Kabarmasjid.id, Surabaya – Momen pergantian tahun baru Islam sering kali menjadi waktu yang tepat bagi umat Muslim untuk melakukan refleksi spiritual dan memperbarui arah hidup. Di tengah hiruk-pikuk pergantian tahun, esensi utama dari hijrah kerap kali terabaikan oleh rutinitas seremonial semata. Padahal, setiap detik yang berlalu membawa paket kebaikan sekaligus ujian baru yang menuntut kesiapan iman dan kelapangan dada untuk menerimanya.
Suasana reflektif tersebut tergambar jelas dalam Kajian Rutin Ahad Subuh yang berlangsung di Masjid Jendral Sudirman, Surabaya, pada Minggu, 14 Juni 2026, bersama narasumber KH. Abdul Muhtolib, Ketua Syuriyah Jatman Kota Surabaya sekaligus pengurus MUI Jawa Timur. Di hadapan ratusan jemaah yang memadati ruang utama masjid, Kiai Abdul Muhtolib mengajak umat Islam untuk bersiap menyongsong tahun baru 1448 Hijriah dengan optimisme tinggi. Beliau menekankan pentingnya membersihkan diri dari sisa khilaf di masa lalu sekaligus meluruskan berbagai miskonsepsi budaya yang masih melekat di masyarakat.
Dalam ceramahnya, Kiai Abdul Muhtolib menyoroti pentingnya menjaga kesinambungan doa di setiap fase pergantian waktu. Beliau mengingatkan bahwa pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka kalender, melainkan tanda dari kekuasaan Allah yang mengatur rotasi waktu dari detik menjadi menit, hingga menjelma menjadi tahun. Oleh karena itu, mengakhiri dan mengawali tahun dengan doa yang kuat merupakan benteng utama bagi setiap muslim agar senantiasa berada dalam lindungan-Nya.
Secara khusus, beliau menuntun jemaah untuk melafalkan sebuah doa ringkas yang bersumber dari petunjuk Rasulullah saw. Doa tersebut berbunyi: “Allahumma inni as’aluka khaira hadhihi-sanah wa khaira ma fiha, wa a’udhubika min syarri hadhihi-sanah wa syarri ma fiha.” Melalui untaian kalimat ini, seorang hamba memohon agar diberikan seluruh kebaikan yang telah Allah siapkan di tahun yang baru, sekaligus memohon perlindungan dari segala bentuk keburukan dan malapetaka.
Lebih lanjut, Kiai Abdul Muhtolib menjelaskan teologi di balik doa tersebut secara mendalam. Menurut beliau, Allah sudah pasti menurunkan paket kebaikan dan paket ujian di setiap tahun yang berjalan. Kebaikan yang diminta mencakup keberkahan untuk usaha, keharmonisan keluarga, kesehatan usia, hingga kemakmuran lingkungan tempat tinggal. Sebaliknya, perlindungan yang dimohonkan secara khusus ditujukan agar musibah tidak sampai merusak fondasi rumah tangga, karena ujian domestik adalah yang paling berat dirasakan oleh individu.
Di pertengahan kajian, sang kiai menyampaikan sebuah pandangan yang cukup menghentak kesadaran jemaah, yaitu mengenai konsep kebahagiaan. Beliau menyatakan bahwa orang hidup yang terus-menerus merasa susah dan merana sebenarnya sedang melakukan perbuatan dosa. Pandangan ini bukan tanpa dasar, melainkan sebuah refleksi dari mafhum mukhalafah atas limpahan nikmat Allah yang tiada tara di muka bumi.
Menjelaskan argumen tersebut, beliau merujuk pada pesan Al-Qur’an mengenai penciptaan langit, bumi, dan pergantian siang-malam yang sepenuhnya disediakan untuk manusia yang berpikir. Allah telah menggelar jutaan hektar tanah, lautan yang luas, serta udara bersih sebagai fasilitas hidup manusia. Menolak untuk bahagia dan terus mengeluh di tengah fasilitas Ilahi yang mahaluas ini dianggap sebagai bentuk kufur nikmat yang menjatuhkan seseorang ke dalam dosa.
Untuk menjaga agar hamba-Nya tidak jatuh ke dalam kubang kesusahan tersebut, Allah senantiasa mengingatkan manusia melalui ibadah salat. Kiai Abdul Muhtolib mengingatkan bahwa sebanyak lima kali dalam sehari semalam, suara azan berkumandang merayap ke telinga umat Muslim. Panggilan Hayya ‘alal falah secara harfiah merupakan ajakan langsung dari Sang Pencipta agar manusia bergerak menuju kemenangan dan kebahagiaan, meninggalkan segala beban kesedihan duniawi.
Melangkah pada pembahasan momentum bulan Muharram, beliau menekankan bahwa bulan pertama dalam kalender Hijriah ini adalah salah satu dari empat bulan mulia (Asyhurul Hurum). Amalan paling afdal yang bisa dilakukan sepanjang Muharram adalah memperbanyak puasa sunah. Keutamaan puasa di bulan ini sangat luar biasa, di mana puasa satu hari saja di bulan Muharram dapat melebur dosa-dosa yang telah diperbuat selama setahun penuh di tahun sebelumnya.
Secara khusus, beliau menganjurkan jemaah untuk menghidupkan puasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu’a) dan 10 Muharram (Asyura). Anjuran berpuasa pada tanggal 9 diniatkan sebagai pembeda dari tradisi kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10. Tanggal 10 Muharram sendiri merupakan hari yang sangat bersejarah karena menjadi saksi kemenangan dan keselamatan para nabi serta rasul utusan Allah.

Pada bagian akhir ceramah, Kiai Abdul Muhtolib meluruskan mitos budaya Jawa yang sering menganggap bulan Suro atau Muharram sebagai bulan keramat yang membawa sial. Beliau menegaskan bahwa anggapan dilarang menikah atau mengadakan hajatan di bulan Suro adalah kekeliruan dalam menafsirkan sejarah kuno. Memang benar ada tragedi dan kehancuran di bulan tersebut, namun kehancuran itu hanya menimpa kaum pembangkang seperti Firaun, Raja Namrud, dan Raja Abraha.
Bagi umat Islam, bulan Suro justru harus disambut dengan suka cita karena merupakan bulan keselamatan bagi Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Yunus. Beliau menutup kajian dengan pesan kuat agar masyarakat tidak lagi takut melangsungkan pernikahan atau bepergian di bulan Muharram. Semua hari dan bulan adalah baik, dan waktu terbaik untuk memulai sesuatu yang baik ada
lah saat kita memiliki niat yang tulus serta kesiapan yang matang.
Sumber: Kajian Rutin Ahad Subuh bersama KH. Abdul Muhtolib di Masjid Jendral Sudirman WPS pada, Minggu 14 Juni 2026.