Kabarmasjid.id, Solo – Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perjalanan fisik dari Makkah ke Madinah, melainkan sebuah mahakarya strategi yang berkelindan dengan keteguhan iman. Dalam sebuah kajian mendalam yang diselenggarakan di Masjid Riyadh Solo, para jemaah diajak untuk menyelami kembali detik-detik krusial yang menentukan masa depan dakwah Islam tersebut melalui kacamata sejarah yang autentik.
Kajian rutin Majelis Salaf Rouhah Siang ini dilaksanakan pada Rabu, 11 Februari 2026, bertempat di Masjid Riyadh Solo dengan menghadirkan Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi. Dengan bersumber pada Kitab Nurul Yaqin fi Sirati Sayyidil Mursalin, beliau membedah secara rinci bab mengenai “Hijratul Mustofa” untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada masyarakat mengenai taktik dan perlindungan Allah selama perjalanan hijrah.
Di awal bahasan, Ustadz Ahmad menjelaskan situasi genting di Darun Nadwah, tempat kaum kafir Quraisy merancang konspirasi pembunuhan. Atas ide Abu Jahal, setiap suku mengirim pemuda terkuat untuk mengepung rumah Nabi. Tujuannya agar bani Abdu Manaf tidak mampu menuntut balas karena harus menghadapi tekanan kolektif dari seluruh suku Quraisy sekaligus.
Namun, rencana manusia tidak mampu melampaui ketetapan Allah. Rasulullah SAW diperintahkan untuk segera keluar rumah dan diberikan mukjizat berupa rasa kantuk yang luar biasa kepada para pengepungnya. Nabi melangkah keluar dengan tenang sembari menaburkan pasir di atas kepala mereka sambil membaca ayat suci Al-Qur’an, sehingga tak satu pun musuh yang menyadari keberadaan beliau.
Peran Sayidina Ali bin Abi Thalib menjadi sorotan utama dalam penjelasan selanjutnya. Beliau menunjukkan kesetiaan luar biasa dengan bersedia tidur di ranjang Nabi menggunakan selimut (burdah) Rasulullah. Keberanian ini adalah strategi tingkat tinggi untuk memberikan kesan bahwa Nabi masih berada di dalam rumah, sekaligus menjadi bentuk pengorbanan nyawa yang nyata dari Ali muda.
Strategi Nabi berlanjut dengan tidak langsung menuju Madinah, melainkan berbelok ke arah berlawanan menuju Gua Tsur. Langkah ini diambil karena Nabi sangat memahami pola pikir musuh; jalur utama menuju Madinah pasti akan menjadi sasaran pertama pengejaran. Di gua inilah, Nabi dan Sayidina Abu Bakar bersembunyi selama tiga hari untuk memantau situasi hingga keadaan dirasa lebih aman.
Ustadz Ahmad juga menekankan pentingnya dukungan keluarga (support system) dalam perjuangan ini. Seluruh keluarga Abu Bakar terlibat aktif; Abdullah bertugas memasok informasi intelijen dari Makkah, Asma menyiapkan perbekalan, hingga Amir bin Fuhairah yang menggembalakan kambing untuk menghapus jejak kaki agar tidak terlacak oleh para ahli pelacak Quraisy.
Momen paling mengharukan terjadi saat kaum musyrik telah berada tepat di depan mulut Gua Tsur. Sayidina Abu Bakar menangis bukan karena takut akan dirinya, melainkan khawatir akan keselamatan Rasulullah. Namun, dengan penuh ketenangan, Nabi berucap, “La Tahzan, Innallaha Ma’ana”—jangan bersedih, Allah bersama kita. Kalimat ini menunjukkan puncak tawakal setelah ikhtiar maksimal dilakukan.
Setelah tiga hari, perjalanan dilanjutkan melalui jalur pesisir yang tidak lazim dengan bantuan pemandu jalan profesional, Abdullah bin Uraiqat. Di tengah jalan, mereka sempat terkejar oleh Suraqah bin Malik yang tergiur hadiah 100 ekor unta. Namun, setiap kali Suraqah mendekat, kuda yang dikendarainya selalu terperosok ke dalam pasir secara ajaib hingga ia tersungkur berkali-kali.
Keajaiban tersebut membuat Suraqah sadar bahwa Nabi berada dalam lindungan Tuhan yang Maha Kuasa. Ia yang awalnya datang sebagai pemburu bayaran, justru berbalik menawarkan bantuan dan perbekalan. Hal ini membuktikan poin penting dalam kajian Ustadz Ahmad bahwa jika Allah berkehendak melindungi hamba-Nya, maka musuh yang paling benci sekalipun bisa berubah menjadi pelindung.
Kajian ditutup dengan gambaran suasana di Madinah, di mana penduduknya telah lama menanti dengan penuh rindu. Setiap hari mereka berkumpul di kawasan Al-Harrah, menatap cakrawala di bawah terik matahari demi menyambut kedatangan sang kekasih Allah. Hingga akhirnya, seorang Yahudi dari tempat tinggi berteriak mengabarkan kedatangan rombongan yang dinanti-nantikan tersebut.
Pesan moral yang ditekankan oleh Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi adalah keseimbangan antara usaha lahiriah dan batiniah. Rasulullah mengajarkan bahwa hijrah memerlukan perencanaan matang, pembagian tugas yang jelas, dan manajemen risiko yang baik. Namun, pada akhirnya, kemenangan dan ketenangan hanya bisa didapatkan melalui penyerahan diri yang total kepada Allah SWT.
Sumber: Majelis Salaf Rouhah Siang yang membahas Kitab Nurul Yaqin (Siroh Nabawiyah), bertempat di Masjid Riyadh Solo Bersama Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi