Awas, Pahala Ibadah Bisa Hangus Seketika Gara-Gara Penyakit Lisan Ini!

Ustadz Abu Aslam
Ustadz Abu Aslam

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Lisan merupakan salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia, namun sekaligus menjadi ujian yang paling tajam. Melalui lisan, seorang hamba dapat meraup pahala berlimpah lewat zikir dan perkataan baik, tetapi melalui lisan pula seluruh ganjaran kebaikan bisa lenyap seketika tanpa disadari. Pentingnya menjaga lidah dari perkataan dusta dan keji menjadi alarm keras bagi setiap muslim agar ibadah yang melelahkan tidak berakhir sia-sia di akhirat kelak.

Pesan mendalam ini mengemuka dalam kajian rutin Majelis Taklim Mar’atus Shalihah yang digelar di Masjid Taqwa Surabaya, pada hari Ahad, 17 Mei 2026. Menghadirkan narasumber Ustadz Abu Aslam, kajian sore tersebut mengupas tuntas kitab Mubthilatut A’mal (Penyebab Rusaknya Amal) karya Syekh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Secara khusus, pembahasan difokuskan pada pembatal amal nomor 15, yaitu bahaya berkata dusta dan beramal dengan kedustaan yang bersumber dari ketidakmampuan manusia dalam mengendalikan mulutnya.

Membuka pemaparannya, Ustadz Abu Aslam mengingatkan momentum penting pergantian waktu di mana kajian tersebut bertepatan dengan hari terakhir bulan Dzulqa’dah. Beliau mengajak jemaah bersiap menyambut bulan suci Dzulhijjah, yang termasuk dalam empat bulan haram yang dimuliakan Allah. Di bulan-bulan mulia ini, setiap amal saleh seperti puasa sunah akan dilipatgandakan pahalanya, namun sebaliknya, dosa yang diperbuat—termasuk dosa lisan—juga akan dihitung jauh lebih besar di sisi Allah SWT.

Landasan utama pembahasan pembatal amal ini merujuk pada hadits Shahih Bukhari nomor 1903. Rasulullah SAW secara tegas memperingatkan bahwa barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh terhadap usahanya dalam menahan rasa lapar dan dahaga. Hadits ini menjadi tamparan keras bagi orang yang berpuasa namun tetap membiarkan lidahnya tidak beretika.

Lebih lanjut, sang ustadz menjelaskan aspek fiqih dari hadits tersebut, di mana berkata dusta atau keji sebenarnya tidak membatalkan status puasa seseorang secara hukum. Kendati demikian, perbuatan tersebut merusak dan menghanguskan seluruh pahala puasa. Fenomena tragis ini selaras dengan sabda Nabi lainnya yang menyebutkan betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari jerih payahnya melainkan hanya rasa lapar melilit dan kehausan yang mencekik tenggorokan.

Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, Ustadz Abu Aslam menjabarkan empat cakupan makna dari kata Az-Zuur (dusta/keji) yang terdapat dalam hadits. Makna pertama adalah perkataan bohong secara umum. Makna kedua meliputi kalimat-kalimat yang mengandung kekufuran, seperti kebiasaan menyandarkan keselamatan atau kesembuhan mutlak kepada sebab makhluk (obat atau tindakan manusia) dan melupakan takdir serta rahmat Allah SWT.

Sementara itu, makna ketiga dari Az-Zuur adalah memberikan kesaksian palsu di ranah hukum atau pengadilan yang dapat menzalimi hak orang lain. Adapun makna keempat merupakan penyakit lisan yang paling subur di tengah masyarakat, yakni fitnah, ghibah (menggunjing), mencela, hingga melaknat sesama muslim. Keempat hal ini dikategorikan sebagai perusak amal yang bersumber langsung dari lisan.

Pentingnya menjaga lisan kemudian diperkuat dengan beberapa dalil syar’i, di antaranya Surah Qaf ayat 17-18. Ayat tersebut menegaskan bahwa tidak ada satu pun ucapan yang keluar dari mulut manusia melainkan dicatat secara jeli oleh malaikat pengawas yang berada di sisi kanan dan kirinya. Selain itu, Rasulullah SAW juga memberikan jaminan tertinggi berupa surga bagi siapa saja yang mampu menjaga dua perkara utama, yaitu lisan di antara kedua rahangnya serta kemaluan di antara kedua kakinya.

Masuk pada klasifikasi mendalam, dosa lisan dibagi menjadi beberapa kategori, dimulai dari dosa lisan yang berkaitan langsung dengan Allah SWT. Contoh pertamanya adalah mencela masa atau menganggap waktu-waktu tertentu sebagai hari sial (seperti mitos bulan Suro atau Selo). Perbuatan ini dilarang keras karena Allahlah pencipta dan pemilik waktu, sehingga mencela masa sama saja dengan mencaci maki Sang Pencipta.

Dosa lisan terhadap Allah berikutnya adalah bersumpah dengan nama selain Allah, yang secara hukum dihukumi sebagai perbuatan syirik kecil. Terakhir dalam kategori ini adalah menisbatkan turunnya hujan semata-mata karena ramalan cuaca atau pergeseran bintang, tanpa mengembalikannya sebagai bentuk rahmat dan kehendak mutlak Allah SWT. Kebiasaan lisan yang abai seperti ini dapat mengikis kemurnian tauhid seorang hamba.

Kategori kedua yang tidak kalah krusial adalah dosa lisan yang berkaitan dengan diri sendiri, salah satunya perilaku mujaharah atau membongkar aib sendiri. Seseorang yang melakukan maksiat di malam hari lalu Allah telah menutupi aibnya dengan rapi, namun di pagi hari ia justru membeberkan dosanya dengan bangga kepada temannya, maka dosanya tidak akan dimaafkan oleh Allah. Termasuk dalam kelompok ini adalah membeberkan rahasia ranjang suami-istri dan meratapi mayit secara histeris (niyahah).

Sebagai penutup, Ustadz Abu Aslam mengingatkan bahaya lisan lainnya terhadap diri sendiri, yaitu mengaku nasab palsu atau memalsukan garis keturunan (bin/binti) kepada selain ayah kandung. Ancaman bagi pelaku pemalsuan nasab ini sangat berat, yakni diharamkan mencium aroma surga yang padahal wanginya sudah tercium dari jarak perjalanan 70 tahun. Melalui kajian ini, jemaah diharapkan lebih mawas diri dalam berucap agar setiap lembaran amal ketaatan yang dibangun tidak lebur oleh ketajaman lidah sendiri.

Sumber: Kajian rutin Majelis Taklim Mar’atus Shalihah bersama Ustadz Abu Aslam di Masjid Taqwa Surabaya Pada Minggu, 17 Mei 2026.

E-Buletin