Amalan Bulan Rajab: Bacaan Istigfar dan Doa Khusus Sesuai Kitab Mafahim Yajib An Tushahhah

KH. Nur Hasanudin.
KH. Nur Hasanudin.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Malang – Memasuki bulan Rajab yang penuh kemuliaan, umat Muslim dianjurkan untuk mempertebal spiritualitas melalui berbagai amalan sunah. Rajab bukan sekadar pergantian kalender Hijriah, melainkan momentum emas untuk membersihkan jiwa sebelum memasuki Sya’ban dan Ramadan. Kajian rutin yang digelar di Masjid Agung Jami Malang pada Ahad malam (ba’da Maghrib) 21 Desember 2025 menjadi oase bagi jemaah untuk mendalami makna pembersihan diri tersebut melalui pembacaan kitab Mafahim Yajib An Tushahhah.

Acara ini menghadirkan KH. Nur Hasanudin sebagai narasumber utama. Bertempat di ruang utama Masjid Agung Jami Malang, kajian ini memfokuskan pembahasan pada amalan-amalan khusus bulan Rajab serta pentingnya meluruskan niat dalam beribadah. Beliau membuka majelis dengan mengajak jemaah melakukan nazar iktikaf agar setiap detik keberadaan mereka di masjid bernilai pahala yang sempurna di sisi Allah SWT.

KH. Nur Hasanudin menekankan bahwa bulan Rajab adalah waktu di mana kita harus memperbanyak istigfar. Salah satu amalan yang ditekankan adalah membaca “Rabbighfirli warhamni watub ‘alayya” sebanyak 70 kali setiap pagi dan sore sambil mengangkat kedua tangan. Menurut beliau, mengutip kitab Kanzun Najah Wasur, siapa pun yang mendawamkan bacaan ini dengan tulus akan dijauhkan oleh Allah dari pedihnya siksa api neraka.

Selain istigfar, beliau mengingatkan jemaah untuk terus melantunkan doa keberkahan umur di bulan Rajab dan Sya’ban. Namun, Kiai Nur menambahkan redaksi penting dalam doa tersebut, yaitu permohonan agar Allah memberikan bantuan (ma’unah) untuk bisa melaksanakan puasa dan qiyamullail dengan ringan. Beliau menjelaskan bahwa tanpa pertolongan Allah, ibadah yang tampak sederhana pun akan terasa sangat berat bagi hamba-Nya.

Dalam kajian tersebut, dijelaskan bahwa ada perbedaan besar antara hamba yang mengandalkan kekuatannya sendiri dengan hamba yang mengandalkan pertolongan Tuhan. Beliau memberi contoh konkret tentang seseorang yang tidur larut malam namun tetap bisa bangun qiyamullail karena sebelum tidur ia memohon bantuan Allah. Sebaliknya, mereka yang hanya mengandalkan jam tidur yang lama namun tanpa doa, seringkali justru merasa berat untuk sekadar beranjak dari tempat tidur.

KH. Nur Hasanudin juga mengutip ayat Al-Qur’an tentang ciri orang-orang mulia yang sedikit tidur di malam hari karena asyik bermunajat. Di waktu sahur atau menjelang subuh, mereka tidak menyia-nyiakan waktu dan justru memperbanyak istigfar kepada Allah. Beliau berpesan agar jemaah tidak melewatkan waktu emas ini meski hanya sempat membaca istigfar satu atau dua kali sebelum azan berkumandang.

Dahsyatnya kekuatan istigfar menjadi poin menarik selanjutnya dalam paparan Kiai Nur. Beliau menceritakan kisah legendaris Imam Hasan Al-Bashri yang memberikan jawaban seragam berupa “istigfar” untuk berbagai persoalan jemaahnya. Baik bagi mereka yang mengeluhkan dosa, kemarau panjang, rezeki yang seret, hingga mereka yang belum dikaruniai keturunan, kuncinya tetap satu: perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan kaitan antara istigfar dan selawat melalui sebuah perumpamaan yang indah. Istigfar diibaratkan sebagai proses mencuci pakaian yang kotor, sementara selawat adalah proses menyetrikanya agar rapi dan harum. Oleh karena itu, bulan Rajab disebut sebagai bulan istigfar, sebagai persiapan agar hati sudah dalam keadaan bersih saat memasuki bulan Sya’ban yang merupakan bulannya selawat.

Kajian ini juga menyinggung soal fleksibilitas dalam menjalankan ibadah puasa Rajab. Beliau menegaskan bahwa tidak ada larangan bagi siapa pun yang ingin berpuasa, baik itu tiga hari, tujuh hari, atau mengikuti pola puasa Senin-Kamis. Yang terpenting adalah niat yang tulus dan tidak menganggap beban ibadah tersebut sebagai sesuatu yang memberatkan.

Menariknya, KH. Nur Hasanudin juga mengajarkan cara meraih banyak pahala dalam waktu singkat melalui niat yang berlapis. Beliau mencontohkan bagaimana satu duduk di majelis taklim bisa mendapatkan lebih dari sepuluh pahala sekaligus jika diniatkan untuk iktikaf, silaturahim, menuntut ilmu, hingga membahagiakan hati Rasulullah. Niat-niat baik inilah yang akan melipatgandakan nilai amal di hadapan Allah SWT.

Di tengah suasana yang tenang, Kiai Nur mengajak jemaah untuk merenungkan jenis musibah yang paling berbahaya, yakni musibah agama. Beliau menjelaskan bahwa kehilangan harta atau kesehatan adalah musibah dunia yang masih bisa ditanggung, namun kehilangan semangat untuk beribadah adalah musibah akhirat yang sesungguhnya. Maka, hadir di majelis ilmu adalah salah satu cara untuk menjaga diri dari musibah agama tersebut.

Sebelum mengakhiri kajian, suasana berubah menjadi syahdu saat KH. Nur Hasanudin memimpin munajat “Ya Arhamar Rahimin”. Doa ini ditujukan secara khusus untuk memohon kelapangan bagi umat Islam yang sedang tertimpa berbagai kesulitan dan musibah di berbagai belahan dunia. Jemaah tampak khusyuk mengikuti lantunan doa yang mengharapkan kedamaian dan pertolongan bagi sesama saudara Muslim.

Kajian rutin ini ditutup dengan doa keselamatan bagi para guru, orang tua, dan seluruh jemaah yang hadir agar senantiasa diberikan keistiqamahan. Melalui kitab Mafahim Yajib An Tushahhah, jemaah diajak untuk terus meluruskan pemahaman keagamaan agar ibadah yang dilakukan sejalan dengan tuntunan para ulama salaf. Pesan utama yang dibawa pulang adalah bahwa bulan Rajab adalah garis start untuk maraton ibadah menuju puncak kemenangan di bulan suci Ramadan.

Sumber: Kajian Rutin Ahad Ba’da Maghrib di Masjid Agung Jami Malang yang membahas Kitab Mafahim Yajib An Tushahhah bersama KH. Nur Hasanudin.

E-Buletin