Air Mata Rahmat: Meneladani Rasulullah SAW dalam Menghadapi Musibah

Drs. KH. Abdullah Bahreisy
Drs. KH. Abdullah Bahreisy

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Menghadapi kehilangan atau musibah sering kali menjadi ujian terberat bagi keteguhan iman seseorang. Dalam suasana yang penuh haru, Drs. KH. Abdullah Bahreisy menyampaikan kajian kitab Shahih Bukhari Muslim pada Senin, 13 April 2026, bertempat di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya, yang mengupas tuntas bagaimana tuntunan Rasulullah SAW dalam menyikapi kedukaan agar tetap bernilai ibadah.

Dalam pemaparannya, Kyai Abdullah menekankan bahwa menangis saat tertimpa musibah atau kematian bukanlah tanda lemahnya iman atau sikap cengeng. Beliau menceritakan bagaimana Rasulullah SAW sendiri meneteskan air mata saat putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia, serta ketika menjenguk sahabat Saad bin Ubadah yang sedang pingsan karena sakit.

Tetesan air mata yang mengalir dari mata seorang mukmin dijelaskan sebagai tanda adanya rahmat atau rasa kasih sayang di dalam hati. Islam tidak melarang rasa sedih yang manusiawi, karena perasaan tersebut merupakan fitrah yang diletakkan Allah dalam jiwa manusia sebagai bentuk empati dan cinta kepada keluarga maupun sesama.

Meski air mata diperbolehkan, beliau mengingatkan dengan tegas bahwa ada batasan yang tidak boleh dilanggar, yaitu menjaga lisan. Hal yang mendatangkan murka Allah bukanlah tangisan mata atau kesedihan hati, melainkan ucapan mulut yang mengeluarkan kalimat-kalimat protes, makian, atau sikap yang menunjukkan ketidakterimaan terhadap takdir.

Sikap terbaik saat menghadapi ujian adalah segera mengembalikan segala urusan kepada Sang Pencipta dengan mengucapkan kalimat istirja’. Kesadaran bahwa diri kita dan segala yang kita miliki, mulai dari anak hingga harta, hanyalah titipan sementara akan membantu seseorang untuk lebih ikhlas ketika titipan tersebut diambil kembali oleh Pemilik-Nya.

Puncak dari kesabaran adalah saat musibah itu pertama kali datang atau yang dikenal dengan istilah ash-shadmatul ula. Sabar yang dilakukan sejak detik pertama kejadian memiliki nilai yang jauh lebih tinggi di sisi Allah dibandingkan kesabaran yang muncul setelah perasaan sedih mulai mereda atau waktu sudah berlalu lama.

Bagi mereka yang mampu menjaga kesabaran dan keridhaan di saat-saat sulit, Allah menjanjikan balasan yang luar biasa di hari kiamat. Kyai Abdullah menjelaskan bahwa orang-orang yang ahli sabar dalam menghadapi ujian hidup akan dipanggil secara khusus untuk memasuki surga secara langsung tanpa harus melewati proses hisab yang panjang.

Kajian ini juga memberikan penghiburan mendalam bagi orang tua yang kehilangan anak di usia kecil. Anak-anak tersebut digambarkan sebagai investasi akhirat yang paling berharga, karena mereka akan menunggu orang tuanya di pintu surga sambil membawa minuman dari telaga al-Kautsar yang mampu menghilangkan dahaga untuk selama-lamanya.

Ridha terhadap ketetapan Allah merupakan kunci utama untuk menaikkan derajat seorang hamba. Setiap rasa sakit, suhu tubuh yang panas, hingga kesedihan yang mendalam merupakan cara Allah untuk menggugurkan dosa-dosa dan membersihkan jiwa manusia agar kembali kepada-Nya dalam keadaan yang fitrah.

Sebaliknya, sikap mengeluh dan kemarahan terhadap takdir hanya akan menambah beban penderitaan tanpa mengubah keadaan. Beliau mengingatkan bahwa jika seseorang tidak bisa bersabar atas ujian-Nya dan tidak ridha atas ketetapan-Nya, maka orang tersebut seolah-olah diperintahkan untuk mencari Tuhan selain Allah.

Di bagian akhir, jamaah diingatkan untuk tidak mudah menghakimi keadaan orang lain hanya dari tampak luarnya saja melalui kisah Sultan Murad dan seorang waliullah. Kisah tersebut menjadi pengingat agar kita selalu berprasangka baik (husnuzan) dan tidak mudah menyebarkan fitnah terhadap sesama Muslim yang tampak buruk di mata manusia.

Melalui kajian ini Kyai Abddullah  mengajak jamaah untuk terus belajar dan mengaji agar memiliki “ilmu sabar” yang kokoh. Hidup adalah proses belajar tanpa henti untuk menerima setiap nikmat dan ujian dengan sikap yang diridhai Allah, hingga tiba saatnya kita kembali kepada-Nya sebagai hamba yang tenang.

Sumber: Kajian kitab Shahih Bukhari Muslim Bersama Drs. KH. Abdullah Bahreisy di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya pada Senin, 13 April 2026

E-Buletin