KabarMasjid.id, Surabaya – Kehidupan manusia adalah sebuah perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum kita menghirup udara di dunia. Dalam perspektif Islam, eksistensi kita telah dirancang sedemikian rupa melalui tahapan-tahapan yang sangat detail dan sarat akan makna spiritual. Memahami asal-usul penciptaan bukan sekadar mempelajari biologi, melainkan upaya untuk menyadari hakikat diri dan ketetapan Sang Pencipta yang menyertainya.
Kajian mendalam mengenai tema ini disampaikan oleh Ustadz Wafi Marzuqi Ammar, Lc, MA, Ph.D dalam sebuah majelis ilmu yang berlangsung di Masjid Al Falah Surabaya pada Sabtu, 11 April 2026. Dalam ceramah yang bertajuk “Tahapan Penciptaan Manusia dan Penetapan Takdir” ttersebut, beliau membedah Hadis ke-4 dari Kitab Arbain Nawawi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, yang memberikan gambaran tentang apa yang terjadi di dalam rahim seorang ibu.
Ustadz Wafi mengawali penjelasannya dengan menegaskan bahwa proses penciptaan manusia terbagi menjadi tiga fase utama yang masing-masing berlangsung selama 40 hari. Fase pertama adalah nutfah atau setetes air mani yang tersimpan dalam tempat yang kokoh. Selama 40 hari pertama ini, cikal bakal manusia mulai terbentuk di bawah pengawasan Allah SWT, menandakan awal mula kehidupan yang sangat rapuh namun terencana.
Setelah melewati 40 hari pertama, fase berikutnya adalah alaqah, yaitu segumpal darah. Ustadz Wafi menjelaskan bahwa secara harfiah alaqah berarti sesuatu yang menempel. Dalam durasi 40 hari kedua ini, janin berubah bentuk menjadi gumpalan darah yang melekat pada dinding rahim, sebuah proses yang secara menakjubkan telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadist jauh sebelum teknologi medis modern menemukannya.
Memasuki hari ke-81 hingga ke-120, janin berubah menjadi mudghah atau sepotong daging. Pada tahap 40 hari ketiga ini, struktur fisik manusia mulai terlihat meskipun masih sangat sederhana. Ustadz Wafi menekankan bahwa pada titik inilah kesempurnaan fisik mulai dibangun, sebelum akhirnya pada hari ke-120, Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalam tubuh janin tersebut.
Sesaat setelah roh ditiupkan, malaikat juga membawa perintah untuk menetapkan empat perkara yang akan menjadi garis hidup manusia di dunia. Keempat perkara tersebut meliputi rezeki, ajal, amal perbuatan, serta apakah orang tersebut nantinya akan menjadi golongan yang celaka atau bahagia. Penetapan ini menjadi bukti bahwa setiap manusia yang lahir ke dunia sudah memiliki porsi dan jalannya masing-masing.
Terkait masalah rezeki, narasumber menjelaskan bahwa ketetapan Allah adalah mutlak, namun rezeki tersebut bisa terhalang atau hilang akibat perbuatan maksiat manusia itu sendiri. Sebaliknya, ketaatan, istigfar, dan menjaga hubungan silaturahim dapat menjadi pintu-pintu pembuka keberkahan rezeki. Hal ini mengingatkan kita untuk tidak hanya bekerja keras secara fisik, tetapi juga melakukan upaya spiritual.
Bagian yang paling menggugah dalam kajian ini adalah penjelasan mengenai rahasia takdir dan akhir kehidupan atau khusnul khatimah. Ustadz Wafi mengutip hadis yang menyebutkan bahwa ada orang yang sepanjang hidupnya terlihat melakukan amalan penghuni surga, namun di akhir hayatnya justru melakukan amalan penghuni neraka, begitupun sebaliknya. Ini menjadi peringatan keras bagi setiap muslim untuk tidak merasa sombong dengan amalannya.
Beliau menjelaskan bahwa perbedaan antara penampakan lahiriah dan ketetapan akhir tersebut sering kali bersumber dari apa yang tersimpan di dalam hati atau niat. Seseorang mungkin terlihat saleh di mata manusia, namun jika hatinya menyimpan ketidakikhlasan atau penyakit hati, hal itu bisa merusak seluruh amalannya. Allah Maha Mengetahui apa yang dirahasiakan oleh hamba-Nya di dalam batin.
Oleh karena itu, Ustadz Wafi sangat menekankan pentingnya menjaga keikhlasan dalam setiap ibadah. Kita diajak untuk selalu berhusnuzan (berprasangka baik) kepada Allah bahwa Dia akan menetapkan kita sebagai penghuni surga, sembari terus berusaha memperbaiki kualitas batin kita. Jangan sampai amalan yang nampak hebat di mata manusia ternyata hampa di hadapan Allah karena salah niat.
Sebagai bekal praktis, Ustadz Wafi menganjurkan setiap muslim untuk memiliki khobiah, yaitu amalan rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali dirinya dan Allah. Amal simpanan ini, entah berupa sedekah sembunyi-sembunyi atau zikir di tengah malam, bisa menjadi pelindung dan penolong yang sangat mujarab di saat seseorang mengalami kesulitan besar atau kondisi yang terdesak.

Ustadz Wafi menutup kajian dengan memberikan pesan bahwa meskipun takdir adalah rahasia Allah, kita diberikan kehendak untuk memilih jalan kebaikan. Dengan memahami tahapan penciptaan dan ketetapan takdir, seorang mukmin seharusnya semakin tawaduk, giat beramal, dan terus menjaga kemurnian hatinya hingga ajal menjemput. Semoga setiap langkah kita senantiasa dibimbing menuju akhir yang baik dan bahagia di dunia maupun akhirat.
Sumber: Kajian Subuh Masjid Al Akbar Surabaya pada Sabtu, 11 April 2026 bersama Ustadz Wafi Marzuqi Ammar, Lc, MA, Ph.D d dengan tajuk “Tahapan Penciptaan Manusia dan Penetapan Takdir”