusaha memperbaiki diri.
Selain pintu-pintu ibadah ritual, terdapat pula Pintu Babul Walid bagi anak-anak yang berbakti kepada orang tua. Prof. Ali Aziz menjelaskan bahwa memuliakan ayah dan ibu adalah amalan dahsyat yang bisa mengantarkan seseorang melintasi gerbang surga dengan mudah. Tak ketinggalan, ada pula pintu bagi orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain di sekitarnya.
Dalam sesi tanya jawab, seorang jemaah bertanya mengenai peluang masuk surga tanpa melalui proses pemeriksaan atau hisab. Prof. Ali Aziz menjelaskan adanya pintu bernama Babul Aiman, yang diperuntukkan bagi hamba-hamba dengan tingkat tawakal dan rida yang sangat tinggi. Mereka adalah orang-orang yang hatinya selalu merasa cukup dan menerima segala ketentuan Allah dengan lapang dada.
Beliau juga memberikan jawaban yang sangat menyentuh bagi para ibu yang wafat saat melahirkan atau keluarga yang mengalami keguguran. Menurutnya, rasa sakit dan kesedihan mendalam yang dialami dalam proses tersebut merupakan penggugur dosa yang luar biasa. Beliau meyakinkan bahwa setiap tetes air mata dan rasa sakit dalam perjuangan tersebut tidak akan sia-sia di mata Allah SWT.
Terkait interaksi sosial, Prof. Ali Aziz memberikan tips dakwah bagi mereka yang hidup di lingkungan yang kurang kondusif atau toksik. Beliau menyarankan metode attalif qobla takrif, yakni melunakkan hati orang lain dengan kebaikan terlebih dahulu sebelum memberikan nasihat. Menurutnya, memberi perhatian atau makanan sering kali lebih efektif daripada sekadar melontarkan ceramah yang menggurui.
Pada bagian akhir kajian, Prof. Ali Aziz berpesan agar setiap individu mulai memikirkan “spesialisasi” amal apa yang akan menjadi kunci surga mereka. Beliau memotivasi jemaah untuk meniru sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq yang dipanggil dari seluruh pintu surga karena keistiqamahannya di segala lini kebaikan. Meski berat, semangat untuk mengejar banyak kebaikan harus tetap ditanamkan dalam sanubari.
Sumber: Ngaji Ngabuburit di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya oleh Prof. Dr. KH. Muhammad Ali Aziz, M.Ag. dengan tema “Saatnya Memilih Pintu Surga”