Belajar Adab Menegur dan Totalitas Pengorbanan dari Surah At-Taubah

Drs. KH. Abdullah Bahreisy.
Drs. KH. Abdullah Bahreisy.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Dalam merespons berbagai dinamika keagamaan dan kehidupan sosial, prinsip ketulusan serta loyalitas senantiasa menjadi batu ujian bagi setiap insan beriman. Al-Qur’an melalui berbagai lembar penjelasannya memberikan potret jernih mengenai perbedaan mendasar antara komitmen sejati dan dalih orang-orang yang enggan berkorban. Hikmah mendalam mengenai keimanan, adab, serta pengorbanan ini mengemuka dalam kajian tafsir Al-Qur’an yang diselenggarakan pada, Jum’at 17 Juli 2026, di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya bersama narasumber penceramah Drs. KH. Abdullah Bahreisy.

Kajian tersebut secara khusus mengupas kandungan Surah At-Taubah ayat 43 dan ayat-ayat sekitarnya yang berlatar belakang peristiwa Perang Tabuk. Pada masa itu, kaum muslimin dihadapkan pada ujian berat berupa panggilan jihad di tengah cuaca musim panas yang sangat terik, bersamaan dengan tibanya musim panen kurma dan anggur di Madinah. Kondisi dilematis ini menjadi medan pembuktian untuk membedakan antara mereka yang sungguh-sungguh beriman dengan golongan munafik yang senantiasa mencari celah untuk menghindar.

Dalam pemaparannya, Kiai Bahreisy menjelaskan bagaimana orang-orang munafik senantiasa melontarkan berbagai alasan agar dibebaskan dari kewajiban berjuang. Setiap kali diajak berjuang di jalan Allah, ada saja dalih yang mereka kemukakan kepada Rasulullah SAW, seperti mengklaim tidak ada yang menjaga rumah atau mengeluhkan kondisi alam. Karakter dasar orang munafik memang cenderung memilih kenyamanan pribadi ketimbang menyambut panggilan pengorbanan bersama.

Sebaliknya, para sahabat nabi yang mulia justru memperlihatkan totalitas pengorbanan harta maupun jiwa. Beliau mencontohkan Utsman bin Affan RA yang tanpa ragu menginfakkan ratusan ekor unta beserta seluruh beban barang dagangannya demi membiayai logistik pasukan Islam. Pengorbanan besar ini dilakukan guna memastikan kaum muslimin yang kurang mampu tetap dapat berangkat menjalankan kewajiban di jalan Allah.

Salah satu poin inti yang dibahas dalam kajian ini adalah adab dan pendidikan akhlak luar biasa yang ditunjukkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW pada ayat ke-43. Melalui firman-Nya “Afallahu ‘anka…” (Allah telah memaafkanmu…), Allah memberikan pengampunan dan kelembutan terlebih dahulu sebelum menegur keputusan Nabi yang terburu-buru memberi izin kepada orang-orang munafik untuk tidak ikut berperang.

Teguran berbalut kasih sayang tersebut mengandung hikmah mendalam agar Rasulullah SAW dapat melihat secara terang benderang siapa di antara pengikutnya yang benar-benar jujur dan siapa yang berdusta. Allah berkehendak agar alasan-alasan yang dilontarkan setiap individu teruji secara terbuka, sehingga kualitas keimanan masing-masing orang dapat terbukti nyata tanpa ada yang tersembunyi.

Kajian ini juga mengangkat keutamaan sahabat lain seperti Abu Thalhah RA yang menunjukkan konsistensi perjuangan hingga usia senja. Meskipun usianya sudah lanjut dan dikeluargai oleh anak-anaknya yang rela menggantikan posisinya, Abu Thalhah tetap menegaskan tekadnya untuk berangkat berjuang hingga akhirnya wafat di atas kapal di tengah lautan dalam keadaan jenazah yang tetap utuh dan harum.

Di samping itu, Drs. KH. Abdullah Bahreisy turut memaparkan kisah keteladanan Abdurrahman bin Auf RA sekembalinya dari Perang Tabuk. Mengetahui banyak kebun kurma warga Madinah yang rusak akibat ditinggal berjuang berbulan-bulan, Abdurrahman bin Auf memborong seluruh kurma kering tersebut dengan harga kualitas terbaik agar para sahabat tidak berkecil hati atau mengalami kerugian finansial.

Sikap kedermawanan yang tulus tersebut kemudian dibalas oleh Allah SWT dengan cara yang tidak disangka-sangka. Ketika wabah penyakit melanda wilayah Yaman dan membutuhkan kurma kering sebagai penawarnya, utusan Raja Yaman datang memborong kembali seluruh persediaan kurma milik Abdurrahman bin Auf dengan harga melipat ganda, membuktikan bahwa pengorbanan di jalan Allah tidak akan pernah membawa kerugian.

Lebih lanjut, penceramah menegaskan bahwa orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir tidak akan sibuk meminta izin atau mencari alasan untuk menghindar dari kebaikan dan perjuangan. Kebiasaan ragu-ragu dan selalu berdalih hanyalah cerminan dari hati yang belum meyakini secara penuh balasan serta janji Allah di akhirat kelak.

Ayat-ayat dalam Surah At-Taubah ini juga membeberkan alasan mengapa Allah tidak menyukai keikutsertaan orang-orang munafik dalam barisan perjuangan. Kehadiran mereka yang tidak tulus justru berpotensi menaburkan keraguan, memicu kekecewaan, serta menyebarkan fitnah dan provokasi di tengah barisan kaum muslimin yang sedang berjuang.

Sebagai penutup kajian, Kiai Bahreisy menghimbau untuk senantiasa mengevaluasi diri dan memupuk keikhlasan dalam setiap amal perbuatan sesuai kapasitas masing-masing. Membela agama dan berbuat kebaikan tidak harus selalu dalam bentuk peperangan fisik, melainkan dapat diwujudkan melalui pengorbanan tenaga, harta, ilmu, serta saling mengajak kepada kebajikan di kehidupan sehari-hari.

Sumber: Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 43 yang disampaikan oleh Drs. KH. Abdullah Bahreisy di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya pada Jum’at 17 Juli 2026

E-Buletin