Amalan Utama di Bulan Rajab: Menanam Benih Kebaikan Sebelum Panen di Bulan Ramadan

Ustadz M. Junaidi Sahal, M.Ag.
Ustadz M. Junaidi Sahal, M.Ag.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Memasuki bulan Rajab, suasana spiritual umat Islam mulai menghangat sebagai pertanda semakin dekatnya bulan suci Ramadan. Bulan ini bukan sekadar pergantian kalender, melainkan sebuah gerbang emas yang menuntut kesiapan batin dan fisik agar kita tidak kehilangan momentum kemuliaan saat puncak ibadah tiba nantinya.

Kajian mendalam mengenai urgensi memuliakan bulan Rajab ini disampaikan oleh Ustadz M. Junaidi Sahal, M.Ag. dalam sesi Kajian Subuh pada Sabtu 27 Desember 2025 yang bertempat di Masjid Al Falah Surabaya. Dalam ceramahnya, beliau menekankan bahwa Rajab adalah bagian dari syiar Allah yang harus diagungkan dengan penuh ketakwaan oleh setiap mukmin yang mengharapkan rida-Nya.

Ustadz Junaidi membuka penjelasannya dengan merujuk pada Surah Al-Hajj ayat 32, yang menegaskan bahwa menghormati syiar-syiar agama Allah adalah cerminan dari takwa yang bersemayam dalam hati. Beliau menjelaskan bahwa “syiar” atau sya’irah secara bahasa berarti tanda atau simbol yang ditetapkan langsung oleh Allah sebagai sarana bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Lebih lanjut, beliau membagi syiar Allah ke dalam empat kategori utama, yaitu kategori ibadah seperti salat dan haji, kategori tempat seperti masjid dan tanah suci, kategori binatang ternak yang dikurbankan, serta kategori waktu. Bulan Rajab masuk ke dalam kategori syiar waktu, di mana Allah secara khusus memilih bulan ini sebagai salah satu dari empat bulan yang diharamkan atau dimuliakan.

Dalam kalender Hijriah, dari dua belas bulan yang ada, terdapat enam bulan yang memiliki kedudukan sebagai syiar, yakni Ramadan, empat bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, Rajab), dan bulan Syakban. Keistimewaan bulan-bulan haram ini, menurut Ustadz Junaidi, terletak pada penghormatan manusia terhadap aturan Allah yang melarang segala bentuk kezaliman dan kemaksiatan di dalamnya.

Beliau menjelaskan filosofi di balik sebutan “bulan haram” bagi Rajab. Kata haram di sini bermakna mulia sekaligus terlarang; artinya, setiap dosa dan kezaliman yang dilakukan di bulan ini akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda beratnya. Sebaliknya, setiap amal saleh yang dikerjakan juga akan diganjar dengan pahala yang jauh lebih besar dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Mengutip pandangan Ibnu Abbas, Ustadz Junaidi mengingatkan agar kita memiliki rasa takut untuk berbuat dosa di waktu dan tempat yang mulia. Jika biasanya orang hanya fokus mengejar pahala saat berada di tanah suci atau bulan mulia, seharusnya mereka juga lebih waspada agar tidak tergelincir dalam maksiat, karena dampaknya yang jauh lebih destruktif bagi jiwa.

Poin krusial dalam kajian ini adalah perumpamaan Rajab sebagai “bulan menanam”. Beliau mengibaratkan proses spiritual setahun penuh seperti siklus pertanian: bulan Rajab adalah waktu untuk menanam benih dan membersihkan lahan dari benalu, Syakban adalah waktu untuk menyiram dan memberi pupuk, sedangkan Ramadan adalah waktu untuk memanen hasilnya.

Dengan demikian, bulan Rajab berfungsi sebagai masa pelatihan atau running bagi umat Islam. Ustadz Junaidi menekankan bahwa Ramadan bukanlah bulan untuk baru mulai berlatih ibadah, melainkan bulan untuk menikmati hasil latihan. Jika seseorang tidak mulai “memanaskan mesin” spiritualnya di bulan Rajab, maka ia kemungkinan besar akan merasa tersiksa dan berat saat menjalankan ibadah di bulan Ramadan.

Salah satu cara paling efektif untuk memuliakan bulan Rajab adalah dengan meminimalisir maksiat melalui ibadah puasa. Meski tidak ada perintah khusus untuk puasa Rajab sebulan penuh, beliau menyarankan agar kita merutinkan puasa Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh sebagai benteng diri. Puasa dianggap sebagai metode psikologis paling ampuh untuk meredam syahwat dan menjaga lisan serta anggota tubuh dari dosa.

Selain puasa, memperbanyak doa juga menjadi anjuran utama. Beliau menyebutkan pentingnya memohon keberkahan dengan doa yang sudah populer, yakni meminta agar diberkati di bulan Rajab dan Syakban serta disampaikan usia hingga bulan Ramadan. Doa ini adalah bentuk optimisme dan harapan agar kita diberikan kesempatan terbaik untuk beribadah secara maksimal di masa mendatang.

Sebagai penutup, Ustadz Junaidi mengajak jamaah untuk mulai “mempromosikan” suasana Ramadan di lingkungan keluarga sejak bulan Rajab ini. Beliau mengingatkan agar semangat menyambut Ramadan tidak kalah dengan iklan-iklan produk komersial di televisi. Persiapan mental yang matang sejak dini akan membantu setiap individu muslim meraih kemenangan sejati saat bulan suci itu benar-benar tiba.

Sumber: Kajian Sabtu Subuh Masjid Al Falah Surabaya, oleh Ustadz M. Junaidi Sahal, M.Ag denga Tema “MEMULIAKAN BULAN RAJAB”

E-Buletin