Bedah Tuntas Kitabul Ilmi Shahih Bukhari: Ustadz Adi Hidayat Jelaskan Kurikulum Hidup Nabawi

Tabligh Akbar Spesial Surabaya - Ustadz Adi Hidayat
Tabligh Akbar Spesial Surabaya - Ustadz Adi Hidayat

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Pada hari Minggu sore, 9 November 2025, suasana Masjid Al-Irsyad Surabaya dipenuhi ribuan jemaah untuk mengikuti Tabligh Akbar spesial yang disampaikan oleh Ustadz Adi Hidayat (UAH). Dalam kajian bertajuk Kitabul Ilmi tersebut, UAH membedah pedoman hidup yang pernah dipraktikkan oleh generasi terbaik Islam. Beliau menekankan bahwa kesuksesan hakiki—yang mencakup kebahagiaan dunia dan akhirat—dapat diraih melalui tiga pilar utama: menjadikan majelis ilmu sebagai rahmat, mendasarkan belajar pada iman, dan menyempurnakan adab.

Ustadz Adi Hidayat mengawali kajian dengan mengingatkan bahwa majelis ilmu adalah salah satu pintu utama Rahmat Allah. Rahmat ini, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Az-Zumar ayat 53, memiliki kekuatan luar biasa untuk menggugurkan dosa-dosa besar yang pernah dilakukan seorang hamba. Kehadiran di majelis ilmu bukan hanya tentang mendapatkan pengetahuan, tetapi tentang meraih kasih sayang ilahi.

Keutamaan ini diperkuat dengan kisah masyhur tentang seorang pembunuh yang telah merenggut 100 nyawa. Meskipun belum sempat mencapai tujuan majelis ilmu, tekadnya untuk bertaubat dan langkah kakinya untuk belajar sudah cukup membuat Allah SWT menerima taubatnya. Hal ini menjadi dalil bahwa setiap usaha untuk hijrah menjadi lebih baik, bahkan yang terputus di tengah jalan, akan tetap diganjar pahala dan diampuni dosa-dosanya (Q.S. An-Nisa: 100).

Kurikulum yang dibahas Ustadz Adi Hidayat adalah pedoman hidup yang diwariskan langsung oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada generasi Assabiqunal Awwalun, sekelompok 40 sahabat yang belajar selama 10 tahun. Kurikulum ini terbukti menghasilkan pribadi-pribadi sukses di berbagai bidang, mulai dari bisnis seperti Abdurrahman bin Auf hingga militer seperti Khalid bin Walid, yang kemudian mengubah kota yang penuh konflik menjadi Al-Madinah Al-Munawwarah.

Pedoman hidup yang universal dan membawa kesuksesan sejati ini kemudian dihimpun dan diklasifikasikan oleh Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dalam karyanya Al-Jami’ Ash-Shahih Al-Musnad Al-Mukhtasar, yang dikenal sebagai Shahih Al-Bukhari. Ustadz Adi Hidayat secara khusus membedah topik ketiga, Kitabul Ilmi, yang sengaja dibuka dengan Bab Fadlil Ilmi (Keutamaan Ilmu), sebagai kunci untuk memotivasi setiap muslim dalam menuntut ilmu.

Pilar pertama yang harus dimiliki penuntut ilmu adalah Iman. UAH mengutip Q.S. Al-Mujadalah ayat 11, di mana Allah secara spesifik memanggil “Yā Ayyuhalladzīna Āmanū” (Hai orang-orang yang beriman) ketika berbicara tentang pengangkatan derajat. Beliau mengingatkan, kepintaran mudah didapat, tetapi keberkahan hanya datang jika proses belajar didasarkan pada iman.

Belajar yang didasari iman akan merubah aktivitas tersebut menjadi Amal Saleh, yaitu amal baik yang dikerjakan karena Allah semata. Hal ini berbeda dengan “Amal Saja,” yang jika dilakukan tanpa iman, balasannya hanya diberikan di dunia. Ketika belajar menjadi Amal Saleh, Allah akan mengangkat derajat (darajāt) pelakunya, melipatgandakan pahalanya tanpa batas.

Dengan iman, tujuan belajar harus mencapai tingkat tafaqquh—belajar sampai paham, serius, dan mendalam, bukan sekadar selesai atau lulus. UAH merujuk pada Q.S. At-Taubah ayat 122, yang menyatakan bahwa orang beriman yang bersungguh-sungguh dalam mencapai tafaqquh fiddin (pemahaman agama yang mendalam) akan mendapatkan nilai yang setara dengan berjuang di medan jihad fi sabilillah.

Pilar kedua adalah menjadikan tempat menuntut ilmu sebagai Majelis. Secara bahasa, Majelis (jalasa) bermakna tempat berpindah dari posisi rendah ke tinggi. Oleh karena itu, sebuah sekolah, kampus, atau masjid yang dijadikan tempat belajar harus memiliki kurikulum dan suasana yang konsisten mengangkat derajat siswa, guru, dan pengelolanya agar semakin dekat dan kenal dengan Allah SWT.

Pilar ketiga berkaitan dengan adab, di mana proses belajar harus dilakukan dengan sikap sempurna. Merujuk pada Hadis Jibril, adab tersebut meliputi datang dengan penampilan yang rapi dan bersih, fokus pada tujuan (tidak terlihat bekas-bekas lelah atau mampir), dan duduk di saf terdepan untuk memastikan seluruh informasi diterima dan dipahami secara utuh.

Sebagai kunci untuk membuka pemahaman, Ustadz Adi Hidayat memberikan ijazah doa dari Imam Al-Bukhari yang diambil dari Q.S. Thaha ayat 114: “Rabbī Zidnī Ilmā”. Doa ini harus didukung dengan praktik takwa, terutama menjaga salat malam (tahajud). Menurut Q.S. Al-Baqarah ayat 282, “Wattaqullāh wa yu’allimukumullāh” (bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah yang akan mengajarkanmu), menjamin pelajar akan mendapatkan pemahaman dan pengajaran langsung dari sisi Allah.

Keseluruhan kurikulum ini menekankan bahwa ilmu dan iman adalah dwitunggal yang tak terpisahkan, sebuah konsep yang sebenarnya telah diamanatkan oleh Undang-Undang Sisdiknas Indonesia, yang mengedepankan peningkatan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia, sebelum aspek kecerdasan. Apabila metodologi ini diterapkan dalam setiap jenjang pendidikan—dari TK hingga perguruan tinggi—maka akan tercipta sumber daya manusia yang bukan hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki integritas dan keberkahan dalam amal perbuatannya, sehingga terhindar dari penyakit-penyakit sosial dan korupsi yang marak.

Oleh karena itu, pesan inti Ustadz Adi Hidayat adalah ajakan untuk bertransformasi. Bukan hanya institusi yang harus merevisi kurikulumnya, tetapi setiap individu—murid, guru, orang tua, dan pengelola—perlu merevitalisasi niat. Menuntut ilmu, menurut perspektif Nabawi, adalah sebuah investasi amal saleh yang hasilnya bukan sekadar ijazah atau kekayaan, melainkan jaminan diangkatnya derajat di sisi Allah dan dimudahkannya langkah menuju surga.

Sebagai penutup kajian yang singkat namun padat, Ustadz Adi Hidayat memberikan challenge kepada para jemaah untuk berupaya sungguh-sungguh agar dapat menjadi kader bangsa terbaik, yang kelak akan mendapatkan peluang beasiswa pendidikan ke luar negeri dengan modal utama: iman yang kokoh, ilmu yang tafaqquh, dan akhlak yang mulia. Dengan kembali pada kurikulum hidup inilah, umat diharapkan mampu menginspirasi dunia, persis seperti yang pernah dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in terdahulu.

Sumber: Tabligh Akbar Spesial Surabaya – Ustadz Adi Hidayat di Channel Youtube Adi Hidayat Official

E-Buletin